Wanita Taruhan CEO

Wanita Taruhan CEO
88


__ADS_3

Seketika suasana hening kala Aurel berucap kata "maaf".. Dewa yang sudah tahu itu, memperbaiki posisi dari tidurnya dan duduk tepat di samping Aurel.. Menarik kedua bahu Aurel agar bisa menghadap ke arah nya.. Kini mereka saling berhadapan dan saling memandang satu sama lainnya..


Aurel yang merasa bersalah kembali lagi berucap..


"Maaf," Lirih nya sambil menunduk kan kepalanya..


Dewa hanya bisa terseyum. Namum hatinya saat ini merasa sakit.. Sakit bukan karna keputusan Aurel yang menunda untuk memiliki bayi. Namun sakit karna ia masih merasa bersalah kepada sang istri. Akibat perbuatan nya di masa lalu yang begitu kejam. Sehingga sang istri masih memeliki rasa trauma yang begitu mendalam..


"Hey, sayang. Kenapa harus meminta maaf. Ini bukan salah mu." Ucap Dewa sambil memengang dagu Aurel agar kembali menatap nya..


"Kita sudah berusaha sebaik mungkin. Kita hanya bisa menyerahkan sama yang di atas.. Kita hanya bisa menunggu waktu yang indah untuk kembali memiliki momongan. Jadi jangan pernah meminta maaf dan merasa bersalah." Ucap Dewa.


"Maaf." Lirih Aurel kembali..


"Aku mencintai mu sayang, jangan pernah meminta maaf karna ini bukan salah mu." Jelas Dewa dan memeluk tubuh Aurel..


Dewa tidak ingin memberi tahu istrinya tentang pil KB yang ia temukan di lemari.. Ia tidak ingin jika istrinya merasa lebih bersalah.. Karna menurut Dewa, di sini, dia lah yang salah bukan sang istri..


"Jangan pernah merasa bersalah tentang apa pun.. Aku mencintai mu. Mencintai kekurangan mu, mencintai apa pun yang ada di dalam dirimu. Jadi jangan pernah salah kan diri mu sendiri." Ucap Dewa kembali sambil mengelus lembut pundak belakang istrinya.


Hikssss, hiiksssss.hikssssss.. Isak tangis Aurel pecah kala mendengar ucapan suaminya. Yang menurutnya, ucapan Dewa sangat tulus dari lubuk hatinya.


"Hey sayang kenapa menangis..?" Tanya Dewa, sambil melepas pelukan nya dan menghapus air mata istrinya..


"Hikkksss, aku terharu sayang mendengar ungkapan cinta mu." Jelas Aurel..

__ADS_1


"Sayang, harusnya kau tersenyum bukan menangis seperti ini..?"


"Tapi ini tangisan kebahagian sayang.."


"Baiklah, kalau begitu kita tidur.. Aku tidak ingin melihat mu menangis."


"Sayang, kita tidur di kamar Junior yah..?" Pinta Aurel..


"Serius..?"


"Ia serius, aku sangat rindu ingin memeluk tubuh jagoan kita.."


"Baiklah sayang.."


Setahun berlalu. Hubungan Aurel dan Dewa semakin harmonis.. Tidak pernah ada hal sekecil pun yang terjadi di antara mereka. Hidup mereka begitu sempurna., di tambah dengan kehadiran Junior di antara mereka membuat keluarga mereka begitu sangat sempurna..


Hari ini Dewa sangat sibuk bekerja.. Tidak menyadari jika ponselnya sedari tadi sudah berdering..


"Tuan." Panggil Az, saat berada di ruangan Dewa.


"Ada apa Az..?"


"Tuan, nyonya menghubungi ku. Nyonya bilang kenapa tuan tidak menjawab panggilan nya."


"Astaga Anzel. Poselku dalam mode getar, aku terlalu sibuk sampai tidak memperhatikan nya..Apa lagi yang istriku katakan.?" Tanya Dewa panik..

__ADS_1


"Nyonya menyuruh anda untuk menghubunginya sekarang tuan."


"Baik Az, terima kasih."


•••••••••••


"Halo sayang.." Ucap Dewa kala sambungan nya terhubung.. "Maaf tadi aku sangat sibuk, dan ponselku dalam mode getar."


"Ia aku tahu kau sangat sibuk.. Anzel sudah menjelaskan tadi padaku.. Ouh ya sayang, bisa kah malam ini kau menyempatkan waktu untuk makan malam bersama dengan Junior."


"Sayang, bukan kah tiap malam kita makan bersama.. Jadi pasti tentu bisa sayang."


"Hihihihi." Terdengar Aurel tertawa di seberang sana..


"Ouh yah aku lupa sayang.. Tapi kali ini beda, aku ingin kita bertiga makan malam di luar.."


"Baiklah, di mana tempatnya..?"


"Hhhhmm belum ku pilih,. Sayang, bisa kah kau memilihkan tempat untuk kita makan malam bersama.?"


"Baiklah sayang, aku akan memilihnya. Mau di jemput atau ke sana di antar oleh sopir.?"


"Kita ketemu di sana saja sayang.. Aku menunggu mu, ada hadiah yang ingin ke berikan padamu " Jelas Aurel lalu mematikan sambungan nya.


"Hadiah...??" gumam Dewa.. "Tapi aku jan belum ulang tahun, kenapa harus dapat hadiah.?"

__ADS_1


__ADS_2