
"Iya Ci, kenapa?..." Brayen menerima panggilan telepon dengan menggunakan headset di telinganya sambil terus mengemudikan mobil.
"Oh...Iya... Iya tidak apa-apa."
"Kau jangan khawatir karena aku sudah mempersiapkan segala yang di perlukan."
"Ci, Kenapa anakmu menangis?..."
"Oh...Ku pikir kenapa. Ya sudah nanti ku hubungi lagi karena sekarang aku sedang mengemudikan mobil."
"Tot tot tot..." Brayen memutuskan sambungan telponnya, kemudian kembali fokus menyetir. Hati Alena sangat sakit mendengar percakapan Brayen dengan seseorang di ujung telepon sana.
"Ci???...Siapa???... Mungkinkah Suci??? Apakah dia masih berhubungan dengan wanita itu?... Mungkin keputusanku untuk berpisah sudah tepat?... Hatiku terlalu sakit memikirkan hubungan mereka." Dada Alena terasa sesak, tak terasa air mata menetes dan langsung di sapu oleh Alena. Alena kembali berpura-pura tidur.
Pergerakan Alena barusan tertangkap oleh mata Brayen, ingin sekali Brayen bertanya pada Alena kenapa ia menangis?...Tapi di urungkan saat Brayen melihat kedua mertuanya di belakang lewat kaca mobil di depan. Brayen terlalu sungkan bertanya pada Alena jika ada mertuanya.
"Padahal aku benar-benar tidak sengaja memegangnya. Pasti dia begitu terpukul karena sentuhanku." Brayen membatin menduga bahwa Alena marah karena insiden pemegangan gundukan itu.
Alena memang marah dengan hal itu tapi lebih marah dan kecewa lagi saat dia berpikir bahwa Brayen memang memiliki hubungan istimewa dengan Suci bahkan seperhatian itu dia sampai menanyakan keadaan anaknya.
***
Kini mobil sudah sampai di bandara, Umi dan Abah sudah turun dari mobil.
Brayen hendak membangunkan Alena yang berpura-pura tidur, walaupun tahu bahwa Alena hanya berpura pura tidur. Brayen hanya mengikuti permainan Alena, saat tangan Brayen hendak menyentuh lengan Alena, tangan itu langsung ditepis oleh Alena.
"Tolong jangan katakan apapun pada Abah dan Umi, nanti aku sendiri yang akan menjelaskannya pada Abah dan Umi." Alena berucap dengan hati yang berat. Brayen melihat sorot mata Alena yang sendu dengan genangan air mata. Brayen sendiri bingung harus melakukan apa dan berkata apa. Karena Brayen tidak ingin lagi menyakiti hati Alena.
Umi merasa heran saat Brayen menurunkan tas besar milik Alena dari bagasi mobilnya.
"Nak Brayen, itu tas Alena kenapa ada di sini?..." Umi Naya bertanya dengan mengerutkan alisnya.
"Alena..." Ucapan Brayen langsung disabotase oleh Alena.
"Untuk sementara Alena akan tinggal di Kampung Nelayan dulu Mi. Soalnya Alena harus mengurus masalah perkuliahan Alena dulu, tidak mungkin kan kalau Alena ujug-ujug langsung pindah ke Jakarta tanpa persiapan."
"Iya tapi ini barang bawaan kamu banyak banget. Bukannya kamu hanya sementara tinggal di Kampung Nelayan?..." Umi mulai curiga melihat gelagat aneh dari Alena.
__ADS_1
"IYA..." Jawab Alena tanpa mau menjelaskan lebih lanjut.
"Terus Nak Brayen tidak ikut ke Kampung Nelayan?..."
"Maaf Mi saya tidak ikut, saya mengantar cukup sampai disini, karena saya banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan."
"Oh begitu."
"Maafin Alena Umi Abah, nanti aku akan jelasin pelan-pelan. Tapi tidak sekarang Umi, Abah baru sembuh, Alena tidak ingin Abah terkejut dan malah akan mengganggu kesehatan Abah lagi." Alena membatin.
Sementara Brayen enggan menatap Alena, hatinya masih tidak siap untuk berpisah dengan Alena. Tapi Brayen tidak ingin Alena terus menerus tertekan hidup dengannya.
Kemudian Abah dan Umi mulai melangkah pergi meninggalkan koper yang tidak terlalu besar yang dibawa oleh Brayen sebab Brayen melarang kedua mertuanya membawa apapun.
Alena merampas tasnya yang di jinjing oleh Brayen, Alena membawanya dengan susah payah sebab tas itu cukup berat bagi Alena, kemudian Brayen merampas lagi tas itu.
"Balikin tasku, aku bisa membawanya sendiri aku tidak butuh bantuanmu." Alena berucap dengan nada Ketus sebab Dia masih merasa cemburu dengan seseorang yang yang menghubungi Brayen via telepon.
Brayen sendiri tidak peduli dengan penolakan Alena , dia tetap melangkah menyeret koper dan menjinjing tas milik Alena. Kini mereka berjalan bersisian, Brayen melirik wajah kesal Alena.
"Alena Aku benar-benar minta maaf, tolong jangan marah. Aku... Aku benar-benar tidak sengaja memegang dadamu." Wajah Alena kembali bersemu merah ketika Brayen mengingatkan hal itu.
"Kenapa tadi kamu menangis kalau bukan marah karena masalah itu?"
"Kapan aku menangis? Aku tidak menangis." Alena berusaha mengelak dengan memasang wajah datar.
"Jangan berbohong Aku melihatnya."
"Itu bukan urusanmu."
"Jelas itu urusanku, Kau adalah istriku."
"Sebentar lagi juga bukan istrimu." Ucapan Alena sungguh mengusik hati Brayen. Brayen melepas koper yang ia seret kemudian menarik tangan Alena hingga mereka berhadapan saling bertatap muka, Alena mendongak ke atas untuk bisa melihat wajah Brayen yang tubuhnya dominan jauh lebih tinggi dari Alena. Brayen tetap tidak melepaskan tangan Alena yang berada di depan dadanya.
"Kau benar-benar ingin pisah dari ku?" Alena diam sejenak mendengar pertanyaan Brayen, Ingin rasanya hati mengatakan bahwa dia merasa nyaman dan hanya dengan membayangkan perpisahan yang akan terjadi saja hatinya sudah sangat sakit, apalagi jika benar-benar berpisah. Tapi saat mengingat bagaimana perhatian Brayen tadi saat panggilan via telepon dengan seseorang yang berinisial Ci, Alena sudah tidak berminat untuk kembali pada Brayen.
Brayen menatap mata Alena yang terlihat sendu, mata Alena sudah merah menahan air mata.
__ADS_1
"Apa sesakit itu menjadi istriku Alena?...Ah, iya. Kau sendiri yang mengatakan, kau bersedih semenjak menikah dengan ku. Kau tahu Alena, hatiku sangat resah menunggu jawaban dari mu. Aku takut kau akan memberikan jawaban yang akan mengecewakan hatiku lagi. Kau selalu memberikan jawaban yang menyakitkan untuk hatiku, membuatku trauma untuk bertanya-tanya tentang isi hatimu yang sebenarnya, karena setiap jawabanmu selalu membuat hatiku terluka."
"Alena katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan hubungan kita?" Brayen berusaha bertanya untuk yang terakhir kalinya menguji nyalinya yang ciut.
"Huuuuufffhhh...Aku...."
"PESAWAT UNTUK PENERBANGAN KOTA XXX AKAN SEGERA LEPAS LANDAS UNTUK PARA PENUMPANG DIMOHON SEGERA MEMPERSIAPKAN DIRI." Suara speaker menggema di seluruh penjuru bandara, itu adalah panggilan untuk para penumpang di kampung nelayan.
"Aku harus segera pergi bang... SELAMAT TINGGAL." Alena langsung menarik tangannya dari genggaman Brayen dan pergi meninggalkan Brayen yang terhenyak dengan jawaban Alena.
***
"Heh SELAMAT TINGGAL dia bilang SELAMAT TINGGAL... Aku tidak percaya dia mengucapkan kata selamat tinggal dengan semudah itu." Brayen tersenyum kecut mengejek dirinya sendiri, dia terus memandangi kepergian Alena. Brayen merasa separuh dari jiwa nya hilang, tak terasa air mata keluar dari mata elangnya, hatinya begitu rapuh dan sakit melihat kepergian Alena.
"Kau tahu Alena, perpisahan yang paling menyedihkan dan menyakitkan adalah ketika kita berpisah tapi hanya aku yang merasa kehilangan."
***
Alena berjalan terus kedepan dan sesekali menghapus air matanya. Sungguh di luar dugaan, ternyata berpisah dari Brayen lebih menyakitkan dari apa yang sudah dia bayangkan.
"Sumpah demi apapun sangat berat Aku mengucapkan kan kata SELAMAT TINGGAL. Semoga ini bisa jadi jalan yang terbaik. Jangan sedih tentang ini Alena. Mari hargai semua kenangan indah dan nantikan masa depan yang cerah. Jaga dirimu baik-baik Bang, selamat tinggal."
***
"Menoleh ke belakang Alena, Lihatlah sedikit ke arahku, supaya aku bisa memiliki harapan untuk mempertahankan mu. Aku hitung sampai 3, jika kau menoleh ke belakang maka aku akan menghalangi kepergianmu." Ucap Brayen sambil terus memandangi langkah Alena yang semakin lama semakin menjauh
"1...2...dua seperapat, dua setengah, dua sepertiga, hampir 3... Ti...ga...4...5...6....10...11...12......30... Huuuuufffhhh, dia benar-benar tidak menginginkanku." Brayen yang putus asa pun akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Alena.
Dan sayang sekali disaat bersamaan dengan Brayen yang berbalik dan pergi menjauh, Alena malah membalik tubuhnya melihat kepergian Brayen.
"Dia juga sama sekali tidak peduli aku pergi. Mungkin kami memang harus berpisah."
***
......Mohon sedekahnya untuk para pembaca yang aku cintai dan setia padaku. Saya minta sumbangan VOTE untuk karyaku ini seikhlasnya. Saya tidak maksa kok hehe cuma NGAREP BINGIT.......
...Terima kasih untuk yang sudah bersedekah pada AUTHOR yang receh ini soalnya LEVEL AUTOR receh ini semakin menurun karena pembaca kurang memberi LIKE DAN KOMENTAR padahal pembacanya berjumlah ratusan ribu tiap hari tapi LIKE dan FAVORITNYA tidak dipasang semua...
__ADS_1
...TERIMA KASIH SELAMAT MENIKMATI**...