
"Aaaaakkkhhh.....Aaaaaakkkkkhhh.... Aaaaakkkhhh...." Alena hanya berteriak histeris menyaksikan Brayen yang terjatuh di tengah jalan sampai Akhirnya Alena pingsan.
Tiba-tiba mobil melesat dengan kecepatan penuh, melintang di tengah jalan melindungi tubuh Brayen dari luncuran senjata.
Peluru terus menghujani mobil milik Arya. Khasanuci turun dari mobil di pintu sebelah kiri, dengan tubuh yang membungkuk menghindari tembakan. Kemudian membawa Brayen masuk ke dalam mobil.
Saat bala bantuan dari pihak Brayen datang, lawan melarikan diri dengan membawa Alena yang sudah tidak sadarkan diri.
Mobil yang di kemudikan Arya melaju dengan kecepatan penuh mengejar mobil musuh. Mobil saling kejar kejaran di jalan yang luas di tengah padatnya kendaraan, menyalip setiap mobil yang melaju di depan.
Khasanuci berhasil menembak ban mobil belakang musuh hingga mobil itu melaju oleng. Tapi mobil itu terus melaju, mencoba menyeimbangkan jalannya yang ugal-ugalan.
Mobil musuh berbelok ke sebelah kiri di pertigaan jalan yang sepi tanpa CCTV jalanan, lalu memasuki Truk yang sudah di siapkan. Kemudian para penjahat itu segera menutup Truk dari belakang. Aman, jejaknya menghilang.
Mobil Arya berbelok mengikuti jalan yang di lewati si penculik. Melewati Truk besar yang berisi mobil Si penculik. Arya dan Khasanuci berhasil di kelabui Si penculik dengan sangat mudah. Arya kehilangan jejak. Arya dan Khasanuci sudah tidak bisa menemukan mobil penculik itu lagi.
Kemudian Truk mulai melaju bebas, melewati mobil yang di kendarai Arya, tanpa Arya sadari. Arya hanya melihat tanpa mengamatinya. Arya dan Khasanuci akan mengumpat setelah nanti menyadarinya bahwa Truk itu lah yang mengangkut mobil si penculik.
Di persimpangan jalan Arya kebingungan memilih jalan yang mana. Arya menyuruh mobil anak buahnya ke kiri dan ke kanan jalan, berpencar untuk mencari Alena. Sebelum Arya turun dari mobil dia berbisik pada Khasanuci.
"Baik Tuan." Ucap Khasanuci mematuhi perintah Arya.
"Bawa dia ke rumah sakit. Aku bersama anak buahku akan mencari Alena." Ucap Arya dengan nada gelisah, was was bercampur geram.
"Beri pengamanan ketat padanya, bawa semua keluarga ke rumah Brayen. Sistem keamanan di sana lebih mumpuni."
"Baik Tuan."
Kemudian Arya turun dari mobilnya dan berpindah memasuki mobil yang di bawa anak buahnya. Arya duduk di jok depan sementara anak buahnya mengemudikan mobilnya.
Dengan segera mobil Khasanuci melesat dengan kecepatan penuh. Karena waktunya tidak banyak.
Arya menghubungi detektif andalannya, menghubungi anak buahnya yang lain untuk menjaga jalan di jalur luar kota dan bandara. Kemudian Arya menghubungi Iqbal, meminta bantuan darinya.
Arya dan anak buahnya mengelilingi jalanan, mereka hanya berputar putar tidak jelas sambil menunggu informasi lebih lanjut dari Iqbal dan detektif suruhannya, serta anak buahnya. Nyawa adik iparnya dalam bahaya, Arya sangat gelisah memikirkan kemungkinan terburuknya.
__ADS_1
"Tring Tring Tring..." Suara ponsel Arya berdering. Di lihatnya Panggilan dari Iqbal.
"Hallo bagaimana?..." Ucap Arya mendahului.
"Jangan buang buang waktu anda di jalan, pulang lah, atur rencana. Kemungkinan mobil itu masuk ke dalam Truk untuk mengecoh anda."
"Truk???..." Arya berpikir berusaha mengingat.
"Ya, karena tidak ada satupun mobil yang melintas di jalur yang anda lewati saat anda Kehilangan jejaknya. Sementara jalan itu hanya ada dinding tanpa pintu di sepanjang jalan."
"Aaaahh...Sial. Bodoh bodoh bodoh..." Geram Arya memukul mukul bagian depan mobil yang ada di hadapannya.
"Tenangkan diri anda, jika ingin menyelesaikan masalah." Ucap Iqbal, Walaupun ia tahu sulit untuk seseorang berpikir secara rasional dalam keadaan genting.
"Di mana truk itu sekarang?..."
"Truknya saja yang ada tanpa penumpang. Percuma di kejar. Tim kami sudah kehilangan jejak. Mereka lawan yang terlatih dan profesional." Sahut Iqbal.
Akhirnya Arya dan anak buahnya menyerah dan pulang dengan tangan kosong. Dan akan mengatur siasat selanjutnya.
***
Saat mata bulatnya terbuka sempurna, ia terbelalak. Yang pertama kali di lihatnya adalah renda cantik yang mengayun mengelilingi ranjang yang ia tiduri. Ranjang bernuansa Eropa klasik dengan ukuran big size, ranjang yang cantik penuh ukiran dengan warna caremel. Alena berada dalam kamar yang indah dan megah, tepat di tengah tengah ranjang yang empuk.
"Aaaaakkkhhh.... Aaakkkkhhhhh.... Aaakkkkhhhhh...." Alena berteriak histeris saat menyadari ini semua bukan mimpi. Alena berteriak seperti orang Kehilangan akal sehatnya saat mengingat Brayen tertembak di bagian dadanya dan jatuh di tengah jalan. Hatinya terluka, hatinya sedih, hatinya berduka melihat suami tercintanya terkapar tak berdaya.
Alena turun dari ranjang dan berlari menuju pintu. Alena menarik narik gagang pintu berusaha membukanya. Tapi pintu itu masih tertutup rapat.
"Buka pintunyaaaaa.... Buka pintunyaaaa.... Aku mau ketemu suamiku.... Suamiku terluka, dia butuh aku. Siapapun tolong aku.... Aaakkkkhhhhh..... Bukaaaa.... Brak brak brak brak brak.... Buka, tolong buka. Aku takut dia kenapa napa. Dia pasti akan mencariku. Kalian siapa?... Kalian mau apa?..." Alena berteriak teriak dan menggedor gedor pintunya tapi tidak ada satupun yang mau mendengarnya.
"Tolong buka pintunya, aku pengen ketemu suamiku." Alena terus menggedor gedor pintu tapi tidak mendapatkan reaksi apapun. Alena berlari ke arah jendela, berusaha membukanya tapi tidak bisa. Jendela itu begitu alot, walaupun terpasang jeruji besi tapi Alena tetap berusaha membuka kaca jendela itu. Berharap jika di berteriak, ada seseorang yang mendengar dan mau membantunya keluar dari masalahnya. Tapi usahanya sia sia, jendela itu terlalu kokoh.
"Praaaankkk...." Alena melempar cermin dengan vas bunga hingga pecah dan serpihan kaca berjatuhan di atas karpet mewah. Alena juga melempar kaca jendela dengan vas bunga tapi malah Vas bunganya yang pecah. Alena memporak porandakan kamar mewah itu, dia membuat kegaduhan berharap ada seseorang yang datang dan memberikan penjelasan padanya.
"Aaaaakkkhhh..." Kaki Alena menginjak potongan Kaca saat hendak menuju pintu, dia mencabut pecahan kaca yang tertancap di kakinya. "Aaaahh." Alena meringis kesakitan. Kemudian Alena berjalan dengan kaki berjinjit ke tepi ranjang. Tubuh Alena merosot ke bawah, di atas karpet yang mengitari lantai kamar.
__ADS_1
"Aaaaa.....Aku pengen ketemu suamiku... Abang kamu baik baik saja kan Bang?... Aaaaa... Abang jangan mati, kalau Abang mati aku ikut Abang aja. Aku takut kehilanganmu Bang...Aaaaa....Aku nggak kuat." Hati Alena begitu sakit saat membayangkan hal yang tidak tidak terjadi pada Brayen. Rongga dadanya begitu sesak, membayangkan kemungkinan terburuknya. Alena menangis sejadi jadinya. Menumpahkan semua emosinya lewat air mata. Mengutarakan kesedihannya lewat tangisannya. Saat bibir tak bisa menyampaikan kesedihan hati, maka air mata lah berbicara.
"Ceklek." Suara pintu terbuka, Alena masih belum menyadarinya. Derap langkah kaki mulai terdengar. Alena berhenti menangis saat melihat kaki panjang seseorang berdiri di samping Alena. Alena segera menghapus air matanya.
Alena mendongakkan kepalanya, dia melihat seorang lelaki tampan dan gagah menatapnya, dengan membawa kotak P3K.
"Siapa kau?..." Ketus Alena dengan memicingkan mata.
"What are you talking about?...(Kau bicara apa?...)"
"Who are you and what do you do want?...(kau siapa dan mau apa?)"
"I am your God Helper. (Aku dewa penolong mu)"
"Is that true?...(Benarkah)." Ucap Alena memicingkan mata.
"Off course. This is a medicine to treat your feet.(Oh tentu, ini obat untuk mengobati kakimu.)"
Kemudian pria itu berjongkok hendak membantu mengobati kaki Alena yang terluka, namun Alena menolak.
"Now let me go.(Sekarang biarkan aku pergi.)"
Ucap Alena dengan nada membentak dan mata melotot.
"Hemmmm Attractive... You are beautiful but fierce.(Hemmm menarik. Kau cantik tapi galak.)" Ucap pria itu yang kemudian meraih dagu Alena.
"Aaawww..." Pria itu berteriak saat Alena menggigit tangannya. Pria itu hanya mengibas ngibaskan tangannya yang sakit. Sementara Alena menatapnya nyalang.
"Crazy girl. I have surprise for you.(Gadis gila aku punya kejutan untuk mu.)" Kemudian pria itu menunjukkan berita hot yang sedang beredar di dunia Maya.
"Aaaaakkkhhh.... Ini bohong....Aku tidak percaya...." Alena mencengkram kerah kemeja pria tersebut dan mengguncangnya. Tangis Alena pecah saat melihat berita tentang kematian Brayen di dunia Maya menjadi sorotan.
***
SELAMAT MENIKMATI
__ADS_1