Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 59


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti dengan bulan, tak terasa kini usia kandungan Mey memasuki bulan ke sembilan. Itu artinya tinggal menghitung hari lagi Mey akan melahirkan seorang bayi. Hubungan Mey dan Anzel selama ini sangat harmonis, tidam perna sedikit pun ada selisi paham di antara keduanya. Itu di karena kan sifat Anzel yang sangat dewasa dan memahami sang istri tercinta.. Perlahan Mey pun mulai terbiasa memanggil Anzel dengan sebutan sayang, membuat Anzel semakin jatuh cinta kepada sang istri.


Hubungan Aurel dan Dewa pun semakin harmonis, di tambah dengan kehadiran bayi kedua nya membuat rumah tangga mereka menjadi begitu sempurnah.. Kehadiran bayi kedua membuat Junior begitu sangat bahagia..


Roy dan Azraf pun sama. Kedua asisten ini sudah mulai terbiasa bersama, bahkan keduanya sering kompak mengerjakan tugas yang tuan nya berikan, kadang Az membantu Roy jika Roy sedang kesusahan mengerjakan tugas nya. Dan begitupun sebaliknya, kadang Roy membantu Azraf berlatih berbicara agar tidak terlalu kaku seperti manusia batu.. Tapi, tetap saja selalu ada perdebadan antara keduanya, jika Roy terlalu sering banyak bicara yang membuat kuping Azraf serasa panas akibat mendengar ocehan ocehan Roy yang tiada hentinya.. Hahaha begitulah yang terjadi anatara kedua manusia yang memiliki sifat saling bertolak belakang ini.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di rumah sakit.


Saat ini Mey sedang berada di salah satu kamar inap, Mey yang sudah merasakan sakit di perutnya langsung segerah di bawah oleh sang suami tercinta nya Anzel.. "Sayang, kau harus kuat." Ucap Anzel memberi semangat pada sang istri sambil menggenggam tangannya penuh dengan kehangatan, dan sesekali Anzel mencium kening sang istri


Mey hanya mengangguk dan tersenyum melihat suaminya yang terus setia berada di samping nya sambil terus memberi kan semangat padanya.


"Kau ingin apa sayang? Katakan, aku akan memberikan apa pun yang kau minta?" Tanya Anzel pada istrinya.

__ADS_1


Mey menggeleng kepalanya menandakan kalau saat ini dia tidak ingin apa apa.


"Semangat sayang, aku yakin kau pasti bisa." Ucap Anzel kembali..


"Sayang, kau bisa diam tidak." Tanya Mey membuka suara.


Seketika Anzel menatap heran tepat ke wajah sang istri yang tiba tiba saja bersuara. "Kenapa sayang?" Tanya Anzel.


"Suaramu membuat ku tidak bisa berkonsentrasi. Lihat lah dokter dan suster yang berada di sini, mereka semua tidak konsen." Jelas Mey.


Beberapa saat kemudian. "Oeee,oeee,oeeee." Terdengar suara tangisan bayi. Anzel dan Mey merasa begitu sangat bahagia..


"Selamat tuan, nyonya. Bayi anda selamat dan berjenis kelamin perempuan." Ucap suster lalu memberikan bayi Mey kepada Anzel.


"Putriku." Ucap Anzel sambil menitihkan air matanya dan mencium wajah sang putri tercinta. "Sayang lihat lah putri kita, wajahnya sangat mirip dengan ku. Aku yakin kelak dia akan menjadi wanita yang begitu sangat cantik."

__ADS_1


"Semoga putri kita sifatnya mirip dengan ku." Pinta Mey. "Ouh yah sayang, apa kau sudah menyiapkan namanya?" Tanya Mey


"Adistih Putri Anzel." Jawab Anzel


"Distih. Nama yang begitu cantik."


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


"Ayolah sayang, kita harus cepat cepat ke rumah sakit." Pinta Dewa.


"Sabar sebentar lagi.. Lagian kenapa sih kamu sangat terburu buru sekali ingin ke rumah sakit?"


"Yah karna aku tidak ingin melewatkan momen langkah ini."


"Momen langkah?" Tanya Aurel penasaran.

__ADS_1


"Iya sayang. Mey mau melahirkan, dan aku sangat bersemangat ingin melihat Anzel pingsang. Kau ingat kan dulu Anzel mengejek ku, dan sekarang aku ingin melakukan hal yang sama."


__ADS_2