
Mey melangkah kan kaki nya masuk ke dalam ruangan dengan wajah datarnya.. Sambil melihat kesana kemari,,. Anzel yang melihat tingkah Mey langsung bergumam dalam hati. "Pasti dia sedang mencari benda yang siap untuk di hancurkan, dan pertunjukan pun akan di mulai."
"Sayang." Ucap Mey, sambil berjalan ke arah Anzel dan tersenyum..
Anzel yang mendengar Mey memanggilnya sayang untuk yang pertama kalinya semenjak menikah langsung di buat heran, entah kenapa ada nuansa horor yang Anzel rasakan saat ini ๐ ๐ ๐ .. Mata Anzel seketika membulat, melihat ke arah Mey, tidak percaya dengan apa yang tadi ia dengar kan..
"Sayang. " Ucap Mey lagi, lalu duduk tepat di atas pangkuan Anzel..
Anzel langsung seketika menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan apa yang Mey lakukan saat ini. Tidak seperti biasanya..
"Kenapa ucapan ku tidak di jawab.?" Tanya Mey, yang kini sedang mengalungkan dua tangan nya di leher sang sahabat atau sang suami..
"Apa aku tidak salah dengar..?" Tanya Anzel dengan gugup.
Jujur Anzel lebih suka dengan sifat Mey, yang galak nya super luar biasa. Ketimbang lebay seperti ini.. Semenjak menjadi sahabat. Mey memeng terkenal dengan sifat tegas nya. Dan untuk pertama kalinya Anzel melihat sisi lembut Mey berbicara, terlebih lagi saat ini, Mey menyebut kata sayang kepada dirinya..
Entah kenapa, perasaan Anzel menjadi tak karuan. Jantung Anzel berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin kah Anzel sudah jatuh cinta..? Atau mungkin kah Anzel hanya merasa heran, hingga jantung nya berdetak kencang.? Ntah lah, hanya Anzel yang tahu itu..
Mey yang mendengar ucapa Anzel, hanya bisa tersenyum manis, sambil berucap. "Apa aku tidak boleh memanggil mu sayang.?" Tanya Mey, tanpa menjawa pertanyaan Anzel..
__ADS_1
Anzel yang mendapat pertanyaan, langsung salah tingkah. Ia tidak tahu harus menjawab apa..
"Sayang, kenapa kau diam saja.?" Tanya Mey kembali sambil memainkan dasi Anzel. Seolah olah ingin menggoda Anzel..
Roy yang melihat tuan dan nyonya nya, langsung menggelangkan kepala. "Astaga, ternyata ini yang pertunjukan yang tuan Anzel maksud.. Sungguh, membuat ku rindu dengan istriku." Batin Roy..
"Sayang." Ucap Mey lebih keras, sehingga membuat Anzel tersadar.
"Iya, ada apa Mey.?" Tanya Anzel.
"Ihhh, kok ada apa sih sayang. Kan tadi aku udah bilang, apa aku boleh memanggilmu sayang.?"
"Uhhhukkkkkk." Roy terbatu, kala melihat nyonya nya mencium tuan nya..
"Ada apa Roy..? Tanya Anzel dengan gugup.
"Tidak apa tuan.. Ouh iya tuan, ini toh yang tuan maksud dengan sebuah pertunjukan." Ucap Roy dengan polosnya..
Mey yang mendengar langsung menaikkan alisnya..
__ADS_1
"Roy, diam, hentikan." Ucap Anzel..
"Maaf tuan, tapi saya tidak bisa melihat pertunjukan ini.. Karna saya masih punya malu tuan." Ucap Roy.
"Apa maksudmu Roy.?" Tanya Mey.
"Itu nyonya. Tadi tuan menghitung satu sampai sepuluh dan tuan bilang akan ada pertunj......" Ucap Roy teputus kala Anzel berucap.
"Roy... Kembaki ke ruangan mu sekarang juga." Titah Anzel..
"Maaf tuan, dan nyonya. Kalau begitu saya permisi." Ucap Anzel sambil menundu, laly berjalan ke luar dari ruangan tuan Azel..
"Astaga, padahal ini masih pagi. Tapi mereka berdua benar-benar mesum. Bisa bisanya taun Anzel ingin memperlihatkan pertunjukan itu itu kepada ku. Apa mereka tidak malu..?" Batin Roy..
"Roy...." Panggil Mey secara halus, membuat Roy menghentikan langkah nya..
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu." Ucap Roy.
"Tunggu aku di ruangan mu. Ada hal yang akan ku selesai kan padamu." Ucap Mey dengan lembut sambil tersenyum.. Membuat Roy merinding Begitu pun Anzel, ia juga ikut merinding.
__ADS_1