
Setelah Anzel berangkat pergi ke perusahaan nya. Mey langsung berjalan masuk ke dalam kamar, dan meraih ponsel nya lalu menghubungi sang sahabat. Siapa lagi jika bukan Aurel mommy nya Junior.
"Halo Rel." Sapa Mey
"Ada apa.?" Tanya Aurel.
"Rey, aku mau minta permintaan boleh yah yah yah.?" Bujuk Mey.
"Kamu ngidam.? Mau minta apa.?" Tanya Aurel.
"Iya Rel, aku ngidam. Pengen lihat asisten Dewa Az.."
"Haaa...???" Heran Aurel.
"Jangan salah paham Rel. Ingat yah Anzel tetap no satu yang terganteng dan terbaik sepanjang masa."
"Terus, kenapa kamu mau melihat asisten Az.?" Tanya Aurel..
"Hhhmm ,gini yah aku udah agak bosan lihat Roy yang berkicau terus seperti seekor burung. Aku pengen yang adem adem tenang, kaya asisten Az gitu. Aku pengen itu anak ku kaya asisten Az, yang tenang dan adem. Ngak kaya sih Roy, yang kalau ngomong tanpa pikir, keluar aja semuanya." Jelas Mey.
"Ouh.. Kalau begitu minta aja Mey sama Anzel kan gampang."
__ADS_1
"Ngak mau Rel, aku udah minta tapi Anzel ngak mau, dia bilang ini permintaan yang ngak masuk akal." Keluh Mey
"Baiklah nanti akan ku coba tanya kan pada suamiku."
"Ehhh jangan di tanya, pasti dia bakalan nolak. Harusnya kamu kasi perintah. Kan Dewa bakalan nurut apa semua katamu. Yah Rel, mau yah, ini demi anak aku loh.."
"Iya deh, iya. Tapi aku ngak tanggung jawab yah, kalau seandainya asisten Anzel kenapa napa di tangan suamiku." Ucap Aurel.
"Iya, tenang aja. Asisten Anzel ngak akan marah selagi gajinya di doubel, haahahahha." Ucap Mey sambil tertawa.. "Yah sudah yah Rel, makasih loh atas bantuan nya. Byee." Pamit Mey.
πππππππ
"A-apa..??" Tanya Dewa tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan..
"Mulai besok, perintahkan Azraf untuk ke perusahaan Anzel, dan mulai besok Roy akan menjadi asisten mu." Pinta Aurel yang tak ingin terbantahkan.
"Baiklah sayang." Ucap Dewa pasrah.
Satu jam berlalu, tiba tiba pintu ruangan Dewa terbuka dengan sangat keras nya, membuat Dewa yang sedang duduk melamun di buat kaget..
"Kenapa kamu mengiyakan keinginan Aurel." Ucap Anzel yang baru saja masuk ke ruangan Dewa.
__ADS_1
"Apa maksud mu.?" Tanya Dewa.
"Huuuuffffff." Anzel menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya.. "Aku pusing tidak tau harus berkata apa lagi." Ucap nya kemudian, lalu duduk di sofa..
"Kau pusing, lebih lebih aku.." Jawab Dewa lalu juga ikut duduk di depan Anzel.
"Kenapa kita berdua harus mati kutu di hadapan istri istri kita yah.?" Tanya Anzel dengan nada yang pasrah.
"Itu karna kita berdua sama sama, mencintai istri kita."
"Cinta, cinta.. Aku sampe terlihat bodoh gara gara cinta ini." Keluh Anzel.
"Kau masih mending. Lah aku, bukan bodoh lagi, tapi udah kaya orang gila. Tidak lihat istriku saja sehari membuat kepala ku pusing.."
"Kita memang dua laki laki yang sudah di butakan oleh cinta. Tapi aku bersyukur karna kita mencintai orang yang tepat. Orang yang juga mencintai kita dengan tulus."
"Tunggu dulu. Karna kita bahas soal cinta. Apa kamu sudah pernah mendengar Mey mengucap cinta nya kepadamu.?" Tanya Dewa, ia ingin membuat Anzel semakin pusing.
"Belum." Lirih Anzel.
"Huahahahahah, parah juga itu sih Mey. Istriku mah tiap hari bilang cinta nya. Lah masa istrimu belum pernah.. Wahhh patut di pertanyakan itu cinta nya, apa kah benar ada nya atau hanya settingan saja."
__ADS_1
"Buuukkkkkhhh." Anzel melempar bantal tepa ke hadapan Dewa.