Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
S2 53


__ADS_3

Dua hari berlalu, Dewa kini telah menyesuaikan diri dengan Roy asisten nya Anzel. Sifat Dewa yang rada ingin tahu membuat nya sering bertanya kepada Roy. Dan sifat Roy yang selalu ingim bercerita membuat kedua nya tidak sulit untuk menyesuaikan diri..


Berbeda dengan Anzel dan Az, asisten Dewa. Anzel pusing dengan Az, karna sudah terbiasa mendengar ocehan Roy setiap harinya. Justru itu yang membuat Anzel rindu. Anzel akui, Az memang asisten yang gesit, pandai, hanya saja Anzel tidak tahu harus berbicara apa pada Az, karna Az selalu nya hanya memjawab (iya, baik tuan, siap). Kata kata itu membuat Anzel bosan,.


"Jika Roy ada di sini, pasti hari ini lebih menyenangkan." Gumam Anzel..


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di ruangan kerja. Ponsel Dewa berdering, Dewa yang mendengar langsung meraih ponselnya, dan menatap layar, ternyata sang istri tercinta nya lah yang menghubunginya..


"Halo sayang ada apa?" Sapa Dewa saat sambungan terhubung.


"Sayang, bisa pulang sekarang? Tanya Aurel.


"Kenapa, apa kau sakit?"


"Iya sepertinya aku merasa perutu kram."


"Tunggu sayang, tunggu!! Apa kau mau melahirkan?" Tanya Dewa dengan panik.


"Tidak, ini bukan bulan ku. Tapi tidak tahu kenapa perutku jadi kram. Jadi tolong pulang sekarang."


"Baiklah." Ucap Dewa lalu mematikan sambungan nya.

__ADS_1


"Roy,." Panggil Dewa. Sambil berjalan keluar dari ruangan nya.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Sekarang kita pulang. Istri ku sedang sakit." Titah Dewa..


Roy yang mendengar bahwa nyonya Aurel sakit dengan segerah meraih ponselnya dan mengirim pesan ke nyonya nya Mey.. "Nyonya, istri tuan Dewa sakit. Tapi aku belum tahu sakit apa.." Isi pesan Roy.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Di perjalanan. Roy terus saja memerhatikan wajah Dewa dari arah spion tegah. Roy tahu betul jika saat ini tuan nya sedang tidak baik baik saja..


"Tuan rileks." Ucap Roy.


"Tuan takut apa? Di sini kan tidak ada setan." Ucap Roy mencoba mencairkan suasana.


"Bukan dengan setan Roy." Ucap Dewa.


"Terus, kalau bukan dengan setan, tuan takutnya dengan siapa? Tunggu, tunggu, jangan bilang tuan takut sama saya, iya?" Tanya Roy membuat Dewa sedikit tersenyum.


"Buuukkkkhhh" Dewa memukul lengan Roy dari arah belakang. "Aku takut dengan mu? Ada ada saja kau Roy,. Yang ada itu kamu yang takut dengan ku."


"Hahaha tuan. Aku tidak takut dengan mu.." Ucap Roy sambil tertawa, dan berhasil membuat Dewa mengerutkan kening nya..

__ADS_1


"Kau tidak takut padaku? Kau tidak takut untuk ku pecat?"


"Tidak tuan. Kan kalau tuan memecatku, aku masih bisa bekerja di perusahaan tuan ku Anzel." Jelas Roy, dan berhasil membuat Dewa menepuk jidat..


"Sudah sampai." Ucap Roy, lalu mematikan moesin mobilnya dan segerah membuka pintu..


"Kok sudah sampai." Gumam Dewa.


"Ayo tuan silahkan turun." Ucap Roy saat membuka pintu mobil untuk Dewa.


"Cepat juga yah kita sampai?"


"Itulah guna ku mengajak tuan berbicara tadinya, agar rasa khawatir tuan berkurang sejenak." Jelas Roy. Membuat Dewa langsung mengingat sang istri


"Istriku." Ucap Dewa dan langsung berlarih ke dalam rumah nya.


"Sayang, sayang." Panggil Dewa.


"Daddy." Teriak Junior.


"Sayang di mana mommy mu?" Tanya Dewa sambil memengang kedua pipi Junior.


"Mommy ada di kamar ku, mommy bilang perutnya sakit, apa adik bayi akan keluar dad?" Tanya Junior.

__ADS_1


"Mungkin sayang. Ayo kita lihat mommy." Ucap Dewa sambil menggendong Junior.


__ADS_2