
Iqbal membersihkan bahunya yang di tarik kasar oleh Arya seolah sedang membersihkan debu. Iqbal pun kesal dengan sikap Arya yang sembrono tapi dia masih bisa menahan diri.
"Tuan." Ujar Zain menunggu perintah. Iqbal ber'isyarat dengan matanya, jangan.
Arya sangat kesal pada dokter itu. Bisa bisanya dia mengatakan Alyn, istri Iqbal. Pada hal Arya adalah suaminya. Hingga Akhirnya Arya menarik Iqbal dengan kasar dari hadapan dokter. Rasa cemburu Arya kelewat batas jika berhubungan dengan Iqbal.
Tatapan Arya terlihat tidak bersahabat. Membuat dokter itu merasa tidak enak hati.
"Oh Maaf... Anda suami Nyonya Alyn." Ucapan dokter tidak mampu memperbaiki suasana hati Arya yang sedang di landa api cemburu.
"IYA SAYA SUAMINYA. Bukan DIA. Dia hanya BAYANGAN HITAM." Ujar Arya tegas tak terbantahkan. Membuat Iqbal semakin geram, ia hendak melangkah tapi Rani mencekal tangan Iqbal. Rani menatap Iqbal dengan sorot mata memohon jangan membuat keributan.
Dokter mengulurkan tangannya seolah sedang mengembalikan mainan Arya yang sudah ia rampas tapi Arya enggan menjabatnya. Dokter menarik tangannya kembali karena malu Arya tak kunjung meraih tangannya.
"Huuuuufffhhh..." Dokter menghela nafas kesal.
Tatapan Arya beralih pada Iqbal. Arya memberikan tatapan tajam yang ingin menikam." Berhenti mengganggu istriku." Rasa cemburu membuat Arya tak bisa membaca keadaan dengan baik.
Iqbal hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Arya. Membuat Arya menatapnya dengan nanar.
Baru satu langkah Iqbal melangkahkan kakinya ingin melawan Arya sebab tidak ada sedikitpun niat Iqbal untuk mengganggu istrinya, dia hanya berniat menolong Alyn, tapi Rani tiba-tiba menengahi.
"Maaf tuan Arya. Iqbal hanya ingin membantu Alyn, tidak ada niat sedikitpun untuk mengganggu istri anda." Ucap Rani berharap bisa mencairkan suasana.
"Membantu???....Apa kau menyentuh istriku???" Ujar Arya tegas dengan sorot mata tajam karena cemburu membayangkan Iqbal membawa Alyn ke rumah sakit. Rani menutup rapat mulutnya, sepertinya dia salah bicara. Iqbal pun mengepalkan tangannya.
"Tidak tuan." Rani menggeleng cepat.
"KAU PIKIR AKU...." Hardik Iqbal tiba tiba terpotong saat Rani memeluknya.
"Deg..." Jantung Iqbal bergemuruh hebat, ia tidak pernah sedekat ini dengan perempuan tidak juga dengan Alyn. Dengan Alyn Iqbal hanya berani menggenggam tangannya, bukankah mencintai juga harus menjaga kehormatannya.
Rani sangat tahu sekeras apa Iqbal. Rani tidak ingin ada pertikaian. Refleks Rani memeluk Iqbal.
"Tuan bukankah lebih baik anda menemui istri anda yang sedang hamil ?..." Ucapan dokter mengalihkan perhatian Arya.
"Tunggu..... Apa yang kau katakan tadi?..." Ujar Arya mulai menyadari keadaan tapi ingin memastikan.
"Selamat istri anda hamil." Ucap dokter terdengar lesu. Arya tercengang, dia diam sejenak mencerna ucapan dokter. Karena rasa cemburunya yang mendominasi membuat Arya telmi. Tak bisa mencerna ucapan dokter dengan baik.
"Anda bilang apa?..."
"Selamat Istri anda hamil. Kehamilannya sudah berjalan 8 minggu." Ucap dokter menjelaskan.
Mendadak emosi Arya yang meluap-luap sirna berganti Senyum lebar yang mengembangkan dari bibir Arya. Arya berhambur memeluk dokter karena sangat bahagia. Dan menepuk nepuk punggungnya.
"Di mana Istriku sekarang?..."
__ADS_1
"Mari ikuti saya." Arya mengikuti dokter dengan penuh kebahagiaan.
***
Wajah Rani bersemu merah ketika menyadari apa yang ia lakukan. Ia melepas pelukannya dan lari sekencang-kencangnya menjauh dari Iqbal.
Iqbal diam mematung mencerna perasaan dan rasa nyaman yang baru saja ia kenali. Apakah seperti ini rasanya bila pria bersentuhan dengan wanita. Apakah ini wajar.
"Tuan." Lamunan Iqbal di kejutkan dengan sentuhan Zain di bahunya.
Saat Iqbal hendak pergi, pandangannya beralih pada sepasang suami istri yang sedang bahagia menanti kehadiran sang debay.
Arya sangat bahagia, kehadirannya di sambut senyum dari istrinya.
"Mas..." Ucap Alyn dengan senyum manisnya.
Arya memeluk Alyn dan mengecupi semua wajah Alyn. Kemudian Arya duduk di kursi yang berada di samping ranjangnya.
Alyn mengambil tangan Arya dan di letakkan di atas perutnya. "Mas aku hamil." Ucap Alyn dengan bibirnya yang merekah.
Arya terus mengecupi tangan dan dahi Alyn. Tangannya juga tak henti hentinya membelai kepala Alyn.
"Terima kasih sayang, Terima kasih.... Terima kasih ya Allah." Ujar Arya meneteskan air mata. Alyn pun menghapus air mata bahagia di sudut matanya. Alyn sangat bahagia mendengar dari dokter bahwa dirinya sedang hamil apalagi melihat reaksi Arya yang bahagia dan mendambakan Anaknya, kebahagiaan Alyn tambah berlipat lipat.
"Jadilah anak Soleh jika laki laki. Jadilah anak Soleha jika perempuan. Aamiin." Ujar Arya penuh bahagia sambil mengusap-usap perut Alyn yang masih rata.
"Mas pengennya anak cewek apa cowok?..." Tanya Alyn.
Kini Arya beralih duduk di ranjang rumah sakit. Menciumi perut rata Alyn.
"Anak Papa tumbuh sehat ya di sini." Ucap Arya mengusap perut Alyn .
"Kok Papa sih mas...Abi saja."
"Babe sajalah...Kamu Enyak nya."
"Enyak Babe dong mas..."
"Hahahaha...." Di sahuti gelak tawa bahagia oleh keduanya.
Pemandangan yang indah namun pedih di mata dan meremas hati Iqbal. Iqbal pergi meninggalkan segenap duka lara di jiwa, dengan keputusasaan.
***
Beberapa hari kemudian di kediaman Arya....
"Tok tok tok.... Sayang buka pintu dong...Kangen nih pengen bobok bareng...."
__ADS_1
"Nggak mau mas. Kamu bau. Jangan deket deket. Bau mu bikin aku mual." Teriak Alyn dari balik pintu.
"Ya ampun Sayaaaang....Aku sudah mandi bolak balik. Sudah pakai parfum mahal. Cuma kamu satu satunya orang yang bilang aku bau." Ujar Arya, sambil mencium aroma tubuhnya sendiri. Para pelayan yang mendengar tersenyum melihat adegan seperti ini hampir tiap malam.
"Nggak mau....Aku tidak suka sama bau mu mas."
Arya berjalan keluar rumah menuju pos rumahnya. Dia memilih berkumpul dengan para penjaga rumahnya. Dia memilih curhat dengan para pekerja di rumahnya.
"Pak dulu waktu istri bapak hamil ngidam apa saja?..." Tanya Arya.
"ngidam makanan yang aneh aneh tiap tengah malam Tuan. Harus di turuti kalau tidak, akan merajuk sepanjang waktu."
"Kalau istri saja ngidamnya minta naik motor mengelilingi jalanan tiap malam. Anak yang di kandung bisa ngiler Tuan kalau tidak di turuti ngidamnya." Ujar penjaga satunya menimpali.
"Benarkah!... Bapak apakah saya bau?..." Tanya Arya.
"Tidak Tuan. Anda sangat harum. Kalau perempuan hamil memang sikapnya terkadang suka aneh aneh tuan." Arya hanya mengangguk mendengar penjelasan para penjaga rumahnya.
***
"Mas...Mas...Mas bangun." Alyn mentoel toel pipi Arya, membangunkan Arya yang tidur di kamar sebelahnya. Arya menyipitkan matanya melihat siapa yang membangunkannya.
"Sayang....Ada apa?" Tanya Arya sambil menggeliat.
"Aku takut mas... Tidur bareng yuk."
Arya tersenyum senang mendengar ucapan Alyn.
"Alhamdulillah akhirnyaaaa... Si junior pengen di jenguk ya."
Alyn keluar menuju kamarnya di ikuti Arya. Arya masuk ke dalam kamar mendahului Alyn. Arya tidur di atas ranjangnya.
"Mas turun dari ranjangku." Ujar Alyn. Arya mengerutkan alisnya.
"Kenapa?"
"Kamu bau mas."
"Tapi tadi kamu ngajakin aku tidur bareng."
"Iya. Mas tidur di sini tapi tidak di ranjang ku."
"Terus aku tidur di mana."
"Di mana saja mas. Asal di kamar ini tapi tidak di ranjangku."
"Oh ya Tuhan...." Keluh Arya menengadahkan tangan. Arya jadi ingat masa lalunya bersama Alyn. Ini yang namanya keadilan.
__ADS_1
****
SELAMAT MENIKMATI