Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 05


__ADS_3

Aurel merasa geram, menerima telpon dari sahabatnya Anzel,. Setelah sambungan terputus, Aurel menghampiri sang suami lalu menjewer telinga sang suami.. "Aauuuu, auuuuh, sayang sakit. Apa yang kau lakukan.? Tolong lepaskan.?" Tanya Dewa sambil merasakan sakit di telinga nya.


"Kenapa kau melakukan itu pada Anzel..?" Tanya Aurel yang masih setia menjewer kuping sang suami..


"Ouh, itu. Auuh, tunggu lepas dulu sayang. Baru aku akan menceritakan semuanya." Ucap Dewa, lalu Aurel melepas jeweran nya di kuping sang suami.


"Jelaskan, kenapa kau lakukan itu..?" Tanya Aurel kembali..


"Itu karna Mey menelpon ku. Dia memohon padaku." Ucap Dewa sambil menunduk. Karna takut kepada sang istri.


"Terus, kau tahu apa yang terjadi antara mereka karna ulah mu..?"


"Itu, mereka tidak jadi itu itu..." Ucap Dewa.


"Iya, dan karna kamu, Anzel tidak jadi menjebolkan gawang Mey.. Dan karna kau melakukan kesalahan yang sangat fatal, malam ini kau harus tidur di luar. Jangan tidur di sini." Ucap Aurel sambil menarik lengan sang suami, untuk segerah turun dari tempat tidur..


"Sayang, sayang jangan. Aku tidak ingin tidur berpisah dengan mu." Ucap Dewa memohon.


"Ini hukuman untuk orang, yang berani membuat sahabat ku gagal di malam pertamanya."


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Pagi harinya.. Di meja makan, di rumah besar Anzel. Hanya ada keheningan di antara Mey dan Anzel yang sedang melakukan sarapan pagi., Yang terdengar hanya suara sendok yang menyentuh dasaran piring.. Kedua nya saling diam.. Mey sesekali melirik sahabat sekaligus suaminya.. Dalam hati Mey berucap. "Apakah aku harus menyerahkan hal yang paling berharga ini, untuk Anzel."


"Iya, itu wajib, dan sangat wajib." Ucap Anzel, yang seakan tahu dengan apa yang Mey pikirkan.


"Wa-aajib apa nya.?' Tanya Mey terbata.


"Kau pikirkan sendiri." Ucap Anzel lalu berdiri dari duduknya, dan melangkah kan kaki..


"Anzel tunggu." Panggil Mey, namun Anzel tetap saja terus berjalan.. "Anzel,." Panggil nya lagi.


"Hey, kau marah.?" Tanya Mey sambil menarik lengan Anzel.. Namun Anzel hanya terdiam, tidak mengindahkan pertanyaan Mey.


"Maaf,. Aku janji mulai saat ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik,." Ucap Mey.


"Terus...???" Ucap Anzel.


"Terus, aku janji tidak akan menghabiskan uang lagi untuk hal yang tidak penting ."


"Terus...?" Ucap Anzel lagi, namun Mey nampak bingung, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Kau juga wajib, memberikan itu pada suamimu." Goda Anzel pada Mey, dan Mey hanya terdiam dengan wajah yang merona menahan malu.. "Kenapa diam, ayo lakukan tugas mu sekarang.?" Ucap Anzel..

__ADS_1


"Tidak. Ini masih pagi Anzel. Aku tidak ingin melakukan itu dulu." Tolak Mey, Lalu Anzel tertawa, dan mencubit hidung Mey.


"Buang jauh-jauh pikiran kotor mu itu. Siapa yang meminta itu di pagi hari. Aku hanya meminta agar kau memberiku ucapan semangat, biar aku semangat kerja nya di kantor, agar kamu bisa dengan puas menghabiskan uang." Jelas Anzel, dan lagi lagi Mey harus menahan malu.


"Bodoh, kenapa otak ku jadi mesum sepagi ini." Batin Mey.


"Ayo katakan, jangan cuman melamun."


"Yang semangat kerja yah Anzel. Jangan lupa bawa uang yang banyak." Ucap Mey sambil tersenyum..


"No Anzel, tapi suamiku." Tolak Anzel.


"Ha....????"


"Ia, sekarang kau harus memanggilku suami, bukan Anzel, karna aku tidak suka." Titah Anzel.


"Tapi......"


"Aku tidak suka di penolakan." Ucap Anzel, lau mencium pipi Mey,. Mey yang mendapat ciuman untuk pertama kalinya dari sahabat sekaligus suaminya hanya bisa diam mematung.


"Aku pamit dulu. Baik baik di rumah, jangan keluar tanpa izin dariku." Ucap Anzel lalu berjalan meninggalkan Mey yang masih diam mematung..

__ADS_1


__ADS_2