Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
86


__ADS_3

Mey terus saja mondar mandir seperti sebuah strika yang meluruskan pakaian kusut.. Niat nya yang ingin pergi berbelanja dengan sahabat nya Aurel, harus pupus karna Aurel sedang merasa tidak enak badan.. Dan yang membuat Mey terlihat seperti setrika, yaitu memikirkan ucapan sahabatnya di ponsel tadi..


"Sampai kapan kau ingin menjadi seperti ini Mey,. Kau ingat Anzel adalah pria yang kaya dan juga mapan, semua wanita tergila gila padanya. Kau ingin wanita di luar sana merebut sahabat sekaligus suamimu itu." Ucapan Aurel tadi yg terus saja tergiang di telinga Mey..


Apalagi saat ini Anzel sedang pergi bekerja, karna ada sesuatu hal penting yang harus di selesaikan di kantor, tanpa boleh di tunda.


Mey menggigit bibir bawahnya sambil meremas ponselnya.. Ia ingin menghubungi Anzel, namun egonya menahan untuk tidak menelpon suaminya


Tapi pikiran nya tentang perkataan Aurel, sangat menghantui nya.. "Ahhhccchhh, Aurel kenala sih kamu harus berkata seperti itu." Ucap Mey sambil meremas wajahnya..


"Tidak, tidak ada yang boleh mengambil Anzel dariku.. Cukup aku dan Aurel saja yang menjadi sahabatnya, tidak boleh ada yang lain." Ucapnya nya penuh khawatir dan langsung menghubungi Anzel.


Beberapa kali menghubungi ponsel Anzel, namun Anzel tidak menjawab, dan lagi lagi membuat Mey merasa tidak karuan..Beberapa saat kemudian ponsel Mey berdering, ternyata Anzel lah yang menghubunginya..


"Kanapa...?" Tanya Anzel, saat panggilan terhubung..


"Dimana...?" Tanya Aurel balik tanpa mejawan pertanyaan Anzel.


"Di kantor. Kenapa..?"


"Kenapa tidak menjawab panggilan ku ?"


"Karna tadi aku sedang meeting. Kenapa..?"


"Sama siapa..?" Tanya Mey kembali.


"Ya, sama client.. Kamu kenapa sih Mey..?? Ngak jelas banget "

__ADS_1


"Cewek atau cowok client nya..?"


Anzel tersenyum mendengar pertanyaan Mey,. Dan memulai menggombal Mey.


"Cewek.. Dia sangat cantik dan masih muda. Kenapa memang..?" Padahal yang tadi sedang meeting bersamanya seorang pria, hanya saja Anzel ingin membuat Mey cemburu..


"Berapa banyak nilai proyek mu bersama wanita itu ?"


"Sanga banyak..


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya batal kan semua proyek mu bersama wanita itu.. Tidak ada alasan dan tidak ada pertanyaan, titik.."


"Apa kau cemburu..?"


"Tidak ada pertanyaan."


"Apa kau cemburu..?"


"Baiklah, sepertinya aku harus bertemu dengan clienr itu dulu untuk membatalkan nya.."


"Bagus.. Dimana kau akan bertemu dengan nya..?"


"Mungkin di restauran untuk makan siang bersama.."


"Sharelock,. Aku akan menemanimu menemui client itu." Ucap Mey lalu memutuskan panggilan nya..


"Hahahah kau masuk perangkap, akhirya aku bisa mengajak mu makan siang di luar." Gumam Anzel.

__ADS_1


"Bodoh, bodoh. Kenapa aku harus seperti ini.. Anzel pasti berpikir jika aku sedang cemburu." Gumam Mey..


Beberapa saat kemudian terdengar notif pesan masuk ke hp Mey yang ternyata dari Anzel.


"Aku batal makan di luar, karna client wanita itu ingin makan siang di ruangan ku.. Jadi cepat lah ke sini sebelum dia merayuku di dalam ruangan ini." Isi pesan Anzel..


Tidak menunggu waktu lama lagi, Mey langsung mengganti pakaian nya dan melajut ke perusahaan milik sahabatnya..


saat telah sampai di loby, semua pegawai yang ada di situ, menunduk melihat kedatangan nyonya besar.. Ya, mereka semua sudah tahu, jika Mey adalah istri dari presdir perusahaan mereka..


Asisten Anzel telah berada di loby, dan menuntu Mey agar segerah ke ruangan Anzel.


"Permisi nyonya, kita lewat lift ini." Ucap Roy asisten Anzel.


"Ouh ya, makasih." Ucap Mey sambil tersenyum..


Di dalam lift. Roy terus menunduk, sehingga membuat Mey risih akan hal itu.. "Ayolah Roy, jangan terlalu kaku seperti itu. Berbicara santailah seperti dulu, saat aku datang ke kantor ini.." Ucap Mey sambil memukul bahu Roy


"Maaf nyonya, dulu dan sekarang berbeda.. Dulu anda sahabat tuan, tapi sekarang anda istri tuan Anzel."


"Astaga,. Terserah kamu saja.. Ouh ya apa sekretaris wanita itu masih bekerja di sini..?"


"Maksud nyonya, indah..?"


"Ouh jadi nama nya indah." Batin Mey.. "Apa dia masih menjadi sekretaris Anzel..?"


"Iya nyonya."

__ADS_1


"Tolong kau pindah kan dia ke ruangan lain dan carikan Anzel sekretaris pria. Ingat pria, bukan wanita.. Dan jangan tanya Anzel jika aku yang memerintahkan mu."


"Baik nyonya."


__ADS_2