
"Kau pasti bohong. Kau pasti bohong. Kau pasti bohong. Aku tidak percaya ... Aaaaakkkhhh.... Aaaaakkkhhh.... Abaaang...." Alena berteriak histeris mengguncang kerah kemeja pria tersebut. Dengan kasar pria tersebut mencekal pergelangan tangan Alena.
"Ck ck ck ck... Don't cry baby. You won't be widowed for long. After Iddah I will marry you. (Jangan menangis sayang, kau tidak akan lama menjanda. Setelah masa Iddah aku akan menikahi mu.)
"It's punishment for your husband because his father killed my father. (Itu adalah hukuman untuk suamimu karena ayahnya sudah membunuh ayahku.)"
"Cuiiiiihhhh..." Alena sangat murka mendengar ucapan pria itu meludahi wajah pria tersebut.
"Plaaakkk..." Tamparan keras mendarat di wajah Alena, membuat tubuh Alena terhempas ke samping.
"Brengsek..." Alena mengumpat kesal dengan tangan yang memegangi pipinya, Alena menatapnya nyalang menantang. Dadanya bergemuruh hebat karena terkoyak amarah.
"Damn it." Pria itu beranjak pergi. Namun saat ia sudah memegang gagang pintu dia menoleh melihat Alena. "My name is Yazid. Remember well.(Namaku adalah Yazid. Ingat baik baik.)"
"Damn it." Balas Alena. Yazid langsung keluar dari kamar dan membanting pintu, tak memperdulikan Alena yang mengumpat.
Alena kembali menangis, menyembunyikan wajahnya di atas lutut yang di tekuk.
***
Flash back on.
Alyn sangat syok saat mendengar cerita dari Arya tentang latar belakang keluarga Brayen.
Alyn pun segera menceritakan pada Arya bahwa beberapa hari yang lalu Alena sempat memposting geleng yang Arya tunjukkan pada Alyn. Apa lagi video pernyataan cinta Rio pada Alena dan status Brayen yang memperkenalkan diri sebagai suami dari Alena langsung viral, beredar di dunia Maya.
Arya dan Khasanuci langsung gencar mencari keberadaan Brayen. Dan ternyata benar Brayen dalam bahaya. Beruntung Arya datang memberikan pertolongan walaupun sangat terlambat.
***
"Pistol yang menembak dada Tuan Brayen memberikan imbas yang sangat dahsyat, memberikan robekan cukup besar di dada Tuan Brayen hingga dokter memberikan jahitan yang cukup banyak. Beruntung peluru itu langsung tembus keluar sehingga dokter tidak perlu melakukan pembedahan pada tubuh Brayen untuk mengeluarkan peluru tersebut."
"Beruntung lagi peluru yang mengenai dada kiri Tuan Brayen, turun sedikit saja mengenai jantungnya maka nyawa Tuan Brayen tidak mungkin dapat terselamatkan. Jika itu terjadi apapun usaha tim dokter maka akan sia sia." Sambung si dokter menjelaskan pada Khasanuci sambil memasang penyangga siku di tangan kiri Brayen agar terlipat di dada, dan aman selama proses penyembuhan.
"Jangan pasang penyangga itu sekarang. Nanti saja di rumah." Ucap Khasanuci.
"Ke-kenapa?..." Ucap dokter terbata dan kebingungan.
__ADS_1
"Buka pakaianmu." Ujar Khasanuci.
"Ta-Tapi?"
"Jangan sampai aku berbuat kasar." Ucap Khasanuci pada dokter.
"Ingat baik baik. Berikan kabar pada media bahwa Tuan Brayen meninggal sebab peluru mengenai jantungnya. Awas jangan sampai bocor. Kalau sampai bocor, maka nyawa keluarga kalian berada di tangan ku. Hapus semua informasi tentang Tuan Brayen" Khasanuci memberikan ancaman yang keras pada tiga dokter yang menangani kasus Brayen. Salah satu di antara mereka adalah dokter pribadi keluarga Arya.
"Ba..Baik Tuan." Ucap sang dokter yang ketakutan dengan tubuh yang sudah gemetaran.
Arya sengaja menyebar berita palsu sebab ingin mengecoh musuh dan mengulur waktu untuk proses penyembuhan Brayen.
Dengan begitu Arya dan kelompoknya bisa memiliki ruang waktu untuk membuat strategi pembebasan Alena.
Flash back off
***
"DI MANA ALENA?... DI MANA ISTRIKU, BRENGSEK, KENAPA KAU MEMBAWAKU KEMARI." Di rumah sakit ruangan khusus VIP Saat siuman Brayen mengamuk. Brayen mencengkram kerah jas Khasanuci dengan tangan kanannya, berteriak dan memaki. Dia sangat marah karena Khasanuci membawanya ke rumah sakit. Padahal tadi dia masih sadar dan meminta pistol pada Khasanuci tapi Arya tidak mengizinkan karena takut pendarahan yang di alami Brayen semakin parah.
"Tenang Tuan. Secepatnya Nona akan segera di temukan Tuan."
"Apa kau bilang!!... Tenang!!... Nyawa Istriku dalam bahaya kau bilang Tenang."
Brayen melepaskankan Khasanuci saat menerima panggilan dari Arya. Dari wajahnya terlihat dia kecewa. Brayen yang bisa membaca raut wajah Khasanuci mulai panik dan Khawatir.
"DI MANA ALENA?..." Brayen kembali menarik kerah jas Khasanuci hingga condong ke arahnya dan berteriak.
"Mereka kehilangan jejak."
"Aaaaakkkhhh... Di mana kau Alena. Payah kalian semua.... Memangnya apa yang kalian kerjakan." Brayen mendorong Khasanuci hingga terhuyung ke belakang.
Brayen turun dari ranjang namun Khasanuci mencegahnya.
"Apa yang kau lakukan, aku tidak lumpuh." Brayen kembali mendorong Khasanuci.
"Anda tidak boleh keluar seperti ini Tuan."
__ADS_1
"Lalu???..."
"Anda tidak lihat pakaian apa yang anda kenakan."
Brayen pun menunduk melihat pakaian yang melekat di tubuhnya.
***
Khasanuci keluar bersama dengan brangkar berisi mayat yang tertutup seluruh tubuhnya dengan kain putih bersama dengan dua dokter yang menangani kasus Brayen.
Tidak lama kemudian Brayen keluar dari ruangannya dengan pakaian dokter, memakai masker dan kaca mata. Dia berjalan menuju ke parkiran Khusus dokter dengan di pantau dari jarak jauh oleh anak buahnya. Brayen terus berjalan melewati koridor. Sesampainya di parkiran Brayen sudah di tunggu oleh anak buahnya di dalam mobil agar penampakannya tidak mencolok.
***
Semua keluarga berduka atas hilangnya Alena. Terutama Abah, beruntung Abah masih kuat. Sedikit banyak hilangnya Alena mempengaruhi kondisi kesehatan Abah.
Umi tidak henti hentinya menangis memikirkan nasib Alena. Semua keluarga berduka.
"Mas kamu harus tolong adikku. Cepat temukan dia hikzzz...." Alyn menangis tersedu-sedu di pelukan Arya. Kabar hilangnya Alena membuatnya sangat gelisah dan khawatir takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada adiknya. Arya terus membelai rambut Alyn, dia dapat merasakan kesedihan istrinya.
***
Brayen memeluk erat-erat tubuh ibu yang selama ini ia rindukan. Brayen sudah melakukan dosa terbesar karena selalu berpikir bahwa dia anak yang tidak di inginkan. Nyatanya selama ini Ibunya sudah menderita tapi Brayen tidak tahu.
"Aku bersumpah akan menghancurkan semua pengkhianat yang sudah membunuh Ayah dan membuat Ibuku menderita sepanjang hidupnya." Brayen tidak peduli dengan luka di dadanya yang masih sangat sakit. Dia tetap membiarkan ibunya menangis di pelukannya.
Brayen berusaha bersikap setenang mungkin dan menahan semua gejolak yang ada.
***
Perkumpulan mafia.
"Tuan Brayen anda jangan khawatir, saya rasa Alena sekarang masih baik baik saja. Walaupun bukan jaminan mereka tidak menyakiti Alena." Ujar Iqbal yang ikut merasakan emosi karena dia sudah menganggap Alena seperti Adiknya sendiri. Waktu kecil Alena sering tidur di gendongan Iqbal.
"Anda benar. Tujuan utama adalah membunuh saya, maka dari itu mereka terus menghujani saya dengan peluru. Alena hanya umpan untuk menangkap ibu saya. Itu kesimpulan yang Saya rasakan. " Ucap Brayen yang sudah bisa menebak jalan pikiran para penculik. Sebab jika mereka berniat membunuh Alena, maka mereka akan melakukannya saat itu juga dan bukan malah menculik Alena.
***
__ADS_1