
"Apa kau mencintaiku Mey.?" Tanya Anzel, membuat Mey terdiam..
Diam nya Mey, membuat Anzel kecewa, benar benar sangat kecewa.. Anzel tersenyum berlalu melangkah menjauh dari hadapan Mey. Mey yang melihat Anzel berjalan menjauh langsung menunduk.. "Aku tidak tahu dengan hatiku, dengan perasaan ku padamu.. Aku tidak tahu apakah ini cinta, atau hanya perasaan nyaman saja. Nyaman karna kau selalu baik padaku." Gumam Mey..
Anzel kini sedang berada di ruang kerja nya.. Duduk di kusri dan terus saja memikirkan tentang Mey, tentang diam nya Mey pada dirinya saat Anzel memberikan pertayaan tadi. Anzel merasa sakit, sakit yang amat begitu perih.. Baru sekali ia jatuh cinta, tapi cinta nya tak terbalaskan.. "Apakah cinta memang semenyakitkan ini.?" Ucap Anzel sambil mengacak rambutnya sendiri merasa sangat fruatasi.
"Apa yang harus kulakukan dengan hubungan ku ini.? Jika hanya aku yang mencintai, apa kah aku harus bertahan atau harus melepas.?" Batin Anzel. Lalu Anzel berjalan keluar dari ruangan nya dan menuju garasi..
Anzel mengendarai mobilnya, menuju rumah sang sahabat.. Anzel berniat menceritakan semua kisahnya dengan Mey kepada Aurel.. Karna hanya dengan itu Anzel bisa merasa senang.. Di jalan, Anzel terus saja masih memikirkan Mey, yang diam tanpa kata..
Beberapa saat kemudian. Kini mobil yang Anzel kendarai telah tiba di rumah Aurel sang sahabat.. Dan dengan segerah Anzel membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah Aurel.
"Assalamualaikum." Sapa Anzel.
"Wa'alaikum salam." Jawab bibi, art Aurel.. "Tuan Anzel, silahkan masuk."
"Baik bi, terima kasih." Ucap Anzel dan berlalu masuk ke dalam rumah..
Anzel langsung berjalan menuju taman belakang rumah Aurel,. Tapi sebelum itu Anzel berpesan pada bibi.."Bi, tolong katakan pada Aurel, jika aku menunggunya di taman."
"Baik tuan."
•••••••••••••
Taman belakang.
Aurel berjalan menghampiri sang sahabat yang duduk termenung di kursi taman.."Hey ada apa.?" Tanya Aurel sambil menepuk pundak Anzel. Anzel kaget langsung menoleh ke arah Aurel.
"Rel." Ucap Anzel.
"Aku tebak, pasti Mey lagi kan..?" Ucap Aurel dan Anzel menganggukkan kepala menandakan ia. "Kenapa lagi, ada apa lagi.?" Tanya Aurel kemudian.
__ADS_1
"Aku malu Rel, malu sama kamu."
"Terus kalau kamu malu, kenapa harus datang ke sini.? Ayo bicaralah, mungkin aku punya solusi untuk mu." Jelas Aurel.
"Rel, tadi aku tanya ke Mey, apakah dia mencintaiku.?"
"Terus, terus Mey jawab apa.?" Tanya Aurel penasaran..
"Mey diam tanpa kata, tanpa ekspresi sedikit pun. Aku malu Rel, malu sama diriku sendiri. Kenapa aku harus bertaya kepada Mey, jika aku tau jawabannya hanya diam saja."
"Hey kok malu. Jangan malu lah, Mey itu istri kamu. Jadi tidak seharus nya kamu malu di hadapan nya, apalagi jika hanya masalah seperti ini.."
"Apa yang harus aku lakukan untuk agar bisa membuat Mey mencintai ku." Tanya Anzel.
"Cukup jadi Anzel yanh seperti ini. Jangan pernah berubah sedikit pun. Aku yakin Mey juga sangat mencintai mu, hanya saja Mey masih bingung munkin dengan perasaan nya padamu."
"Semoga saja Mey benar benar mencintaiku.. Karna jujur aku takut kehilangan Mey, karna aku sudah terlanjut jatuh cinta pada nya,."
"Kau kebalikan dengan novel-novel di luar sana Zel." Timpal Dewa yang entah dari mana datang nya..
"Apa maksud mu.?" Tanya Anzel menoleh ke arah Dewa..
Dewa langsung duduk tepas di samping sang istri tercinta lalu tersenyum.. "Biasanya perempuan dulu yang jatuh cinta kepada suaminya, dan kamu..??? Hahaha, kok kamu yang jatuh cinta duluan sih.?"
"Entah lah.." Jawab Anzel singkat.
"Aku kasih trik yang jitu. Pasti akan berhasil." Jelas Dewa.
"Club malam lagi.? Apa kamu ngak kapok.?" Tanya Aurel dengan sinisnya.. Membuat Anzel dam Dewa tersenyum..
"Ngak lah sayang.."
__ADS_1
"Terus..???" Tanya Aurel penasaran.
"Buat istrimu bucin lah, kan biasanya suami yang bucin. Sekarang buat istri kamu bucin sebucin bucin nya sama dirimu Zel.."
"Kamu ngak lihat aku udah berpenampilan aneh waktu itu.. Kamu mau aku kaya gimana lagi,." Ucap Anzel.
"Berarti istri kamu Mey udah jatuh cinta sama kamu.. Kenapa kamu harus bertanya dan bersedih seperti itu..?" Tanya Dewa.
"Tapi Mey ngak bilang langsung Dewa."
"Apakah cinta membutuhkan ucapan.? Tanya Dewa membuat Anzel terdiam..
"Cinta hanya butuh bukti, bukan ucapan. Banyak orang di luar sana selalu bilang cinta, tapi ngak mau membuktikan nya. Nah istrimu beda, dia ngak bilang cinta, tapi perbuatan nya membuktikan kalau dia mencintai mu Zel." Jelas Dewa membuat Anzel tersenyum.. "Gimana masuk akal kan omongan ku." Tanya Dewa kembali.
"Luar biasa suamiku ini.. Tumben kamu pintar sayang." Ucap Aurel.
sambil menunggu UP yuk mampir dulu ke karya ku yang baru, di jamin asli seperti makan permen nano nano yang rasanya kaya gimana gitu..🤭🤭
..."MY HUSBAND IS MY BROTHER"...
Autor tunggu yah..😉
Dan mampir juga ke karyaku yg sudah tamat.
..."MENIKAHI PRIA KEJAM"...
..."POLISI AROGAN SUAMIKU"...
Siapkan tisu jika ingin membaca.
MAKASIH SEMUANYA😊😊
__ADS_1
berdoalah agar otor khilaf 2 bab lagi😅😅😅