
"Roy." Teriak Dewa memanggil.
Roy yang mendengar namanya di panggil langsung segerah menghampiri.. "Iya tuan, ada apa?" Tanya Roy saat sudah mendekat.
"Roy, seperti nya istriku sudah ingin melahirkan, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Jelas Dewa panik.
"Tunggu tuan, tunggu, jangan panik." Ucap Roy, lalu meraih ponsel nya yang berada di saku.
Roy menelpon Mey, memberi kabar jika Aurel sudah merasakan mau melahirkan. Dan Roy meminta tolong kepada nyonya Mey agar menyiapkan tempat dirumah sakit. Setelah selesai menelpon Roy langsung menghampiri Dewa.. "Tuan tolong bawa nyonya ke mobil, aku akan menyuruh bibi menyiapkan segala sesuatu kebutuhan nyonya." Pinta Roy, dan Dewa pun menurut.
"Bibi." Panggil Roy..
"Iya tuan."
"Tolong siapkan semua kebutuhan bayi nyonya untuk di bawa ke rumah sakit." Ucap Roy, yang dengan tegas nya.
"Baik tuan."
Beberapa saat kemudian setelah semua perlengkapan telah siap kini Roy mendekat ke Junior dan menggendong tubuh Junior. "Ayo jagoan, kita akan pergi melihat adek bayimu" Ucap nya penuh dengan semangat..
"Let's go om." Ucap Junior bahagia..
__ADS_1
Di perjalanan. Roy nampak tenang mengendarai mobil, tidak seperti biasanya yang banyak omong, sedangkan Dewa, jangan di tanya lagi. Dia asli sangat panik. Apalagi jika Aurel tiba tiba merasa kan sakit, Dewa yang meneteskan air mata. Tetapi jika sakit yang Aurel rasakan tiba tiba menghilang Dewa malah ketawa, mengira dirinya sedang di kerjain oleh sang istri..
"Maaf tuan. Kalau boleh tau. Memang tuan kemana dulu saat tuan Juniorku lahir?" Tanya Roy.
"Roy." Ucap Aurel.
"Aku tidak ada di sisi istriku, karna saat itu aku melakukan kesalahan. Itu lah sebab nya aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Lirih Dewa.
"Maaf tuan jika aku membuat tuan mengingat masa yang kelam." Ucap Roy.
"Tidak apa apa Roy." Ucap Dewa.
"Tuan Junior apa kau tidak ingin berteman dengan anak ku?" Tanya Roy sambil menoleh ke sisi kursi di sebelahnya.
"Iya dong. Anak paman sangat pintar, dia sama seperti ku bisa di andalkan." Sombong Roy.
"Betulkan itu paman? Apa paman bisa membawa nya sesekali berkunjung ke rumah ku?"
"Bisa sekali." Jawab Roy singkat.
Dewa yang mendengar perbincangan antara Junior dan Roy, langsung bertanya pada Roy. "Ada juga yah perempuan yang mau sama kamu Roy.?"
__ADS_1
"Jelas tuan, buktinya aku sudah berhasil mencetak satu dari perempuan itu. Hahahahah" Ucap Roy sambil tertawa.
"Dih, aku kok ngebayangin kamu yang mulutnya kaya ibu ibu kompleks, kira kira nasib istri kamu di rumah bagaimana yah? Saat dengar kamu berkoceh."
"Istriku? Isriku justru sangat mencintaiku tuan. Dan dia sangat menyukai mulutku yang tanpa filter ini. Hahahah."
"Buukkkhhh." Dewa meninju lengak Roy dari arah belakang.
"Sayang jangan." Ucap Aurel.
"Tuan jangan membenciku,. Yang ada nanti anak tuan mirip dengan mulutku" Ucap Roy sambil tersenyum.
"Amit amit... Jangan sampe ya Allah, mulut anak ku seperti Roy yang terus saja berucap tanpa rem."
"Sayang jangan seperti itu." Ucap Aurel sambil menggenggam tangan Dewa..
"Auuuhhhhhh." Ringis Dewa karna Aurel mencakar tangan Dewa. "Sakit sayang, sakit." Ucap Dewa.
"Dih, istri yang mau melahirkan, tuan yang teriak sakit. Maaf tuan, apa ngak kebalik tuh?"
Coba kalian bayangkan, gimana jadinya jika anak Dewa dan Aurel yang ke dua ini mulutnya seoerti dengan Roy😅😅😅..
__ADS_1
Next Autor bakalan buat cerita tentang anak Anzel Dewa dan Roy. Tapi setelah novel ini Tamat yah.. Jadi tetap stay😉
semoga kalian syuka, jgn lupa like dan komen😙🤗🤗🤗