
"Aku pengen makan kamu di sini." Ucapan Arya membuat Alyn merinding.
"Mas Aku nggak akan maafin kamu loh mas...." Ujar Alyn tegas yang hijabnya berantakan karena di singkap Arya.
"Ayo lanjutkan di rumah." Arya menarik tangan Alyn. Arya berjalan cepat menuju rumah Alyn karena sudah tidak tahan membendung hasratnya.
Sesampainya di rumah Arya dan Alyn sudah di sambut oleh Umi.
"Nak dari tadi di tungguin. Yuk makan bersama dulu." Ujar Umi menarik tangan Alyn, Alyn mengikuti Umi sambil menatap Arya dengan wajah yang terlihat sungkan.
"Huuuuufffhhh.... Padahal aku ingin makan istriku." Akhirnya Arya ikut bergabung di meja makan. Arya makan dengan perasaan tak nyaman karena sang Ular terus memberontak minta di keluarkan.
Setelah selesai makan bersama, Umi terus menguasai Alyn. Membuat Arya sungkan mendekati istrinya. Umi terus saja mengajak Alyn bercengkrama berbicara panjang kali lebar. Tak mengerti keinginan anak menantunya yang sejak tadi menahan hasrat yang tak tersalurkan, yah inilah resiko yang harus di ambil jika bulan madu di rumah mertua.
Akhirnya Arya memutuskan untuk memasuki kamar, menunggu pengertian dari sang Istri dan mertuanya.
Dua jam kemudian Alyn memasuki kamar menghampiri Arya yang sudah terlelap. Alyn tidur di samping Arya, kemudian Arya membelit tubuh Alyn dengan posesif.
"Mas kamu tidak tidur." Ujar Alyn.
"Tidak. Dari tadi aku menunggumu."Ucap Arya terus menciumi ceruk leher Alyn. Sudah sejak tadi Arya menahannya. Sekarang sudah waktunya.
"Kenapa?" Tanya Alyn tersenyum, pura pura bodoh.
"Jangan pura pura lupa." Ujar Arya.
Arya sudah mulai melancarkan Aksinya. Tangan dan bibirnya sudah lincah menggerayangi tubuh Alyn.
Mata Arya sudah di rundung gairah, hasrat sudah membuncah. Arya sudah sangat sangat sangat tidak tahan. Arya mulai memposisikan dirinya hendak menyalurkan hasrat yang sejak tadi tertunda.
"Tok tok tok....Nak." Pandangan mata Alyn dan Arya beralih ke pintu.
"Iya Umi." Triak Alyn.
"Nak bisa tidak kamu belanja ke pasar. Mumpung pasar belum tutup. Soalnya Umi Sama Abah mau ke rumah buk De mu. Adikmu kakinya sedang sakit tidak bisa jalan." Ucap Umi mengutarakan alasannya.
Mata Alyn beralih menatap Arya dengan pandangan bertanya tanya!!!!.….
"Sebentar lagi ya sayang, nanggung hampir nyelup nih..." Bisik Arya di telinga Alyn. Alyn mengangguk.
"Tunggu sebentar Mi." Ucap Alyn.
"Jangan lama-lama nak. Ini sudah siang. Pasar hampir tutup."
Mendengar itu Arya menurunkan dahinya ke dahi Alyn.
"Ya ampun....Ada ada saja halangannya kalau bulan madu di rumah mertua." Arya turun kembali dengan rasa kecewanya. Kemudian kembali memasang bajunya. Begitu pun Alyn.
Kemudian Arya mengantar Alyn ke pasar dengan menggunakan motor Alena. Alyn mengalungkan tangannya di pinggang Arya. Alyn merasa tidak enak hati pada Arya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam pasar Alyn berbelanja beberapa bahan makanan cukup banyak. Sedangkan Arya menunggu di luar.
Tidak lama kemudian Alyn keluar dari pasar. Arya melihat Alyn sedang berbincang-bincang dengan seorang pemuda. Karena Alyn dan pemuda itu terlihat akrab akhirnya Arya menghampiri mereka.
"Siapa dia?" Tanya Arya pada Alyn dengan memberikan tatapan tajam pada pemuda yang berani mendekati Alyn. Alyn merasa tidak enak hati dengan pemuda itu yang merupakan teman Iqbal juga.
"Apa sih mas. Dia temanku." Ujar Alyn.
"HANYA TEMAN....SEAKBRAB INI." Arya menarik tangan Alyn tak peduli dengan banyaknya belanjaan yang Alyn bawa.
Sepanjang jalan keduanya hanya diam membisu padahal saat berangkat tadi mereka berdua asyik bercengkrama.
Alyn sangat kesal pada Arya. Alyn hanya berbincang bincang saja dengan temannya dia marah. Menyebalkan.
Sesampainya di rumah Alyn meletakkan beberapa bahan-bahan makanan ke dalam kulkas.
Arya merenungkan kesalahannya dulu pada Alyn. Melihat Alyn akrab dengan laki laki lain emosi Arya meluap luap. Apalagi Alyn saat melihat Arya bercumbu dengan Suci. Rasa bersalah Arya kian menyeruak.
Arya pergi ke dapur memeluk Alyn yang sedang mencuci buah di wastafel dari belakang.
"Maaf..." Ucap Arya.
"Kenapa minta maaf."
"Aku melihat mu hanya berbincang dengan pemuda lain sudah membuatku di liputi rasa cemburu. Apalgi kamu!!! Kesalahan ku padamu dulu sangat fatal. Maaf." Ujar Arya yang menyesali perbuatannya.
"Tidak usah di bahas lagi mas. Cukup bukti kan kamu setia." Ucap Alyn.
Beberapa hari kemudian setelah banyaknya gangguan untuk mereka bermesraan akhirnya Arya dan Alyn berpamitan pulang. Karena pekerjaan Arya tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Walaupun berat rasanya berjauhan dari anak sulungnya namun Umi dan Abah hanya bisa memberikan doa kepada anak-anaknya.
****
"Hoeeeekkk....Hoeeeekkk....Hoeeeekk..."
Arya memijat leher belakang Alyn karena sejak turun dari bandara Alyn tidak berhenti muntah hingga tubuh alyn lemas, kepalanya terasa berkunang-kunang dan wajahnya pucat. Mungkin karena mabuk perjalanan Alyn muntah muntah.
Arya sudah mengajak Alyn untuk memeriksakan diri ke dokter namun Alyn menolak.
"Tidak usah mas....Di kerokin saja biasanya cepat sembuh mas." Ujar Alyn yang terus menolak Arya untuk memanggil dokter.
"Tapi sayang wajah mu pucet gini." Ujar Arya yang sangat khawatir melihat keadaan Alyn.
"Tolong kerokin aku mas." Pinta Alyn. Akhirnya Arya menuruti keinginan Alyn. Arya mengerok punggung Alyn hingga membentuk garis berwarna merah seperti rusuk ikan pari.
Benar saja setelah dikerok Alyn sudah terlihat lebih nyaman. Akhirnya Alyn bisa beristirahat dan tidur dengan nyenyak di pelukan Arya.
****
Keesokan paginya Alyn sudah berkutat di dapur . Walaupun Arya sudah melarang tapi Alym tetap tidak menghiraukan ucapan Arya karena Alyn sudah merasa sangat sehat dan Arya hanya bisa menuruti keinginan Alyn.
__ADS_1
Di meja makan di sela-sela makan Alyn meminta izin pada Arya untuk pergi ke cafe Rani tapi Arya tidak mengizinkan. Alyn terus saja merengek meminta izin. Akhirnya Arya menghela nafas dan Alyn berhasil mendapatkan izin dari Arya.
Arya menghela nafas mengizinkan Alyn. Istrinya itu jika sudah ada maunya pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.
****
"Aku juga ikut bahagia Lyn melihat rumah tanggamu bahagia. Aku sangat bersyukur suamimu bisa berubah." Ucap Rani pada Alyn yang ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan Alyn.
"Iya terima kasih ya kamu selalu ada disaat aku butuh. Kamu adalah sahabat terbaikku yang selalu mendukungku." Ujar Alyn.
"Ting Ting Ting Ting...." Hp Rani berbunyi saat di lihatnya ternyata panggilan dari ibunya.
"Assalamualaikum" Ucap Rani.
"Wa Alaikum salam"
"Nak kamu di mana?...Kamu di Cafe kan. Sebentar lagi Pemuda yang ibu ceritakan ke kamu semalam Otw ke sana."
"Aduh ibu Rani kan sudah bilang jangan jodoh-jodohin Rani. Rani masih belum mau menikah."
"Adikmu sudah mau menikah...Cuma nunggu kamu dulu. Pamali kalau adik nikah duluan sementara mbaknya belum."
"Ya tidak apa apa adik nikah duluan. Rani mau fokus sama karir dulu."
"Apa kata orang nanti Ran!"
"Jangan hiraukan apa kata orang."
"Mereka akan bilang kamu tidak laku. Kamu prawan tua. Ibu tidak suka. Ibu tidak Rido'."
"Ya ampun buuuuu...Anak Sendiri kok di katain prawan tua."
"Memang nyatanya gitu. Udah PDKT dulu sama pemuda yang ibu kirim."
"Ibu kok gitu sih nggak izin dulu sama Rani"
"Jangan nolak."
"Rani nggak mau buuuu...Pokoknya Rani nggak mau."
"Keputusan final. Titik."
"Ih ibu kok gitu sih?"...
"Biarin."
"Ya sudah Bu Rani sibuk Rani kerja dulu Assalamualaikum"
****
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI.