
Anzel langsung spontan mengusap dadanya, karna merasa kaget akibat bunyi suara toples yang pecah, karna di lempar oleh Mey. Sedangkan Mey, dia hanya duduk santai, tapi raut wajahnya menandakan bahwa saat ini dia sedang marah, atau mungkin sedang cemburu..
"Mey, kau kenapa.? Apa ada masalah dengan toples itu.." Tanya Anzel.
"Ya, aku benci melihat toples itu. Toples itu merusak penglihatan ku, karna tepat berada di hadapan ku.."
"Maksud kamu.? Bagaimana bisa toples bisa merusak penglihatan mu." Tanya Anzel kemudian..
"Intinya, siapa pun yang ada di depan ku dan menghalangiku, maka siap-siap dia akan hancur di tangan ku sendiri. Terlebih lagi jika dia berani mengambil milik ku." Ucap Mey, lalu berdiri dari posisi duduknya..
"Mau kemana..?" Tanya Anzel, yang juga ikut berdiri.
"Ingat jangan macam macam, dan putuskan kontrak kerja itu sekarang juga. Kalau tidak maka perusahaan ini, bangunan nya akan rata, serata tanah." Ancam Mey, kemudian berjalan keluar dari ruangan Anzel, tanpa menoleh sedikit pun.
"Mey, Mey,. Mau kemana.? Kita belum melalukan makan siang." Teriak Anzel, namun tak di gubris sama sekali oleh Mey..
Roy yang berdiri tepat di depan pintu ruangan Anzel, hanya bisa melotot tidak percaya, melihat sang istri tuannya seperti itu.. Baru kali ini Roy, melihat seorang Anzel mendapat ancaman, dan yang paling parahnya lagi, tuan nya itu di ancam oleh seorang perempuan.. Yah Roy tau, meskipun Mey istri dari tuan nya. Tapi setidaknya ini sangat lucu menurut Roy..
"Ada apa..? Kenapa mematung di situ.?" Tanya Anzel yang melihat Roy terdiam.
"Maaf tuan, tadi saya hanya ingin memberikan ini." Ucap Roy sambil menyerahkan berkas dokumen.
"Di mana Indah., Suruh dia ke ruangan ku sekarang juga." Titah Anzel. Namun Roy masih tetap berdiri mematung, tidak mengindahkan perintah tuan nya.. "Kau kenapa Roy,.? Apa kau tidak mendengar ucapan ku..?"
"Itu tuan, maaf." Ucap Roy, sambil menggaruk kepalanya dan tidak gatal..
__ADS_1
"Kenapa..? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku..?"
"Itu tuan, anu."
"Katakan." Bentak Anzel, membuat Roy menjadi ketakutan.
"Itu tuan, maaf. Indah sekeretaris tuan sudah ku pindahkan ke ruangan lain." Jelas Roy, sambil menunduk, takut melihat wajah Anzel yang sedang marah..
"Sejak kapan..? Dan kenapa kau memindahkan Indah tanpa meminta persetujuan ku.." Bentak Anzel lagi.
"Maaf tuan. Baru saja, saya memindahkan Indah ke ruangan lain. Dan ini semua atas kemauan nyonya, istri anda tuan." Jelas Roy membuat Anzel terdiam lalu tersenyum.. "Apa tuan baik-baik saja.? Kok tiba tiba tuan tersenyum, kan tadi tuan sedang marah.?" Tanya Roy dengan polosnya..
"Roy, benar saja.. Saat ini Mey sedang cemburu pada semua wanita yang berada di sekitar ku. Dan itu artinya Mey, sudah mulai ada perasaan pada ku."
"Oh,, jadi tuan senang kalau istri tuan cemburu.?"
"Maaf tuan, tapi saya takut."
"Kau takut apa Roy.."
"Saya takut kalau sampai nyonya marah, dia akan meratakan perusahaan ini. Jadi saya akan menjadi seorang pengangguran tuan. Dan kalau itu terjadi, siapa yang akan memberi makan pada anak dan istriku." Jelas Roy, membuat Anzel menepuk jidat nya.
πππππππ
"Kenapa.? Kenapa wajah mu cemberut seperti itu sih..?" Tanya Aurel.
__ADS_1
Dan saat ini Mey sedang berada di rumah Aurel. Mey berniat untuk mengajak Aurel bershopping ria, ingin menghabiskan uang sahabat alias suaminya..
"Aku bete. Tolong temani aku untuk jalan-jalan. Tenang saja aku akan membelikan apa pun yang kau minta." Jelas Mey..
"Cieee, yang sudah jadi istri Ceo. Jadi sekarang bebas mau beli apa, dan mau traktir siapa." Goda Aurel..
"Hahahaha, kalau begitu ayo kita pergi. Aku ingin menghabiskan uang Anzel hari ini."
"Kau yakin bisa menghabiskan nya dalam sehari.?" Tanya Aurel.
"Yakin.. Jadi ayo temani aku."
"Iya, baiklah aku temani. Tapi tunggu dulu aku harus menelpon Dewa, biar dia tahu aku kemana dan sama siapa."
"Baiklah."
Beberapa saat kemudian. Mey dan Aurel sudah berada di salah satu mall terbesar di kota Jakarta.. Mey dan Aurel tidak menunggu waktu lama lagi, mereka berdua langsung menuju tempat penjualan tas branded..
"Aurel pilih saja. Apa pun yang aku pilih akan ku bayar, dan jangan malu untuk memilih."
"Hahah, ini kesempatan langkah, untuk apa aku malu." Ucap Aurel penuh dengan keyakinan..
Dan benar saja, Mey dan Aurel sampai lupa waktu karna keasyikan berbelanja..
Dan Anzel yang sedang berada di perusahaan, menatap heran pada ponsel miliknya.. Sedari tadi Anzel tidak fokus untuk bekerja, karna melihat notif hp nya yang terus saja berdering..
__ADS_1
Nah kan autor khilaf. Up 1 eps lagi malam ini. π€π€π€
Jangan lupa di like, dan komen yah, kesanyangan-kesanyangan autor tercintaπ₯°π₯°ππ