AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
BABY BOY USIL


__ADS_3

Enam hari kemudian.


Arya berniat mengadakan acara Aqiqah untuk putra dan putrinya di dirumahnya di hari ke tujuh kelahiran mereka. Dua hari yang lalu Arya sendiri yang memilih kambing untuk acara Aqiqah putra dan putrinya, Arya memilih kambing berkualitas, sehat, bebas dari penyakit dan tidak cacat.


Dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan. Tidak hanya itu, Arya juga membeli banyak sembako untuk nantinya di sedekahkan pada fakir miskin.


Walaupun lelah Senyum tidak pernah pudar dari bibir seksinya. Kehadiran buah hatinya menjadi penyemangat untuk Arya.



***


"Assalamualaikum" Ucap Arya setelah pulang dari kantor. Bayi bayinya membuat Arya bersemangat untuk pulang dan cepat sampai ke rumah, tidak ada lembur lagi. Dia sangat merindukan orang terkasihnya


"Wa Alaikum salam." Jawab Alyn yang duduk bersandar di headboard ranjang. Arya menghampiri putra putrinya yang tidur di box bayi kemudian mengecup kening mereka berdua. Arya membelai lembut pipi buah hatinya.


"Mas kamu habis dari luar, jangan cium anak anak sembarangan."


"Aku sudah mandi dan ganti baju sayang di kamar sebelahnya."


"Kalau ada yang baru yang lama di anggurin." Ujar Alyn. Arya terkekeh menghampiri Alyn kemudian mencium keningnya dan merangkulnya.


"Gimana mas persiapan untuk acara aqiqah besok?"


"Semua keperluan sudah aku siapkan." Ucap Arya. Tiba-tiba satu bayi menangis, karena bising bayi satunya juga ikut menangis.


Arya dengan sigap menggendong Baby Girl dan di berikannya kepada Alyn, lalu Arya menggendong Baby Boy.


"Heemmmm... Baby Boy Pup." Ujar Arya.


"Sini mas biar aku yang urus."


"Biar aku saja ini. Kamu diemin dulu Baby Girl."


"Kamu tidak jijik mas?..."


"Dia anakku. Mana mungkin aku jijik. Bikin dia saja aku tidak jijik." Ujar Arya sambil terus membersihkan Pup Baby Boy.


"Kita butuh box bayi lagi. Biar jika salah satu menangis tidak menggangu baby yang satunya. Suara cempreng Baby Boy ganggu tidurnya Baby Girl." Ujar Arya yang masih membersihkan bagian inti Baby Boy.

__ADS_1


"Cuuuuuurrrr." Bibir Arya terkatub rapat saat Baby Boy mengencingi wajahnya. Sepertinya dia tidak terima dengan ucapan Papanya.


"Hahahaha...." Tawa mengembang di wajah Alyn. Arya meraup wajahnya dengan tangan dan menatap Alyn dengan wajah merengut.


"Sejak dalam kandungan, kau suka mengerjai Papa Nak." Ujar Arya.


***


Keesokan harinya, orang orang sedang disibukkan dengan mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara yang di gelar nanti malam.


Alena yang sejak tadi mondar mandir mencari lowongan pekerjaan akhirnya memutuskan berjalan ke halaman belakang rumah Arya, karena semua pekerjaan di rumah Arya sudah di handle oleh tetangga dan kerabat Arya yang rewang.


"Wah sejuknya udara di sini." Alena melihat pohon mangga dan matanya menyusuri pohon itu. Matanya berbinar seketika melihat buah mangga bergelantungan di sana.


"Wah... Tadi aku lihat petis di laci. Rujakan enak nih..." Kemudian Alena mulai memanjat pohon. Dengan langkah hati hati kaki Alena berpijak di dahan pohon dan tangan kirinya berpegangan di dahan pohon bagian atas, sementara tangan kanannya berusaha meraih buah mangga besar yang berada di ujung.


"Hallo...Maaf maaf saya tidak dengar, disini bising, banyak orang. Saya cari tempat sebentar." Brayen tampak berbicara lewat telepon dengan seseorang di seberang sana. Dia mencari tempat yang tidak bising, langkahnya menuju halaman belakang rumah Arya.


"Iya..... Baik..... Semua barang sudah siap untuk di kirim..... Anda hanya tinggal Terima beres.....Ok baiklah...Bla bla bla bla... Aaaaawww" Pekik Brayen yang tiba-tiba kejatuhan buah mangga besar di kepalanya yang hendak di petik Alena. Brayen menggosok gosok kepalanya yang sakit... Brayen mendongak keatas.


"Hey gadis tengil, turun kau..." Ujar Brayen menunjuk Alena dan mengarahkan telunjuknya ke bawah.


"Hehehe Maaf om maaf,,, tidak sengaja." Ujar Alena nyengir halus.


"Iya, iya jangan galak galak om aku turun nih..." Brayen semakin kesal, lagi lagi gadis pecicilan itu memanggilnya Om.


"Cepat turun sebelum ku laporkan kau pada Umimu." Ancaman Brayen membuat Alena takut dan tidak fokus melangkah.


"Salah sendiri berdiri di situ. Kena timpuk marahnya sama aku." Alena melangkah sambil ngedumel.


"Aaaaakkkhhh." Alena jatuh tepat di gendongan Brayen. Alena dan Brayen sama sama menahan nafas karena terkejut.


"Umiiiiiiii...." Alena berteriak terkejut saat membuka mata, Brayen mengendongnya.


"Apa yang kalian lakukan?..." Hardik Umi Kulsum. Teriakan Alena yang menggema mengundang kehadiran Umi Naya dan Umi Kulsum.


"Braaaaakkk..." Brayen langsung mengangkat kedua tangannya ke atas seperti tersangka.


Sementara Alena meringis kesakitan karena panggulnya terpentok tanah berumput rerumputan hias.

__ADS_1


"Dia terjat..." Ujar Brayen tercekat.


"Dia melecehkanku Umi. Umi lihat sendiri kan....Masak dia gendong gendong aku Umi." Alena memotong Ucapan Brayen karena kesal Brayen membuat dirinya jatuh ke tanah. Brayen auto mendelik pada Alena, dia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan gadis tengil itu.


Brayen sendiri ciut melihat tatapan dingin dari Umi Kulsum dan Umi Naya.


"BRAYEN." Ujar Umi Kulsum dengan suara tinggi.


"Dia bohong Umi." Brayen membela diri. Alena bangkit dari tanah.


"Dik maaf ya.... Brayen akan tanggung jawab. Kalau perlu saya akan menikahkan Brayen dengan Alena." Umi Kulsum berusaha meredam amarah Umi Naya yang wajahnya terlihat marah bercampur sedih.


Brayen dan Alena terkejut dan saling pandang.


"Hiiiii....Amit amit jabang bayi, masak Alena di suruh nikah sama Om Om sih Mi!..." Ujar Alena sambil mengusap perutnya.


Sumpah demi apapun Brayen sangat kesal dengan mulut bar bar Alena.


"Saya minta maaf Umi.... Saya mengakui kesalahan saya karena sudah lancang menggendong putri Umi. Saya bersedia menikahi putri Umi." Ucap Brayen, memandang Alena dengan sinis.


"Tanggung jawab apaan. Orang aku jatuh dari pohon terus jatuh ke gendonganmu." Ketus Alena.


"Akhirnya keceplosan juga kamu." Brayen tersenyum penuh kemenangan, dan melangkah pergi. Sementara Alena mengigit lidahnya yang menjulur sedikit keluar.


"Permisi Umi." Brayen mengangguk hormat pada Kedua orang tua yang berdiri di dekat pintu. Umi Naya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu, Nah ketemu sapu ijuk.


"Dasar anak bandel... Bikin malu saja... Tiap hari bikin ulah." Umi Naya mengejar Alena yang memutari di pohon mangga.


"Ampun Umi....Ampuuuuun..." Alena berlari secepat kilat ke pintu keluar. Saat melihat banyak orang Alena menetralkan nafasnya, berjalan sopan sambil membungkuk dan tangan kanannya menjulur ke bawah.


"Permisi....Permisi...Permisi....." Alena memamerkan senyum termanisnya.


"Dasar gadis bermuka dua." Ucap Brayen yang melihat Alena.


***


"Wah mbak Alyn teledor sekali sih, masak kontak masih nyantol di sepeda. Untung aku yang nemuin, kalau maling kan bahaya. Hemmmm.... Mending jalan jalan sebentar ah, sampai Umi tenang...Dari pada aku di pukul sapu."


Alena melajukan motornya keluar dari halaman rumah Arya. Para penjaga tidak melarangnya karena tamu hari ini bebas keluar masuk.

__ADS_1


***


Selamat menikmati


__ADS_2