AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
ALENA DI TEMBAK


__ADS_3

Acara pensi(pentas seni) di kampus Alena untuk memperingati hari kemerdekaan RI Indonesia.


Acara digelar dengan sangat meriah di aula kampus.


Berbagai penampilan tampilkan oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang menyumbangkan keterampilannya di bidang ekstra kurikuler.


Ada Grub band, seni tari, dancer, ada juga yang menyumbangkan lagu.


Alena dan teman-temannya bergerombol di tengah banyaknya mahasiswa dan mahasiswi yang menonton pentas di atas panggung, musik terdengar sangat kencang. Untuk berbincang pun harus berteriak agar bisa di dengar.


Alena dan teman-temannya bertepuk tangan memberikan semangat pada mahasiswa yang sedang bernyanyi di atas panggung.


"Bug..." Alena hampir terjatuh saat Helen dengan sengaja menyenggolnya, beruntung teman teman Alena menahannya.


"Hey, jangan ngawur kalo jalan." Alena meneriaki Helen dengan raut wajah yang kesal, tapi Helen hanya melihat Alena dengan tatapan sinis, lalu melengos dan pergi. Tanpa ada niat sedikitpun untuk meminta maaf.


Hal itu membuat Alena dongkol dan keluar dari kerumunan manusia yang berada di tengah aula Kampus, di ikuti oleh Citra dan Sinta. Mereka terus melangkah membelah jalan dengan mendorong para penonton yang berdesakan.


"Sabar Len, orang sabar di sayang Tuhan." Ucap Sinta setengah berteriak agar suaranya bisa di dengar karena musik sangat kencang, sambil menepuk nepuk punggung Alena dan terus berjalan menjauhi banyaknya orang.


"Sabar mah ada batasnya." Ucap Alena berteriak.


"Sabar nggak ada batasnya, kalau sabar ada batasnya itu namanya tidak sabar." Sahut Citra dengan suara keras.


"Hahaha iya, masuk masuk." Ucap Sinta.


Kini mereka bertiga sudah duduk di bangku yang ada paling ujung, di sudut aula. Alena memijat bahunya yang sakit.


"Sakit Len." Ucap Citra.


"Sakit lah."


"Sakit banget ya."


"Sakit tapi nggak pake banget hahahah..." Ucap Alena.


"Huuuu asem lu...." Ucap Sinta.


"Sakitnya tuh disini." Alena menepuk-nepuk dadanya. "Kalian lihat kan tadi, kalau dia sengaja nabrak aku. Nah boro boro minta maaf, dianya malah melengos, buang muka. Sok cantik gitu." Lanjut Alena.


"Kenapa nggak kamu Jambak saja rambutnya?" Ucap Sinta.


"Pengennya sih gitu, tapi aku malu sama kerudung ku, masak iya berhijab main Jambak jambakan apa lagi di tengah lautan manusia. Kan gak lucu."


"Ah lebay lu, tengah lautan manusia." Sahut Sinta menirukan ucapan Alena.


"Bukan nggak lucu, tapi nggak pantes." Ucap Citra.


"Nah itu maksud ku."


"Mungkin dia tuh cemburu sama kamu." Ucap Citra.


"Bener banget. Rio kan mutusin semua pacarnya semenjak ada kamu. Kasian juga sih, apa lagi kalau Rio udah celap celup." Ucap Sinta.


"Kayaknya dia udah tobat deh, dan beneran serius suka sama kamu."


"Meskipun serius ya percuma, aku sudah menikah."


"APA?" Ucap Sinta dan Citra bersamaan.


"AKU SUDAH MENIKAH." Ucap Alena menegaskan dengan nada yang di tekankan.

__ADS_1


"Bercanda lu." Ucap Sinta.


"Tidak. Aku serius."


"Aaaahhh bohong, aku nggak percaya." Ucap Sinta.


"Yang antar jemput aku setiap hari itu ya suamiku."


"Tapi Kamu bilang itu kakakmu."


"Bukan kakakku tapi kakak iparnya mbakku."


"Wah keterlaluan kamu Alena. Selama ini Si Rio ngebet banget PDKT sama kamu, semua orang di kampus ini juga tahu. Seandainya kamu jujur kalau kamu sudah menikah mungkin dia tidak akan ngebet banget ngejar kamu." Ucap Citra.


"Iya sih... Aku terlanjur ngaku jomblo. Mau jujur takut di hujat. Nah akhirnya terus kebablasan. Mulai sekarang aku sudah tidak mau menutup nutupi pernikahan ku."


"Baguslah kalau kamu sudah sadar." Ucap Citra.


"Waaaaaahhh itu pacarku manggung." Ucap Sinta menunjuk kekasihnya yang berada di atas panggung. Sinta langsung menarik tangan Alena dan Citra ke kembali ke depan panggung. Mendorong penonton yang berdesakan desakan.


Sinta berteriak senang saat melihat kekasihnya manggung, membuat Citra dan Alena menutup telinga karena suara cemprengnya. Sinta berteriak kencang seolah takut kekasihnya tidak bisa mendengar suaranya. Terkadang Sinta berjingkrat-jingkrat, bertepuk tangan dan melambaikan tangannya ke atas udara.


Sementara Alena dan Citra hanya bertepuk tangan ringan saja. Saking antusiasnya Sinta ingin melihat penampilan sang kekasih, sekarang mereka berada di depan panggung.


"Sayang kamu keren." Ucap Sinta pada kekasihnya Setelah kekasihnya selesai menyanyikan lagu bersama dengan Grup Bandnya.


"Terima kasih." Ucap sang kekasih pada Sinta yang kemudian kiss bye...


"Waaahhh keren sekali ya penampilan dari Grub Band Scarlett, beri tepuk tangan yang meriah dong untuk kawan kita yang satu ini." Ucap pembawa acara.


"Prok prok prok prok prok prok..." Para penonton bertepuk tangan dengan penuh semangat, begitupun Alena.


"Masih pada semangat..."


"Semangat..."


"Mau lagi atau bubar..."


"Mau lagi doooong..."


"Mana semangatnya?..."


"Huuuuuuuuu....Prok prok prok prok prok..."


"Baiklah mari kita saksikan penampilan selanjutnya dari saudara Rio Cakraningrat dari jurusan kesenian yang akan menyumbangkan lagu. Yuk kita sambut Rio, dengan tepuk tangan yang meriah biar semangat."


Senyum ceria Alena mendadak sirna saat pembawa acara memanggil nama Rio Cakraningrat untuk menaiki panggung.


"Guys, aku cabut dulu." Alena pamit pada teman-temannya karena merasa tidak nyaman.


"Eh mau kemana?...Santai kali, kalau nggak ada rasa. Berdiri di sini bersorak Sorai, kita goyang goyang." Ucap Sinta yang menaik turunkan alisnya dengan tangan yang sudah menahan tangan Alena. Alena akhirnya berdiri seperti patung tanpa ekspresi, ekspresinya tak terbaca.


Rio pun akhirnya menaiki panggung. Dia duduk di kursi di tengah tengah panggung, memetik gitarnya sebelum memulai aksinya. Setelah siap Rio mulai membuka suara.


"Eheem eheem... Huuuuufffhhh, Saya akan menyanyikan lagu untuk wanita yang istimewa di hati saya." Rio amat nervous saat menatap manik mata Alena.


"Sempurna, lagu Andra and the backbone." Rio mulai memetik gitarnya.


"Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah."


"Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu."

__ADS_1


"Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu."


"Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu."


"Janganlah kau tinggalkan diri ku


Tak 'kan mampu menghadapi semua."


"Hanya bersama mu ku akan bisa."


"Kau adalah darah ku."


"Kau adalah jantung ku."


"Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku."


"Oh sayangku kau begitu."


"Sempurna, sempurna........"


Selesai


"Prok prok prok prok prok... Huuuuuuu keren." Rio di sambut dengan tepuk tangan dan sorak Sorai para penonton.


"Tenang semua tenang..." Ucap Rio mengangkat telapak tangannya tinggi tinggi.


Suara penonton mendadak hilang berubah kesunyian. Rio menatap Alena lekat, dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman dengan penuh keseriusan dan harapan. Semua penonton tertegun dengan pembawaan Rio di atas panggung. Berulang kali Rio menarik nafas dalam-dalam berusaha meyakinkan diri.


"Guys... Perasaanku jadi tidak enak." Ucap Alena lirih menduga-duga apa yang akan diutarakan oleh Rio, semoga tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.


"Iya aku juga." Ucap Citra dan Sinta bersamaan.


Bukan hanya jantung Rio, jantung Alena pun kini ikut berdebar debar.


"Saya berdiri di panggung ini karena ada satu wanita yang bisa menarik perhatian saya selama berbulan-bulan. Huuuuufffhhh, sebenarnya saya sangat nervous, sebab selama ini dia tidak pernah melihat saya. Saya hanya mau meyakinkan dia jika saya sudah berubah. Saya sangat mencintai dia, bahwa aku benar-benar serius."


"Aku mencintaimu Alena." Ucap Rio seraya menjulurkan tangannya di hadapan Alena, semua mata kini tertuju pada Alena.


Alena tertegun dengan ungkapan cinta dari Rio di hadapan banyak orang, ini sangat memalukan. Bukan hanya Alena yang akan malu setelah ini, tapi Rio pun juga akan malu.


Mereka berdua akan jadi bahan gunjingan bagi semua orang. Padahal Alena hendak memberitahukan pada semua teman temannya bahwa dia sudah menikah. Tapi Rio merusak segalanya.


Alena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia berlari menjauhi kerumunan.


Rio yang melihat itu segera turun dari panggung dan berlari mengejar Alena, menyingkap kerumunan dengan tangannya. Hingga penonton saling dorong.


"Bug..." Alena menubruk tembok hingga tubuhnya terjatuh ke lantai. Alena bangkit dan berlari.


"Ya ampun, ini memalukan. Aku pengen nangis." Alena terus berlari sampai di halaman sekolah, Rio berhasil menangkap Alena dengan menarik pergelangan tangannya. Kini mereka saling berhadapan.


"Alena tunggu. Dengarkan aku." Ucap Rio dengan nafas yang memburu, dia memegang kedua bahu Alena.


"Jangan sentuh aku." Alena menepis tangan Rio dari bahunya. Air mata sudah menganak di pelupuk mata Alena.


"Sumpah, aku pengen nangis." Alena membantin. Dia sangat syok.


Tidak perlu menunggu waktu lama. Kejadian ini langsung viral.


***


SELAMAT MENIKMATI EMAK EMAKKU SAYANG.

__ADS_1


__ADS_2