Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
63


__ADS_3

Di dalam sebuah cafe,. Aurel sedang tertawa di hadapan Fahmi.. "Aurel kenapa kau tertawa.?"


"Hahahah Fahmi kau sangat lucu, bagaimana bisa kau ingin memintaku untuk mempertemukan mu dengan Azel."


"Ayolah sayang, bukan kah kita berdua saling menyanyangi.? Dan hanya Anzel sahabat mu lah yang bisa menolong perusahaan ku kali ini.." Ucapnya memohon.


"Astaga si pria gila ini, ingin sekali ku jambak rambutnya dan mencakar cakar wajahnya." Batin Aurel.


"Siapa bilang aku menyanyangi mu.? Mungkin hanya kau saja yang menyanyangiku. Ahhh, tidak salah kau mungkin hanya mendekatiku untuk meminta bantuan agar perusahaan mu tidak jatuh kan..? Ia kan..?"


"Aurel kenapa kau berucap seperti itu.?"


Plakkkkkkkkk... Satu tamparan mendarat di pipi Fahmi.. "Ingat Fahmi, karna mu lah keluarga ku hancur.."


"Apa maksud mu syg.? Sungguh aku tidak mengerti.." Ucapnya dengan polos..


"Tidak usah bersandiwara di hadapan ku.. Aku muak melihat wajah mu itu.. Aku bukan lah Aurel yang dulu yg semuda itu kau bohongi.. Dan ingat jangan harap Anzel akan membantu mu."


"Aurel dengar dulu penjelasan ku.. Aku lakukan itu, karna aku tidak ingin kehilangan dirimu.. Ayolah percaya padaku Aurel.."

__ADS_1


"Percaya padamu, sama hal nya percaya dengan film kartun.. Kau terlalu norak menjadi laki laki. Dasar sampah." Ucap Aurel lalu berdiri dari duduk nya dan melangkah, namun langkah nya terhenti kala Fahmi berucap.


"Setidaknya sifatku dan Dewa tidak jauh berbeda."


Aurel kembali melangkah menuju Fahmi dan membuat Fahmi tersenyum.. Tanpa di duga Aurel menyiramkan air ke kepala Fahmi.


"Setidaknya Dewa jauh berbeda dari dirimu. Dia lebih memilih tetap dengan satu hati tidak seperti dirimu yang memilih harta dari pada hati."


"Ouh ya satu lagi, jika kau ingin perusahaan mu kembali maju. Bersujud lah di kaki Dewa. Akui semua kesalahan mu.." Ucap Aurel dan berlalu meninggalkan Fahmi..


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Aku hanya muak melihat nya yang terus saja berpura pura di hadapanku.. Padahal sebenarnya aku sudah ingin memaafkan nya. Tapi tiba tiba dia menaikkan tanduk iblisku kala meminta ku untuk membantu nya. Dia pikir aku ini siapa.."


"Hahahah kau memang hebat.. Tapi bdw, bagaimana sekarang tentang hubungan mu dengan Dewa.?"


"Jangan bahas itu.. Aku juga belum bisa berpikir jernih. Di satu sisi aku memang masih mencintainya tapi melihat wajah Dewa kembali mengingat kan ku pada kejadian itu.."


"Baiklah kalau begitu. Sekarang kita berbelanja."

__ADS_1


"Ouh ya Mey, bagaimana hubungan mu dengan Anzel.? Jadi kapan kalian akan menikah.?"


"Hhhmmm itu.. Aurel sebagai sahabat belum pernah kan aku meminta padamu"


"Iya."


"Kalau begitu Aurel aku mohon. Tolong bujuk Anzel agar membatalkan ini semua. Aku belum siap Rel untuk menjadi istrinya.. Aku terlalu kaku jika nanti nya akan mengahadinya sebagai suami.."


"Baiklah akan ku bicarakan dengan Anzel.."


"Serius Rel.. Makasih kau memang sahabat terbaikku."


"Akan ku bicarakan dengan Anzel, agar pernikahan kalian di percepat. Bukan nya di batalkan." Ucap Aurel sambil terseyum bahagai,.


"Aurellllllll." Teriak Mey..


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Sedangkan sekarang Fahmi merasa sangat frustasi. Bagaimana tidak, usahanya untuk bertemu dengan Anzel semuanya berantakan. Dan Aurel memintanya untuk berlutut memohon kepada Dewa.. Itu sama halnya jika ia ingin mencari mati.. Karna Dewa pasti tidak akan segan segan kepada perusahaan nya jika ia tahu semuanya.. Bagikan buah simalakama, maju salah mundur salah.. Jalan di tempat pun salah.. Dan kini penyesalan hanya tinggal penyesalan saja.. Harus pasrah dengan keadaan perusahaan nya yang kini sedang di ujung jurang kebangkrutan..

__ADS_1


__ADS_2