
"Kau tahu Mey, saat aku pacaran dengan Anzel, hampir tiap hari aku melalukan nya dengan Anzel. Kami selalu menikmati permainan kami yang begitu panas. Dan aku yakin kau pun pasti menikmati nya, karna Anzel adalah pemain yang sangat handal." Jelas Fadisah sambil tersenyum.
"Kau ingin buktinya.? Aku punya beberapa foto saat kami sedang berada di tempat tidur."
"Tidak usah memberikan ku bukti tentang semuanya, cukup kau simpan itu. Jadikan kenang kenangan mu,." Ucap Mey, namun Fadisah tetap meletakkan foto foto itu di atas meja..
Mey berdiri lalu meraih foto itu.
"Srek, srek, srek." Mey merobek foto itu dalam beberapa bagian lalu di buang di hadapan Fadisah..
"Aku tidak ingin tau tentang masa lalu kalian yang menurutku itu basi. Yang ku ingin ku tahu sekarang masa depan ku dengan suamiku, dan aku yakin kau begitu cemburu sehingga kau ingin merebut Anzel dariku, dengan berbagai cara yang selalu saja gagal." Ucap Mey, lalu berjalan membelakangi Fadisah..
"Kita lihat saja nanti, aku yakin Anzel akan meninggalkan mu." Teriak Fadisah, membuat Mey berhenti dan menoleh ke arah Fadisah.
"Kita lihat saja nanti. Aku yakin kau tidak akan bisa merebut Anzel dari ku." Ucap Mey lantang, dan kembali melanjutkan langkah nya.
Saat Mey hendak membuka pintu mobil, seseorang dari arah belakang menempelkan sapu tangan di wajah Mey, sehingga membuat Mey kehilangan kesadaran nya..
__ADS_1
ππππππππππ
Anzel merasa ada yang aneh dengan sang istri. Karna biasanya saat jam makan siang pasti ssang istri selalu menelpon nya untuk mengingatkan makan. Tapi kali ini, sudah lewat beberapa menit Mey pun belum menelpon sama sekali. Sehongga membuat Anzel untuk berinisiatif menelpon terlebih dahulu.
Beberapa kali Anzel menghubungi sang istri namun hasil nya nihil.. Ponsel Mey sama sekali tidak aktif. Sehingga membuat Anzel menghubungi telepon rumah.
Khawatir, ini lah yang sekarang Anzel rasakan. Karna mendengar penjelasan bibi tadi, jika Mey pergi setelah dirinya pergi bekerja tadi.. "Sayang, kau dimana.?" Gumam Anzel.
Roy yang melihat tuan nya seperti gelisah, mencoba membuka suara. "Apa tuan ada masalah.?" Tanya Roy.
"Roy, istriku tidak ada di rumah, dan ponselnya pun tidak aktif. Apa yang harus ku lakukan sekarang.?" Tanya Anzel.
"Sudah, tapi Aurel tidak bersama dengan Mey saat ini."
"Bibit." Ucap singkat Roy.
"Apa maksud mu Roy.?"
__ADS_1
"Aku yakin saat ini nyonya sedang bersama bibit pelakor itu. Bibit yang ingin merebut tuan dari nyonya." Jelas Roy
"Tapi kenapa ponselnya tidak aktif..? Atau jangan jangan Fadisah melakukan sesuatu kepada Mey."
"Tuan tenang saja, aku yakin saat ini Fadisah lah yang hancur di tangan nyonya. Nyonya wanita yang kuat jadi tidak semuda itu menjatuhkan nyonya."
"Semoga saja." Ucap Anzel, lalu meraih ponselnya dan menghubungi Dewa..
"Ada apa.?" Tanya Dewa di seberang sana saat sambungan terhubung..
"Tolong bantu aku."
"Ada apa.. Tumben lagi kau meminta bantuan ky."
"Mey mungkin pergi menemui Fadisah, wanita bibit itu. Dan saat ini ponsel Mey tidak aktif. Aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya, kau tahu sendiri kan jika bibit itu sangat kejam,."
"Baiklah, tunggu aku. Aku akan ke perusahaan mu sekarang." Jelas Dewa lalu mematikan sambungan nya..
__ADS_1
Semoga suka. Jangan lupa like dan komen yah, kesanyangan autor semuaπ₯°π₯°π₯°
Autor udah khilaf loh UP 2 eps hari iniπ€π€π€