Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
84


__ADS_3

Pagi harinya, Aurel yang masih merasa kurang sehat, masih saja terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.. Dewa yang sudah rapi dengan stelan jasnya yang ingin berniat ke kantor, langsung menatap kasihan pada sang istri.. Karna sudah seminggu lebih istrinya ini kurah sehat. Apalagi selama seminggu ini sang istri sangat sibuk membantu menyiapkan segala sesuatu untuk lernikahan sahabatnya..


"Sayang." Panggil Dewa yang duduk di bibir ranjang sambil mengusap rambut istrinya.


"Ya.."


"Masih sakit..? Kita ke dokter yah..?"


"Tidak usah sayang.. Aku hanya butuh istirahat." Jawabnya lesu.


"Sayang, atau jangan jangan kamu sedang hamil..?"


"Tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin..?"


"Yah karna tidak mungkin sayang. Ouh ya maaf yah sayang aku tidak bisa mengantarmu sampai di luar."


"Tidak apa, istirahatlah dengan baik. Aku akan menjaga Junior, dan membawanya ikut bekerja bersama ku.."


"Terima kasih sayang."


"Baiklah istirahat yang benar, jangan kemana mana. Ummcahhhhh." Ucap Dewa sambil mencium kening Aurel.. "Aku sangat mencintai mu." Ucapnya kemudian.


"Aku juga mencintai mu sayang." Balas Aurel..

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Anzel yang sedari tadi terbangun, hanya sibuk memandang wajah Mey, yang masih tidur terlelap.. Anzel tersenyum melihat wajah Mey yang tidur dengan pulasnya dengan mulut yang terbuka.. Dengan segerah Anzel meraih ponsel nya yang berada di atas nakas.. "Cekret Cekret.." Anzel berhasil memfoto wajah Mey, yang menurutnya itu sangat lucu..


Beberapa menit kemudian.. Saat Mey, menggeliat kan tubuhnya, dengan segerah Anzel menutup matanya, berpura pura untuk tertidur kembali.


Saat Mey membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat saat membuka mata, yaitu wajah tampan sang sahabat sekaligus suaminya.. "Tampan." Gumam nya, namum masih dapat Anzel dengar..


Anzel tertawa dalam hati mendengar ucapan Mey, yang memuja dirinya tampan..


Mey terus saja memandang wajah Anzel sampai Anzel membuat nya tersadar dari lamunan nya..


"Hhhhmm, apa aku begitu tampan sehingga kau menatap ku seperti itu..?" Tanya Anzel yang membuat Mey salah tingkah dan berusaha untuk bangun dari tidurnya, namum Anzel meraih tangan Mey sehingga jatuh tepat di atas dadanya..


"Aku tidak akan melepas sampai kau menjawab nya..


"Apa yang harus ku jawab."


"Apa aku begitu tampan sehingga kau melihat ku seperti itu .?"


"Hahaha, menurut ku kau tidak tampan.,Kau jelek. Jadi cepat lepaskan aku.."


"Tapi sepertinya tadi aku mendengar ada seseorang yang bilang jika diriku tampan." Ucap Anzel... "Aaachhhhhhhlkkkkk." Teriak Anzel kemudian, kala Mey menggigit dadanya dengan sangat keras.


"Itu hukuman untuk mu karna berani memeluk ku tanpa izin." Ucap Mey cuek lalu berlarih ke kamar mandi..

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Anzel rumah siapa ini..?" Tanya Mey, sambil takjub menatap seisi rumah yang begitu cantik..


"Bukan kah tadi malam sudah ku bilang jika kita akan tinggal di rumah baru. Dan ini dia rumah nya.."


"Tapi Anzel ini terlalu besar untuk kita berdua.. Bagaimana caranya aku membersihkan rumah sebesar ini..?"


"Kau tenang saja, cukup duduk cantik di rumah ini. Nanti akan ada pelayan yang akan membersikan dan melayani kita berdua.."


"Ahhh, benarkah...???"


"Yaaa.. Dan satu lagi kau harus ambil ini.." Anzel menyerahkan kartu black card nya.


"Ahhh Anzel kau sangat baik.." Ucap nya sambil mengambil black card nya.. "Aku sangat bahagia bisa punya sahabat seperti mu." Ucapnya tanpa sadar dan memeluk tubuh Anzel..


"Ya, aku juga bahagai bisa punya istri seperti dirimu." Ucap Anzel menyadarkan Mey.


"Maaf tadi aku refleks memelukmu." Ucap Mey saat melepas pelukannya..


"Tidak masalah.."


"Makasih yah Anzel, dan jangan marah jika aku menghabiskan uang mu." Teriak Mey, sambil berjalan menaiki tangga..


"Ya, habiskan saja sesuka hatimu. Tapi ingat kau harus memberikan itu padaku." Balas Anzel

__ADS_1


__ADS_2