
"Ceklek." Aurel membuka pintu. Dan betapa kaget nya Dewa saat............
Saat melihat Anzel dengan posisi yang duduk santai sambil menggendong bayi nya. "Tunggu, sejak kapan kau sadar?" Tanya Dewa menghampiri Anzel dan duduk tepat di samping Dewa.
"Apa maksud mu?"Jawab Anzel dengan sebuah pertanyaan.
Mey dan Aurel hanya tersenyum melihat suami suami mereka yang selalu saja bersitegang tentang hal sekecil apa pun.
"Selamat yah Mey. Kini kau sudah menjadi seorang ibu." Ucap Aurel sambil memeluk tubuh Mey dan setelah itu bercipika cipiki dengan Mey. "Ouh iya, bayi mu cewek apa cowok?" Tanya Aurel.
"Makasih yah atas ucapan nya. Alhamdulillah abyi ku cewek." Jelas Mey.
"Wahhhh, beruntung sekali kamu Mey. Akhirnya ada yang menemani mu nanti jika pergi shopping ke mall. Jadi kau tidak perlu lagi mengajak ku untuk menemani mu"
"Iya kau benar Rel. Tapi masih butuh waktu yang akan lama. Dan kau salah, aku akan tetap selalu mengajak mu jika ingin shopping."
"Hahah kamu yah Mey. Ouh iya siapa nama bayimu?"
__ADS_1
"Adistih Putri Anzel. Kau bisa memanggilnya Distih."
"Wahh, nama yang begitu bagus. Tunggu, anak ku pake nama Putra dan anak mu memakai nama Putri.. Wah kebetulan sekali yah."
"Ehhh iya Rel kebetulan sekali."
"Bagaimana kalau kelak jika mereka besar, kita menjodohkan keduanya." Pinta Aurel.
"Jodoh??? Ohhhhh tidak mungkin." Tangkas Dewa dengan sangat cepat nya.
"Kenapa sayang?? Bukan kah bagus, kita sudah mengenal kedua orang tuanya. Yang tak lain adalah sahabat ku."
"Hutttsss,." Ucap Anzel sambil meletakkan jari telunjukkan di depan bibirnya. "Tolong jangan berisik bayi ku sedang tertidur." Jelas Anzel sambil terus saja tersenyum menatap wajah mungil sang bayi.
Dewa menatap tidak suka pada Anzel. Karna baru kali ini dia dikalahkan oleh Anzel.. Khayalan Dewa yang tadi nya sebelum berangkat ke rumah sakit. Yaitu Anzel tergeletak pingsan dengan keadaan yang kacau balau akibat cakaran dari cengkraman Mey, dan rambut acak acakan karna di jambak oleh Mey. Namun semua itu hanya sebatas khayalan saja, karna nyatanya saat Dewa masuk ke kamar inap Mey, Anzel justru baik baik saja, penampilan yang sempurnah masih nampak di diri Anzel. Dan itu membuat Dewa tidak bisa menerima kenyataan nya. Karna memang niat Dewa ingin menertawakan Anzel namun semuanya hancur seketika.
"Kenapa??" Tanya Dewa.
__ADS_1
"Kenapa apa nya?" Ucap Anzel.
"Kenapa kau tidak pingsan saat menemani istri mu melahirkan?" Tanya Dewa lagi.
"Yah karna aku hebat lah dari kamu. Dan satu lagi karna aku sangat mencintai istriku jadi aku harus selalu ada untuk menemaninya dalam suka maupun duka. Ngak kaya kamu yang egois banget, masa ia istri melahirkan kamu justru tidur, upp bukan tidur tapi pingsan" Ejek Anzel..
"I-iitu karna aku takut darah."Ucap Dewa terbata. "Andai tidak ada darah pasti aku juga ngak akan pingsan."
"Dihh alasan. Bilang saja kalau kamu emang nagk terlalu sanyang dengan istrimu." Ejek kembali Anzel yang sengaja membuat Dewa panas.
"Siapa bilang? Aku sangat menyayangi istriku," Ucap Dewa. Lalu menoleh ke arah sang istri. "Iya kan sayang, aku sangat menyayangi mu."
Aurel lagi lagi hanya tersenyum melihat keduanya.. "Mey tunggu yah." Ucap Aurel.
"Mau kemana?" Tanya Mey.
"Aku ingin mengajak Roy dan Azraf ke sini, gabung bersama dengan kita."
__ADS_1
"Ouh iya baiklah."