
"Alena adalah gadis baik hanya saja dia belum bisa bersikap dewasa, belum bisa bukan berarti tidak bisa. Alena adalah adik dari istriku, jika kau melakukan kekerasan fisik padanya sama halnya dengan kau menyakiti istriku. Menyakiti istriku maka akan berurusan denganku." Ucap Arya menatap Brayen dengan intens.
"Aku mengerti." Ucap Brayen dengan wajah datarnya.
"Menikahlah... Niatkan karena ibadah pada Allah subhanallahu wa ta'ala... Jangan ada maksud terselubung."
"Berjanjilah kau tidak akan melukai Alena." Lanjut Arya.
"Aku tidak akan melukai Adik iparmu, percayalah." Ucap Brayen dengan senyum penuh arti.
***
"Mas bagaimana bisa Alena menikah dengan Brayen. Alena itu kekanak-kanakan, susah di atur. Kalau dia membuat Brayen emosi, aku takut Brayen akan melakukan kekerasan fisik pada Alena, seperti dia melakukan kekerasan pada Suci." Alyn sangat khawatir mendengar ucapan Arya dari ujung telepon bahwa Alena akan melakukan pernikahan di rumah sakit dengan Brayen di hadapan Abah yang baru sadarkan diri. Brayen sudah mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan.
Alyn sendiri tidak bisa menghadiri akad nikah Adiknya lantaran dia baru saja melahirkan dan tidak mungkin dia meninggalkan bayinya di rumah.
***
Beberapa saat kemudian Alena sudah sah menjadi istri Brayen. Mereka menikah di ruangan, tempat Abah Fajar di rawat, Alyn sendiri hanya bisa menyaksikan pernikahan adiknya lewat video call yang di lakukan Arya. Abah Fajar terlihat lebih lega.
"Jadi istri yang Soleha ya Nak, nurut sama suami. Perbaiki sikapmu. Tanggung jawab kami sebagai orang tua sudah beralih ke pundak suamimu. Ingat lah, berbakti pada suami lakukan tugas dan kewajiban mu sebagai seorang istri." Ucap Umi Naya menasehati Alena.
"Nak Brayen Umi titip Alena ya, tolong di jaga baik baik. Dia masih kekanak-kanakan tolong di bimbing ya Nak."
"Iya Umi." Jawab Brayen.
Kemudian Alena pulang ke kediaman Brayen, walau sebelumnya terjadi perdebatan kecil antara ibu dan anak, Alena kekeh tidak mau pulang ke rumah Brayen, dia masih ingin menemani Abahnya di rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah Brayen. Brayen menunjukkan kamar untuk Alena tanpa ba-bi-bu-be-bo Alena meluncur ke kamarnya meninggalkan Brayen yang hendak mengucapkan sesuatu. Brayen mengernyitkan alisnya melihat tingkah istri barunya.
"Besok sajalah." Gumam Brayen.
__ADS_1
Brayen menghubungi asisten pribadinya untuk menulis segala sesuatu yang harus di lakukan oleh Alena.
***
"Alena bangunlah...Bersiap siaplah untuk sholat shubuh. Sebentar lagi adzan." Brayen mengguncang lengan Alena dengan telunjuknya.
"Emmm...Iya nanti." Alena hanya menggeliat dan tidur lagi. Brayen menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi.
Tak lama kemudian Alena bangun dengan wajah bersungut-sungut karena Brayen memercikkan air ke wajahnya. Alena melihat jam masih 03.30 WIB.
"Hey Om.... Yang sopan kalau mau bangunin orang. Ini masih jam setengah empat. Waktu untuk sholat shubuh masih panjang." Ketus Alena yang di balas tatapan tajam oleh Brayen. Namun Alena tidak gentar sedikitpun. Brayen beranjak pergi dan Alena pun tidur kembali.
"Byuuuuurrr.....Aaaaaakkkkhhh...." Alena terbangun saat satu ember air di siramkan ke wajah Alena.
"Uhuk...Uhuuukkk... Uhuuukkk..." Alena terbatuk batuk dan menepuk nepuk dadanya karena guyuran air itu membuatnya tersedak.
"Om kau sudah gila ya... Kenapa menyiramkan air padaku." Teriak Alena kesal.
"Lihat saja aku akan membalas mu Om." Alena berdiri di atas ranjang, menunjuk wajah Brayen tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kreeeeeekkkkk..... Aaaaakkkhhh" Dengan sekali tarikan baju yang Alena kenakan robek oleh Brayen. Alena menyilangkan tangannya menutupi bagian yang terbuka. Dan terduduk, dia sangat malu.
"Mau melakukan ibadah yang mana? Di atas ranjang atau di atas sajadah?" Tegas Brayen.
"Om kau sudah janji tidak akan menyentuh ku" Alena mulai takut dan berkata lirih masih menundukkan kepalanya.
"Kau yang berjanji bukan aku. Ku tunggu kau di musholla, nanti akan ada pelayan yang mengantarkan mu." Ucap Brayen.
Brayen pergi, namun beberapa langkah ia berjalan, kakinya terhenti.
"Jangan membuat ku marah, kau akan rugi sendiri." Ucap Brayen tanpa menoleh kemudian pergi meninggalkan Alena di atas ranjang yang basah dengan tubuh yang kedinginan.
"Apa maksudnya aku yang berjanji? Apa dia akan mengingkari janjinya dan melakukan itu dengan ku." Membayangkan itu membuat Alena merinding.
__ADS_1
Alena bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, dia tidak ingin membuat Brayen marah, yang ada dia malah akan mendapat hukuman lagi.
Brayen mandi dengan air dingin, menetralkan tubuhnya yang menegang. Dia tetaplah Pria normal, melihat hal seperti itu gairahnya membuncah.
***
Setelah melakukan ibadah sholat berjamaah Brayen mengeluh lapar pada Alena. Dia ingin Alena yang memasak untuknya.
"Aku tidak bisa masak?"
"Disini kau hanya mendapatkan dua pilihan. Melayani ku di atas meja makan atau melayaniku diatas ranjang?" Ucap Brayen walau pun dia tidak pernah berniat untuk melakukan itu.
"Beri aku waktu untuk belajar memasak...?"
"Dapurnya ada di sana." Brayen menunjuk arah dapur."Satu jam makanan harus sudah siap." Tegas Brayen.
"APA???" Alena terkejut.
"Waktumu di mulai dari sekarang." Ujar Brayen tegas tak terbantahkan. Tak memberi Alena Pilihan, dia beranjak ke dapur. Alena kebingungan mencari sesuatu yang bisa dia masak. Alena seperti sedang mengikuti ajang kompetisi Master chef tanpa skill dan pembimbing.
Dia membuka kulkas, banyak sekali bahan yang bisa di olah untuk di jadikan makanan tapi Alena tidak tahu sama sekali bagaimana cara mengolahnya.
Alena memilih telur yang di rasa paling mudah.
"Oh ya, masak nasi dulu." Alena mengambil beras dari tempat penyimpanan besar yang terlihat jelas. Setelah Alena mencuci beras dia kebingungan mau di isi seberapa banyak airnya. Alena membuka Hpnya. Mengikuti instruksi dari video yang dia tonton.
Kemudian Alena menonton video cara memasak telur.
"Ini akibat tidak pernah bantu Umi di dapur. Aku terlalu manja sampai setiap ucapan Abah dan Umi tidak pernah ku dengarkan. Sekarang lihat... Suami macam apa yang ku dapat. Abah, Umi Alena kangen." Gumam Alena, ia mulai lesu. Belum 24 jam menjadi istrinya Alena sudah merasa sangat tertekan.
***
Selamat menikmati.
__ADS_1