AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
SEPATU LUKIS


__ADS_3

Brayen memainkan Hpnya di ruang tamu sambil menunggu Alena bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit. Dia duduk di atas sofa Italia klasik royal gold dengan furnitur ukiran. Kaki kanannya bertumpu pada kaki kirinya. Jemari Brayen begitu lincah menari di layar Hpnya.


"Om....Aku sudah siap..." Alena berdiri tepat di hadapan Brayen. Posisi Brayen yang menunduk melihat ujung kaki Alena yang cuma nampak sedikit karena tertutup baju syar'i. Dia memperhatikan Alena dari ujung kaki hingga ke atas.


Brayen terus menatap Alena tanpa berkedip. Alena tampak semakin cantik dan kalem. Alena bersolek goyang kiri goyang kanan di hadapan Brayen. Memperlihatkan baju syar'i yang dia pakai.


"Kenapa menatapku seperti itu Om?...Aku cantik ya!..." Ucap Alena kepedean.


Brayen ingat betul ucapan Alena di halaman belakang rumah Arya saat jatuh dari atas pohon dan berakhir ke gendongan Brayen. "Iiiiiihhh amit amit jabang bayi masak Alena di suruh menikah sama Om Om."


"Kau jelek." Ucap Brayen ketus.


"Hah...Om bergurau."


"Menurut ku lebih baik monyet dari pada dirimu."


"Hah yang benar saja Om, Om membandingkan ku dengan monyet. Om itu satu satunya laki laki yang mengataiku jelek"


"Berhentilah memuja kecantikan parasmu karena terlalu membanggakan diri merupakan sifat sombong. Dan aku tidak suka orang sombong. Apa lagi jika itu Istriku." Brayen beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu keluar meninggalkan Alena yang merenungkan ucapannya.


"ALENA..." Brayen memanggil Alena dengan suara lantang dari luar rumah.


"IYA OM...." Teriakan Brayen membuyarkan lamunan Alena. Kemudian Alena keluar menghampiri Brayen yang sudah duduk di kursi kemudi mobil. Alena membuka pintu lalu duduk di samping Brayen. Brayen mendekati Alena.


"Mau apa Om?" Pertanyaan Alena membuat Brayen yang sudah di depannya menoleh padanya, membuat wajah mereka begitu dekat. Alena sudah menegang menahan nafas. Jika berulah Alena takut Brayen akan menghukumnya. Brayen malah mendekatkan bibirnya hingga keduanya pun bisa merasakan hembusan nafasnya saling bertabrakan.


Mata mereka saling pandang terkunci. Semakin dekat bibir Brayen semakin tegang pula Alena bibir itu hanya berjarak 1cm. Alena menutup mata rapat rapat. Brayen pun tersenyum dan memasang sabuk pengaman Alena.


"Huuuuufffhhh..." Alena bernafas lega setelah Brayen menyingkir dari hadapannya.


"Kenapa?"


"Kirain mau cium."


"Mau?..."


"Nggak..."


Brayen tersenyum melihat tingkah Alena yang menggemaskan.


***


Alena memandangi kaca jendela mobil yang buram karena gemericik air hujan. Dia mengukir kaca berembun itu dengan bentuk love. Sesekali Brayen memperhatikan gerakan Alena sambil terus melajukan mobilnya.


Terkadang Brayen sendiri heran, di usianya yang 20 tahun harusnya Alena sudah bisa bersikap dewasa. Tapi yang di lihatnya Alena masih kekanak-kanakan. Sifat dan sikapnya jauh beda jika di bandingkan dengan Alyn. Brayen sendiri bingung, mau di bawa kemana hubungan Ini. Jika berakhir dengan perceraian tentu akan menyakiti banyak hati. Lalu jika bertahan, bagaimana dengan perasaan gadis ini.


"Alena..."


"Ya..."


"Apa aktivitas mu setiap hari selama tinggal di kampung Nelayan." Brayen ingin mengenal Alena lebih jauh.

__ADS_1


"Kenapa Om..."


"Tidak usah bertanya. Tinggal jawab saja."


"Ouwww....Tiap pagi kuliah. Terus pulang kuliah melukis."


"Melukis???..." Ujar Brayen masih ingin tahu.


"Melukis sepatu. Terus hasil sepatu lukisnya di jual lewat online shop. Ada sih beberapa yang di pajang di ruko temanku. Lumayan sih semakin hari makin banyak peminatnya. Satu sepatu bisa untung seratus ribu sampai tiga ratus ribu, tergantung tingkat kesulitan lukisannya."


"Sehari kamu bisa melukis berapa sepatu?...."


"Bisa dua sampai tiga sepatu. Tergantung banyaknya pesanan Om."


"Wah pasti banyak ya tabunganmu."


"Hehehe..."


"Kamu merintis usahamu sendiri?..." Pertanyaan Brayen di jawab gelengan kepala oleh Alena.


"Di bantu teman temanku. Rahma, Sri dan Ali."


"Ali?... Dia pacarmu?


"Bukan."


"Apa kalian sangat dekat.?..."


"Iya." Pertanyaan Brayen di jawab anggukan oleh Brayen.


"Iya." Lagi lagi Alena mengangguk.


"Apa dia perhatian padamu?..."


"Iya." Alena mengangguk lagi.


"Apa dia selalu ada untukmu?..."


"Iya." Mengangguk lagi.


"Apa kau mencintainya."


"Iya...Eeehhh..." Alena langsung menatap Brayen, yang wajahnya sudah merah.


"ALENA..." Ujar Brayen dengan nada tinggi.


"Tidak tidak tidak Om... Tidak cinta." Alena melambai lambaikan tangan di depan dadanya sambil menggelengkan kepala.


"Jangan pernah berhubungan dengan dia lagi."


"He'em...."

__ADS_1


"Alena kau dengar tidak...."


"IYA OOOMM..." Jawab Alena dengan nada tinggi.


"Huuuuufffhhh...Kalau dekat dengan laki laki lain aku akan menarik telinga mu."


"Kenapa Om?... Cemburu."


"Tidak."


"Terus kenapa aku tidak boleh dekat dengan cowok lain."


"Karena aku suamimu."


"Hanya karena itu."


"Iya."


Brayen kembali fokus mengemudikan mobilnya melewati jalanan banjir yang masih di guyur derasnya hujan. Mobil Brayen terus melaju melewati ruko ruko, hotel, sekolah dan gereja. Berhenti di lampu lalu lintas berwarna merah kemudian melaju lagi.


Beberapa saat kemudian, Brayen menepikan mobilnya setelah melewati rel kereta api. Pandangan Alena yang sejak tadi menatap jendela kini beralih menatap Brayen.


"Mau kemana Om?..."


"Tunggu di sini. Awas jangan pergi kemana-mana." Ucapan Brayen yang penuh dengan penegasan di balas anggukan pelan oleh Alena. Brayen membuka pintu mobil lalu menerobos keluar di tengah guyuran hujan yang sangat deras. Dalam sekejap bajunya basah kuyup.


Alena terus memperhatikan Brayen yang sedang membantu pak tua membangunkan gerobaknya yang terguling di dekat rel. Mungkin ada kubangan yang tidak terlihat hingga roda gerobak itu terjerembab dan itu terjungkal.


Alena melihat sekitar, beberapa orang memilih berteduh dan hanya menyaksikan Brayen dan pak tua yang memunguti peralatan dagangannya yang berjatuhan. Mungkin para penonton takut bajunya basah kuyup seperti Brayen dan memilih berdiam diri menyaksikan insiden walaupun terjadi di depan mata. Tanpa terasa sudut bibir Alena tertarik sedikit kesamping.


Di perhatikan nya Brayen yang beberapa kali menyingkap rambutnya ke belakang dan sesekali meraup wajahnya yang basah karena siraman air hujan.


"Ternyata Om galak bisa baik juga." Alena membatin.


Tak lama kemudian Brayen kembali memasuki mobil dengan bajunya yang basah kuyup.


"Dingin Om."


"Anget kalau dekat kamu..."


"Iiiiiisssss iiiisss iiiisss... Om mulai mesum." Brayen hanya tersenyum menanggapi Alena. Kemudian mulai melajukan mobilnya kembali.


"Om masak ke rumah sakit pakai baju basah..."


"Aku bawa baju ganti."


"Mana biar aku ambil."


"Di sana." Brayen menunjuk laci mobil yang ada di depan Alena. Alena membuka tutupnya dan membuka plastik berwarna gelap. Lalu membukanya dan melihat semua isinya, hanya ada satu kemeja polos dan satu celana kain.


"Kok tidak ada CD nya Om...Uuupssss..." Alena yang malu karena keceplosan langsung menghadap jendela. Sedangkan wajah Brayen sudah bersemu merah.

__ADS_1


***


Selamat menikmati.


__ADS_2