Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 10


__ADS_3

Sepulang dari perusahaan suaminya, Mey tidak langsung pulang kerumah. Mey justru mampir ke rumah sahabat nya Aurel, karna merasa rindu dengan Junior anak dari Aurel dan Dewa.. Saat mobil Mey telah sampai di parkiran rumah Aurel, dengan segera Mey melangkah kan kaki turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam rumah Aurel,..


"As'salamualaikum." Ucap Mey..


"Wa'alaikum salam Mey,." Jawab Aurel. "Kamu sama siapa Mey..???" Tanya Aurel, sambil cipika cipiki..


"Berdua." Ucap Mey..


"Sama Anzel, cieeeee..." Goda Aurel.


"Iya berdua, sama pak Tomo.." Ucap Mey, sambil tertawa..


"Astaga Mey, kirain kamu berdua sama Anzel, tau tau nya sama pak Tomo, supir kamu.." Ucap Aurel sambil memukul lengan Mey.. "Ouh yah bagaimana.? Apa sudah jebol..?"


"Jebol,..? Apa yang jebol, aku ngak ngerti maksud kamu." Tanya Mey, dengan polosnya.


"Astaga Mey, sunggu kamu sangat polos.. Yang kumaksud itu, apakah kamu sudah melakukan kewajiban mu di atas ranjang..??" Tanya Aurel..


"Hahahha Aurel apaan sih kamu ini.. Ouh yah di mana anak ku Junior, aku rindu padanya.."


"Jangan alihkan pembicaraan. Kita harus bahas ini, Dan jangan banyak alasan." Jelas Aurel..

__ADS_1


"Rel, tolong bahas yang lain saja yah, aku lagi ngak mode bahas masalah itu."


"Kamu mau Anzel jajan di luar sana..?? Kamu mau Anzel mencari kepuasan di luar sana..? Atau kamu mau Anzel pergi meninggalkan kamu, dan menemukan wanita di luar sana yang bisa melayaninya di tempat tidur..?" Jelas Aurel, membuat Mey, menutup kedua kuping nya dengan kedua tangan nya..


"Stoooopppp Aurel, tolong jangan katakan yang tidak tidak lagi." Ucap Aurel, menahan emosi nya jika membayangkan Anzel berselingkuh di belakang nya..


"Kenapa..?? Apa kamu cemburu, haa...??? "


"Tidak. Kau hanya tidak senang mendengar nya.. Mendengar tentang semua itu membuat ku marah."


"Itu artinya kau mencintai Anzel, Mey.. Cuman kau hanya gengsi dan malu mengakui perasaan mu itu." Ucap Aurel.


"Ya, kau mencintai Anzel, dan aku yakin kau saat ini sedang cemburu karna mendengar ucapan ku."


"Berarti kalau begitu aku cemburu pada Indah dan klien Anzel pada saat itu..?" Gumam Mey, yang masih terdengar oleh Aurel..


"Indah sekretaris Anzel itu.? Bukan kah dia sudah punya anak.? Kenapa harus cemburu pada nya..?"


"Kau tahu jika dia sudah mempunyai anak..?" Tanya Mey.. "Dan siapa yang memberi tahu mu.?"


"Suami mu lah, siapa lagi coba kalau bikan dia.."

__ADS_1


"Astaga, ." Ucap Mey sambil menepuk jidatnya.. "Bodoh kau Mey, bisa bisa nya aku cemburu pada Indah, ini semua salah Roy, yang tidak cerita semua nya..'


"Jadi kapan Mey..? Kapan kau akan memberikan hak nya Anzel.?"


"Aku tidak tau Rel, aku bingun dengan perasaan ku sendiri."


"Maksud mu.? Kenapa harus bingung..?"


"Aku masih fifti-fifti Rel,. Satu sisi aku begitu nyaman menjadi sahabat Anzel, dan satu sisi aku takut, jika aku menjadi kan Anzel suami ku seutuhnya, aku takut jika kehilangan seorang sahabat."


"Kenapa kau harus takut..? Bukan kah itu bagus, artinya kau punya sahabat sekaligus suami secaea bersamaan..."


"Entah lah Rel, intinya aku takut,. Takut kehilangan sosok sahabat."


Aurel meraih tangan Mey dan meletakkan tangan Mey ke atas perut Mey, yang sudah mulai membuncit karna kehamilan anak ke dua nya..


"Lihat lah, ini bukti cintaku antara Dewa dan aku.. Junior sudah ada dan tidak lama lagi, adik Junior juga akan lahir.. Dulu Dewa melakukan kesalahan, dan dari kesalahan ia belajar untuk tetap setia di sini, di sampingku bersama dengan Junior,.. Dan aku yakin Anzel tipe cowok yang juga seperti Dewa, yang selalu bertanggung jawab. Jadi tolong, jangan sia siakan sahabat kita.. Berikan yang terbaik untu Anzel.." Jelas Aurel..


"Akan kucoba.." Lirih Mey.


"Yakin lah, Anzel orang yang bertanggung jawab dan tidak akan meninggalkan mu.. Anzel sekali berucap, ia tidak akan menelan kembali ucapan nya."

__ADS_1


__ADS_2