
Setiap hari Anzel terus saja memanjakan Mey, menuruti semua permintaan Mey, namun berbeda dengan pagi ini. Anzel bersikeras menolak permintaan Mey,. Bukan tidak sayang, hanya saja sungguh Anzel tidak bisa, karna menurutnya permintaan Mey kali ini sama sekali tidak masuk akal..
Mey terus saja mendiami Anzel, karan merasa kecewa dengan permintaan nya yang tidak di turuti dari Anzel..
Tidak ada kecupan pagi sebelum berangkat ke perusahaan membuat Anzel begitu tidak bersemangat. Roy yang melihat sang bos sudah seperti bunga yang layu, akhirnya mencoba memberani kan diri untuk bertanya..
"Tuan kenapa.? Apa ada masalah.?" Tanya Roy dengan jiwa keponya meronta ronta, seperti keponya reader. π€
"Ini semua karna kamu."Bentak Anzel membuat Roy kaget,.
"Kok karna saya sih tuan. Apa salah saya.?" Tanya Roy tidak terima,.
"Intinya ini karna kamu. Sekarang kamu diam tidak usah banyak bicara lagi. Dan keluar dari ruangan ku sekarang juga." Usir Anzel. Dan Roy pun keluar dengan secepat kilat,
Roy takut jika terus berada di dalam, bisa bisa gaji bulanan nya akan di potong. Lalu akan makan apa nanti anak nya kelak, kalau gaji nya di potong.. "Ada apa dengan tuan yah.?" Gumam Roy, penasaran.
Saat Roy sudah keluar dari ruangan Anzel, tiba tiba terdengar bunyi ponsel. Anzel yang mendengar ponselnya berdering langsung segerah meraihnya dan menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Iya ada apa.?" Tanya Anzel dengan lesu nya.
"Anzel, pokok nya aku tidak terima dengan semua ini.. Apa apa ini, pokoknya aku tidak setuju." Marah Dewa di seberang sana saat panggilan terhubung.
"Kau kira aku setuju haa...???" Bentak Anzel kembali.
"Pokoknya apa pun yang terjadi, aku ngak akan mau menjadikan sekretaris mulut tanoa filtermu itu menjadi sekretaris ku walau hanya sejam saja." Jelas Dewa.
"Kau kira aku juga ingin menjadikan sekretaris batu mu itu menjadi sekretarisku walau hanya semenit saja, ogah...." Balas Anzel juga..
"Okey, kalau begitu kau harus merayu istrimu supaya dia tidak ngidam yang aneh aneh seperti itu."
"Apa kau tidak memikirkan diriku ini. Bagaimana jadinya kalau asisten mu itu menjadi asisten ku juga.?"
"Aku malas memikirkan nya. Sudah dulu, aku lagi tidak ingin membahas ini." Ucap Anzel sambil memutuskan sambungan telponya..
ππππππππ
__ADS_1
"Anzel." Teriak Dewa memanggil Anzel.
"Iya tuan ada apa.?" Jawab Anzel cepat.
"Apa pun yang terjadi jangan pernah mau jadi asisten Anzel. Kau mengerti..???"
"Baik tuan."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadi nya diriku jika Roy menjadi asisten ku., Huuufff." Gumam Dewa sambil menghembuskan nafasnya.
"Mey juga, ada ada aja. Ngidam kok minta asinten ku dan asisten suaminya bertukar tempat.. Aneh banget deh, untung istriku tidak seperti itu." Ucap Dewa, lalu tidak lama kemuadia ponsel nya berdering..
Dengan cepat dengan menjawab panggilan nya karnaelihat ternyata yang menghubunginya adalah sang istri tercinta..
"Ada apa sayang." Ucap Dewa saat panggilan terhubung.
"Mulai besok, perintahkan Azraf untuk menjadi asisten Anzel, dan Roy mulai besok akan menjadi asisten mu."
__ADS_1
"A-apa..??" Tanya Dewa tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.