
"Aku memang sudah bersedih semenjak menjadi istrimu Om." Pernyataan Alena ini sungguh menyakiti hati Brayen. Ini kali kedua kehadiran Brayen tidak diinginkan dalam hidup seseorang, yang pertama dibuang oleh orangtuanya di panti asuhan dan yang kedua dia tidak diinginkan istrinya.
Menerima kenyataan pahit itu membuat dadanya sesak, sakit sungguh sangat sakit pernyataan Alena.
Brayen langsung membanting setir menepi di pinggir jalan, Alena langsung menatap wajah Brayen. Wajah Brayen terlihat begitu rapuh dan sedih. Ucapan Alena sungguh mengusik ketenangan hati Brayen. Ia merasa sangat frustasi mendengar penolakan dari Alena.
"Apa sebegitu menyedihkannya menjadi istriku, Alena?..." Brayen menatap Alena dengan mata yang sudah memerah dan tatapan mata yang hampa.
"Iya aku sedih karena harus terjerat pernikahan dengan Om." Brayen tersenyum kecut pada Alena. Alena mengucapkan kata itu dengan hati yang kalut. Ingin sekali Alena mengatakan bahwa Alena mulai nyaman berada di sisi Brayen tapi sifat Brayen yang keras dan menuntut serta sikapnya pada wanita itu membuat Alena ragu akan perasaannya sendiri.
Alena memutuskan menutup hati untuk Brayen, sebab Dia tidak ingin mengalami perasaan yang bertepuk sebelah tangan, apalagi Alena takut jika sewaktu-waktu Brayen akan melakukan kekerasan fisik padanya. Seperti saat di rumah sakit Brayen sudah hampir menamparnya. Beruntung wanita itu menahan tangan Brayen, seandainya bukan karena wanita itu, sudah pasti tangan Brayen berhasil mendarat di pipi Alena.
"Huuuuufffhhh...." Hanya helaan nafas yang bisa Brayen tunjukkan pada Alena. Kemudian Brayen mulai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, suasana hatiku sangat kacau. Saat ini dia tidak pedulikan dengan keselamatan berkendara di jalan. Brayen tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, karena dia tidak mau menjalin cinta yang akan menjerat hidupnya dalam kenestapaan. Kini apa yang di takutinya menjadi nyata. Brayen sangat bodoh dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi wanita.
"Om Brayen ini kenapa sebenarnya? Bukankah dia juga sama terpaksanya menikah denganku. Jika dia lebih mementingkan wanita itu daripada menjaga perasaanku."
"Bukankah tidak masalah jika aku juga tidak menginginkan pernikahan ini, sama dengan dirinya yang juga tidak menginginkan pernikahan ini...Lalu untuk apa pernikahan ini masih dilanjutkan?... Bukankah lebih cepat berakhir lebih baik. Om Brayen hanya menungguku untuk menjadi gadis yang manis, maka Om Brayen akan mengembalikan ku pada orang tuaku. Baik aku akan mewujudkan keinginan Om Brayen. Dari pada semakin lama semakin menyakitkan." Alena membatin, Dia ingat betul bagaimana ucapan Brayen sebelum dia menikahi Alena.
Semua gejolak berkecamuk di pikiran Brayen. Ia jadi teringat Arya. Bagaimana bisa Alyn memaafkan Arya, setelah semua kesalahan yang dilakukan oleh Arya. Apakah karena sifat Alyn dan Alena jauh berbeda. Apakah Brayen harus berguru pada Arya. Ini sangat memalukan bagi Brayen.
"Kenapa Om Brayen terlihat sangat marah. Memangnya apalagi salahku kali ini."
***
Alena meminta diantar ke rumah sakit, ingin mengunjungi sang Abah, selain itu Alena masih ingin menjaga jarak dengan Brayen. Brayen pun menuruti keinginan Alena.
"Assalamualaikum." Ucap Brayen dan Alena bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab orang yang berada di dalam ruangan Abah.
Kemudian Alena dan Brayen memasuki ruangan dan mengecup punggung tangan kedua orang tuanya.
"Umi, bagaimana keadaan Abah?" Ucap Alena.
"Abah sudah sangat baik dan sangat sehat, dokter sudah mengijinkan Abah untuk pulang besok."
"Terus Umi mau langsung balik ke kampung Nelayan?" Alena bertanya dengan wajah sendu.
"Kami langsung pulang ke Kampung Nelayan."
"Apa tidak sebaiknya Abah dan Umi tinggal di sini dulu. Di rumah Om Brayen atau kak Arya. Iya kan Om."
"Iya." Sebenarnya Brayen malu dengan panggilan Om di depan mertuanya.
"Alena jangan panggil Nak Brayen Om. Dia itu suamimu. Panggil Mas gitu loh." Mendengar ucapan Umi, Alena malah cengengesan dengan kata itu "MAS", terasa geli di telinga Alena. Reaksi Alena malah membuat Brayen salah tingkah.
__ADS_1
"MAS hihihihihihi." Ucap Alena menutup mulutnya sambil cengengesan."Umur 31 masak di panggil mas sih. Abang lebih Cocok."
"Alena kenapa malah cengengesan." Umi bertanya.
"Aaahhh nggak cocok Umi. Cocokkan Abang. Abang saja ya Om."
"Iya." Walaupun tidak Iklas Brayen tetap mengiyakan.
"Berasa jadi Abang tukang bakso marilah kemari aku mau beli." Brayen membantin.
Kemudian HP Brayen berbunyi. Brayen menerima panggilan itu dan keluar dari ruangan Abah.
"Bagaimana dengan pernikahan kamu? Apakah suamimu baik?..."
"Iya Umi, suamiku sangat baik, dia juga orang yang dermawan. Umi jangan khawatir Umi jaga kesehatan Abah saja ya. Alena baik-baik saja kok."
"Baguslah kalau begitu Ibu ikut bahagia." Ucap Umi sambil membelai kepala putrinya.
"Kamu harus jadi istri yang baik, jangan suka ngebantah Ucapan suami kalau itu benar. Layani suamimu dengan baik. Kamu mengerti." Alena hanya mengangguk tak mau berjanji pada sang Umi.
Setelah Sore hari Alena dan Brayen pulang kekediaman Brayen. Di dalam mobil keduanya sama sama diam. Sebenarnya keduanya rindu dengan suasana ceria sebelum peristiwa di rumah sakit itu, hanya saja keduanya sama-sama gengsi dan memegang ego masing-masing.
Setelah sampai di kediaman Brayen, Alena langsung turun dari mobil dan mengurung di dalam kamar.
***
Keesokan paginya pukul 03.30 WIB Brayen memasuki kamar Alena, Brayen menyingkirkan selimut yang menutupi gundukan besar di tengah ranjang yang ternyata hanya guling tanpa adanya Alena. Brayen mulai gugup, takut Alena kabur lagi. Brayen sedikit berlari keluar kamar, dengan langkah panjang ia mencari Alena.
"ALENA... ALENA... ALENA...." Brayen berteriak teriak mencari keberadaan Alena.
"Nona Alena berada di dapur tuan." Pelayan memberi tahu keberadaan Alena pada Brayen, dan Brayen pun langsung menghampiri Alena.
"Apa yang dilakukan Gadis itu di pagi buta seperti ini."Brayen menggerutu di dalam hati.
Saat Brayen memasuki dapur dia melihat Alena yang sedang meracik masakan, dia merasa heran dengan perubahan sikap Alena. Gadis pemalas ini memasak di dapur tanpa ia perintah.
Brayen jadi ingat Ucapan bi Ijah, Alena belajar memasak mati matian karena takut di SIKSA.
"Huuuuufffhhh..." Mengingat itu membuat Brayen menghela nafas.
"Alena Apa yang kau lakukan?..." Mendengar suara Brayen Alena langsung berbalik dan memberikan senyuman secerah matahari pada Brayen, ini sangat aneh, karena semalam saja sikap Alena masih dingin terkadang juga terlihat sedih. Kenapa suasana hati Alena cepat berubah?
"Aku sedang masak buat Abang lah." Ucap Alena dengan wajah ceria.
"Oya.... Memangnya kamu masak apa?" Brayen bertanya dengan sangat antusias, karena bahagia melihat Alena kembali ceria. Brayen menghampiri Alena dan berdiri bersisian.
__ADS_1
"Masak seikhlas Bang."
"Memangnya ada ya jenis masakan yang berjenis seikhlasnya."
"Ini, Ada." Ucap Alena menunjuk sayuran yang bentuknya buruk. Brayen mengangguk.
"Aku tinggal sholat sebentar ya." Ucap Brayen setelah berbincang-bincang sebentar dengan Alena.
"Iya Bang."
***
Kemudian Alena mulai memasaknya. Setelah matang. Alena menyajikannya di atas piring.
Dan memberikannya pada Brayen yang sudah menunggu di meja makan. Makanan itu bentuknya tidak karuan. Bentuknya seperti muntahan. Brayen jadi ngeri sendiri melihat wujudnya. Brayen menutup mata lalu menyantapnya. Setelah mengunyah dia membuka matanya.
"Heeemmmm, ternyata enak, walaupun bentuknya seperti muntahan kucing." Mendengar Ucapan Brayen bibir Alena mengerucut. Sepertinya Brayen salah berucap.
"Hey, Ini beneran enak loh." Brayen berusaha menghibur Alena yang sedang dongkol.
"Serius Om, Eh Bang."
"Iya. Sini cobain deh." Ucap Brayen. Kemudian Alena duduk di samping Brayen. Brayen lalu menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Alena.
"Iya Bang enak, walaupun bentuknya kayak tai kucing." Ucap Alena sambil mengunyah.
"Kenapa nama masakan ini seikhlasnya?" Brayen bertanya sambil terus mengunyah.
"Karena ini masakan apa adanya, masak sak karepe dewe(masak sebisanya) jadi ku namai masakan seikhlasnya."
"Wah...Masak sak karepe dewe aja enak, apa lagi nggak sak karepe dewe. Pasti jauh lebih enak. Oya Alena, tumben kamu tidak jutek sama aku?... Perhatian lagi?..."
"Lah kan Abang sudah janji kalau aku bisa bersikap baik dan manis Abang akan mengembalikan aku ke rumah orang tua ku."
"Uhuuuuk uhuuuuk uhuuuuk uhuuuuk..." Brayen memukul mukul dadanya karena tersedak. Tutur kata polos Alena membuat Brayen syok, Alena tak tahu sehancur apa hati Brayen saat ini setelah sesaat lalu Alena membawa Brayen melambung tinggi.
Alena memberikan Brayen satu gelas air putih.
"Pelan pelan Bang kalau makan, jadi tersedak kan?..." Ucap Alena sambil memijat tengkuk Brayen. Kemudian Brayen meraih tangan Alena.
"Baiklah... Bersiaplah nanti aku akan mengantarmu pulang ke Kampung Nelayan." Ucap Brayen dengan menatap intens mata lentik Alena. Mencoba menyelami isi hati Alena lewat tatapan matanya.
***
SELAMAT MENIKMATI JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR PAKE LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT
__ADS_1