
Dengan penuh semangat Dewa mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Di perjalanan Dewa terus saja tersenyum membayang kan yang terjadi padanya dulu kini terjadi pada Anzel. Aurel yang melihat sang suami yang begitu semangat dan terus saja tersenyum, hanya bisa menggelengkan kepala nya.. Sungguh sangat luar biasa tinghak sang suami yang menurutnya seperti kekanak-kanakan..
"Sayang, seperti nya sebentar lagi gigimu akan kering.!!" ucap Aurel.
"Kering? Kok bisa?" Tanya Dewa.
"Bisa lah, kan tertiup angin. Abisnya dari tadi kau terus saja tersenyum memamerkan gigimu. Apa kau tidak merasa capek?"
"Tidak. Ini kan latihan sayang karna nanti saat di rumah sakit aku yakin senyum ku akan berubah menjadi tawa yang sangat keras."
"Yakin?"
"Yakin lah, secara kan Anzel itu lembek."
"Aku sahabat Anzel dan aku tahu Anzel seperti apa."
"Iya kamu memang sahabat nya, tapi aku tahu kalau Anzel itu lemah, tidak bisa melihat istrinya kenapa-napa."
"Ouh yah???"
Setelah beberapa saat kini mobil yang Dewa kendarai telah tiba di rumah sakit, dengan segerah Dewa turun dari mobil dan berjalan memutari mobil membuka kan pintu mobil untuk sang istri tercinta.. "Ayo sayang." Ucap nya penuh dengan semangat.
__ADS_1
"Semangat sekali dirimu." Ucap Aurel.
"Jelas dong." Kini Dewa berjalan penuh dengan semangat ke ruang inap Mey, sangking semangat nya ia bahkan meninggal kan sang istri, dan dengan serius nya berjalam seorang diri, tanpa menggadeng tangan istrinya..
Lagi lagi Aurel hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang begitu sangat aneh. Entah kenapa Aurel merasa jika selama kehadiran Roy asisten Anzel di tengah tengah mereka membuat suasana menjadi lebih berwarna lagi..
"Tuan." Sapa Azraf dan Roy bersamaan.
"Dimana Anzel? Apa dia masih belum sadar?" Jawab Dewa sambil tersenyum membayang kan keadaan Anzel saat ini.
"Maaf tuan, apa tuan datanga seorang diri?" Tanya Roy.
"Tidak, aku beesama istriku." Jawab Dewa.
"Ini." Ucap Dewa sambil membalikkan badan nya ke kanan, kekiri dan kebelakang. "Tunggu, dimana istriku?" Tanya Dewa dengan bingung nya.
"Hahahah, kok tanya nya ke kita? Itu kan istri anda tuan." Tawa Roy.
"Roy." Bentak Dewa. Dan Azraf hanya tersenyum melihat keduan nya.
"Tunggu, aku serius. Di mana istriku?" Tanya nya lagi.
__ADS_1
"Aku di sini." Timpal Aurel sambil mendekat dan memberi cubitan tepat di perut Dewa.
"Auuuhhh, auuuhhh. Sakit sayang." Ringis Dewa sambil memengang tangan Aurel yang berada di perut nya.
"Apakah Anzel lebih penting dariku? Sehingga kau tega meninggalkan ku sendiri dan berjalan kesinj sendirian."
"Tidak, bukan begitu. Kau lebih penting, tapi untuk saat ini Anzel penting juga." Jelas Dewa. "Auuhhh, auuu, sakit sayang." Ringis Dewa kembali, karna Aurel menanbah keras cubitan nya.
"Hahahah, baru kali ini aku lihat ceo di cubit oleh sang istri." Ejek Roy.
"Diam Roy. " Bisik Azraf
"Roy, kalau kau tidak diam, maka gajimu akan ku potong bulan depan." Bentak Dewa.
"Maaf tuan, tapi seperti nya tuan lupa jika saya tidak bekerja dengan tuan lagi.."
Dewa menepuk jidat nya.. "Astaga kok aku lupa yah." Gumam nya.
"Ayo kita masuk.." Ajak Aurel saat cubitan nya sudah lepas di perut sang suami.
Dengan senyam senyum Dewa berjalan tepat di belakang sang istri.
__ADS_1
"Ceklek." Aurel membuka pintu. Dan betapa kaget nya Dewa saat............