
Tak terasa kini tujuh hati telah berlalu. Kini di rumah Anzel dan Mey akan di adakan nya acara syukuran hakikah untuk sang putri tercinta Distih. Semua keluarga berkumpul dan teman teman kantor pun berada di tempat ini. Tak ketinggalan pula Roy dan Azraf. Keduanya terlihat bersama namun berbeda, karna Roy turut serta membawa sang istri tercinta dan sang anak. Sedangkan Azraf jangan kan istri dan anak, pacar pun tak ada. Dan itu membuat Roy terus saja mengejek Azraf.
"Percuma kau gagah, punya uang banyak. Namun sayang pacar pun tak punya." Ledek Roy.
"Biarin." Jawab Azraf cuek.
"Jangan jangan punya mu sudah tidak berfungsi yah? Jadi kamu udah mati rasa gitu?"
"Sembarangan."
"Lah terus kalau ngak mati rasa, apa dong?" Tanya Roy sambil menyipitkan matanya dan tersenyum penuh arti.
"Karna belum menemukan yang pas."
"Ouh yah, aku sedikit mendengar kisah mu. Dulu kau sempat yah menyukai Yoona adiknya tuan dewa?" Ucap Roy namum Azraf hanya diam tidak ingin menjawab. "Atau mungkin ini alasan mu tidak ingin dekat lagi dengan wanita? Karna Yoona menolak mu?" Tanya Roy, dan lagi lagi Azraf diam.
"Diam mu artinya ia." Ucap Roy
"Kumat lagi mulutmu" Ucap Azraf.
"Tapi Az, gini yah. Harus nya kamu ngak kaya ginj. Menutup diri karna pernah merasa gagal. Harusnya itu yah, kamu ngak boleh di kalah sama om itu, siapa namanya?"
__ADS_1
"Siapa?"
"Suaminya Yoona, dia kan om."
"Wah kumat. Jangan sampe Yoona dengar bisa habis kamu."
"Ouh iya aku ingat. Adam, masa ia kamu mau di kalah sama om om. Kamu itu masih muda, harus nya bisa lebih gercep lagi dong."
"Stop Roy." Kata Azraf namun Roy tidak memedulikan nya.
"Tidak usah menyuruhku stop deh. Yang aku bilang ini serius, kamu jangan mau di kalah sama om om." Ucap Roy, dan seketika.."Auu, auu, sakit." Ucapnya sambil memengang telinganya.
"Anu nyonya itu." Bela Roy. Lalu berbisik ke arah Azraf. "Kenapa kau tidak bilang jika ada nyonya Yoona? Kau sengaja ingin melihat ku tersiksa?"
"Kan aku sudah bilang stop Roy, tapi dasar mulut mu saja yang ngak peka, dan mengomel terus."
"Jangan berbisik? Cepat katakan siapa yang kau bilang om om?" Tanya Yoona kembali dan belum melepas tangan nya di kuping Roy. Membuat Roy menahan sakit.
"Maaf nyonya, mungkin nyonya salah dengar"
"Kuping ku sangat sensitif jika menyangkut tetang kekuarga ku. Jadi jangan berbohong."
__ADS_1
Dari arah lain Dewa dan Anzel tertawa melihat Roy yang kini sedang menerima amukan dari Yoona.
"Sepertinya Roy mendapatkan lawan yang setimpal." Ucap Dewa
"Iya kau benar, dan lawan nya itu adik mu Yoona."
"Hahaha adik ku memang hebat." Ucap Dewa bangga.
"Siapa dulu dong, istriku." Timpal Adam.
"Iya istri bar bar mu. Yang sama dengan kelakuan nya Mey." Ucap Dewa.
"Dih, kok istriku kamu bawa bawa sih?" Tanya Anzel.
"Yah emang istri kalian berdua itu bar bar. Ngak kaya istriku yang jiwa nya seperti malaikat."
"Untung saja, andai Mey yanh jadi istrimu, mungkin saat ini kau sudah berada di bawah tanah akibat perbuatan mu dulu." Ucap Anzel mengingat kejadian di mana Dewa memukul istrinya dulu.
"Stop jangan di bahas lagi." Timpal Adam.
"Jangan mengingatkan ku pada kejadian kelam itu." Ucap Dewa
__ADS_1