
Pagi hari nya, Mey yang memang sengaja bangun lebuh awal, langsung melangkah kan kaki nya menuju dapur untuk menyiapkan sarapan kepada suaminya Anzel dan ini Mey lakukan untuk pertama kalinya semenjak menikah bersama dengan Anzel.. Bibi yang sedang berada di dapur di buat heran saat melihat sang nyonya yang sudah berada di dapur sepagi ini..
"Maaf nyonya, apa nyonya membutuhkan sesuatu..??" Tanya bibi..
"Bi, tolong bantu aku untuk menyiapkan bahan bahan keperluan memasak ku.. Hari ini aku ingin memasak untuk suamiku." Ucap Mey..
"Nyonya biar saya saja yang melakukan nya.."
"Tidak bi. Mulai sekarang aku akan mengambil alih memasak untuk suamiku. Jadi bibi hanya tidak usah memasak lagi." Jelas Mey.
"Tapi nyonya, nanti tuan marah. Dulu tuan pernah berpesan, kalau nyonya tidak boleh kerja apa pun di rumah ini, cukup diam saja, karna ada kami ara pelayan yang akan bekerja nyonya."
"Tidak bi. Untuk makanan, biar aku yang memasak untuk suamiku, dan pekerjaan yang lainnya bibi dan para pelanyan yang lain yang kerjakan."
"Baik nyonya."
Setelah beberapa saat berada di dapur, akhirnya sarapan untuk Anzel pun telah siap. Mey yang berhasil memasak untuk pertama kalinya, langsung tersenyum puas melihat karya nya tertata rapi di sebuah piring.. Setelah menyiapkan sarapan Anzel di meja, kini Mey kembali melangkah kan kaki nya berjalan menaiki anak tangga, menuju kamar, berniat untuk menyiapkan segala sesuatu kebutuhan sang suami.
__ADS_1
Ceklek.. Bunyi suara pintu yang Mey buka..
Mey berjalam masuk ke dalam kamar dan berhenti tepat di sampin tempat tidur.. Mey menatap wajah Anzel yang masih tertidur dengan pulas nya..
"Ganteng." Batin Mey saat melihat wajah Anzel.
"Kenapa aku baru sadar kalau kamu cakep yah.. Kemarin kemarin kok aku lihat kamu biasa biasa saja.. Ahhh, kok aku sekarang takut lihat wajah kamu yang cakep seperti ini.. Tidak, tidak. Penampilan mu harus ku ubah, biar tidak ada perempuan di luar sana yang mendekat padamu. Kau sahabat ku sekaligus suamiku. Hanya aku yang bisa memilikimu.." Gumam Mey yang begitu sangat panjang..
Saat Anzel mulai menggeliatkan tubuhnya dan mulai membuka mata secara perlahan, Mey langsung segera sadar dari lamunan nya.. Namun Mey langsung kaget kala Anzel menarik lengan nya dan membuat Mey terjatuh tepat di atas dada Anzel.. Mata mereka saling mengunci, menatap satu sama lain nya..
"Sempurnah." Batin Mey,.
"Puas apa.?" Tanya Mey yang masih setia berada di atas tubuh Anzel.
"Sudah puas menatap wajah tampan milik suami mu ini..??" Tanya Anzel kembali.
Bukkkkk, Mey memukul lengan Anzel, lalu memperbaiki posisinya untuk berdiri.. "Mana ada tampan, yang ada muka bantal, ayo cepat bangun, mandi dan pergi bekerja." Ucap Mey,.
__ADS_1
"Cieee, yang udah perhatian sepagi ini. Tumben banget sih, kamu nyuruh aku untuk mandi.." Goda Anze sambil berdiri..
"Kenapa, apa ada yang salah..??" Tanya Mey.
"Hhhmmm tidak ada sih. Cuman aku heran aja,."
"Ahh sudah ngak usah banyak ngomong.. Ayo celat pergi mandi setelah itu kita kebawa sarapan bersama." Ucap Mey sambil mendorong tubuh Anzel dari arah belakang, menuju kamar mandi..
Saat Anzel berada di kamar mandi, Mey langsung dengan sigap menyiapkan setelan kerja untuk sang suami.. Beberapa saat di kamar mandi, Anzel teriak memanggil nama Mey.
"Mey..." Teriak Anzel..
"Iya ada apa..? Jangan teriak dong,."
"Handuk ku mana..? Masa iya aku keluar kamar mandi harus telanjang sih .?" Ucap Anzel sambil mengintipkan kepalanga di pintu kamar mandi..
"Tunggu tunggu, jangan keluar dulu, aku mau ambil handuk.." Ucap Mey panik..
__ADS_1
Anzel yang melihat Mey seperti itu, langsung tertawa..
"Haahahahah, ayoo cepat, sebelum aku keluar dari sini." Goda Anzel.