Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
66


__ADS_3

Seperti yang Aurel duga. Dewa benar benar tertidur tepat di depan pintu kamar Junior.. Tanpa Dewa sadar, ternyata Aurel sudah berada di hadapan nya dan memandang wajah Dewa sambil membelai lembut pipi Dewa..


"Maafkan aku,. Aku mencintai mu, hanya saja aku belum siap untuk saat ini. Aku takut jika kau akan mengulangi hal yang sama lagi." Gumam nya sambil meneteskan air matanya.


"Aku harus, menetapkan dan menata hati ini,. Sampai siap menerima mu kembali. Kumohon kau bisa bersabar akan hal itu." Ucap Aurel sambil menyeka air matanya lalu menutup rapat kembali pintu kamar Junior..


Dewa membuka matanya kala menyadari Aurel sudah masuk kembali ke kamar sang anak.. Lagi lagi, hanya penyesalan yang saat ini Dewa rasakan.. Menyesal telah mengambil tindakan bodoh, yang hanya merusak hubungan nya dengan sang sitri tercinta..


Dewa yang bersandar di pintu kamar Junior, hanya bisa menangis pilu. Dan begitu pun dengan Aurel, ia juga bersandar di pintu kamar.. Hanya ada pintu yang membatasi mereka berdua..


Cinta...??? Cinta antara mereka berdua memang sangat lah besar. Hanya saja sudah ada dinding yang memisahkan mereka saat ini. Dinding yang Dewa bangun, di hati Aurel. Yang sangat susah untuk di runtuhkan.. Trauma, itulah dindingnya saat ini.. Trauma membuat Aurel yang masih setia menjaga jarak dengan Dewa. Trauma juga yang membuat Aurel masih enggan untuk memaafkan Dewa seutuhnya.. Dan ini lah yang membuat kedua nya saling tersiksa satu sama lainnya..


Saling mencintai, namun sangat sulit untuk bersama saat ini..


Malam ini. Malam yang dimana hanya di penuhi dengan tangis oleh sepasang kekasih.. Saling mencintai namun tak bisa saling memiliki.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚

__ADS_1


"Anzel ayolah.. Kau tidak bisa seperti ini.." Ucap Mey..


"Justru kau yang tidak boleh seperti ini Mey.. Intinya bulan depan orang tua ku akan datang menemui ibu. Untuk melamarmu."


"Anzel.. Tapi ini salah. Caramu menjagaku salah Anzel. Kau bisa menjaga ku tanpa harus menikahiku, seperti kau menjaga Aurel."


"Stop Mey. Tidak usah banya bicara lagi.."


"Jika kau menikahi ku. Lalu siapa yang akan menjaga Aurel dan Junior.?"


"Kenapa kau begitu bodoh.. Yah jelas saja ada Dewa yang akan menjaga mereka berdua."


"Hhhhmmmm" Jawab nya singkat..


"Hhhhmmm apa nya. Maksud ku kau harus jelaskan kenapa mengizinkan Dewa untuk kembali kepada Aurel,. Bukan kah kau sangat membenci Dewa.?"


"Karna mereka berdua saling mencintai. Lihat lah bagaimana Dewa memandang Aurel, dan Aurel memandang Dewa.. Terlihat jelas cinta dan rindu yang begitu besar dari keduanya. Dan cukup sudah aku memisahkan mereka berdua selama ini. Dan biarlah mereka sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri atau melanjutkan kembali kisah cinta mereka."

__ADS_1


"Waaaooo kau sungguh bijaksana sekali Anzel. Aku bangga mempunyai sahabat seperti dirimu."


"Ingat sahabat yang kau banggakan ini sebentar lagi akan menjadi suamimu." Goda Anzel..


"Anzel.." Teriak Mey.. "Anzel tunggu.." Teriak Mey kala Anzel berjalan meninggalkan nya..


"Anzel bukan kah kau menyatukan mereka karna melihat ada cinta dari mereka berdua.? Lalu kenapa kita berdua harus menikah bila tak ada cinta antara kita berdua.?" Tanya Mey. Dan Anzel menghentikan langkah nya mendengar pertanyaan Mey..


Anzel kembali berjalan ke arah Mey.. Lalu berkata. "Siapa bilang tidak ada cinta haaa...???? Jelas sekali aku mencintai mu dan kau mencintai ku walaupun hanya sebatas sahabat. Tapi aku yakin sewaktu waktu cinta itu akan berubah menjadi cinta antara pria dan wanita." Ucap Anzel lalu meraih tangan Mey.. "Ayo kita pulang, ibu pasti sudah menunggu mu."


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Terima kasih sekali atas doa kalian๐Ÿ™๐Ÿ™.. Otor sangat terharu, membaca comen ttg doa kalian๐Ÿฅบ๐Ÿฅฐ.. Otor tidak tahu lagi mau bilang apa.. Yang jelas terima kasih. Terima kasih, terima kasih ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Salam syg untuk kalian semua๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜..


Sambil nunggu Up. Yukk mampri di karya baruku lagi..

__ADS_1



Di tungguh yah๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2