
Sepanjang perjalanan Alena dan Brayen hanya diam, terjadi kecanggungan di antara keduanya setelah Alena mengucapkan kata yang memalukan. Alena hanya menghadap jendela melihat pemandangan luar dari kaca jendela mobil yang buram. Merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengontrol lisan.
Sementara Brayen fokus mengemudikan mobil memandangi jalanan dari kaca basah yang di sapu windscreen wiper. Suasana hening hanya terdengar suara deru mobil dan suara windscreen wiper yang bergerak ke kanan dan ke kiri menyapu kaca mobil dari guyuran air hujan.
Beberapa saat kemudian mobil yang di tumpangi mereka berdua sampai di depan rumah sakit.
"Alena kau masuk duluan. Aku mau memarkir mobil dan berganti pakaian." Ucap Brayen. Alena hanya mengangguk.
"Kau masih ingat kan jalan menuju ruangan Abah?..." Ucap Brayen menatap Alena, saat Alena sudah membuka pintu mobil. Lagi lagi Alena hanya mengangguk, lalu turun dari mobil meninggalkan pakaian Brayen yang sejak tadi dia pangku, di atas kursi duduknya.
Alena berjalan melewati lorong dan tiap-tiap ruang rawat inap. Terlihat beberapa orang dan perawat berseliweran.
"Assalamualaikum...." Ucap Alena setelah membuka kamar rawat Abah.
"Wa Alaikum salam..." Ucap Abah, Umi dan Arya serempak. Mereka semua heran melihat penampilan Alena dengan baju syar'i.
"Abah... Bagaimana keadaan Abah?...Apa sudah lebih baik?..." Tidak ada yang menjawab, penampilan baru Alena membuat hati semua orang yang melihatnya bertanya tanya.
"Tumben kamu pakai hijab?..." Ucap Umi.
"Suamiku yang nyuruh aku berhijab mulai sekarang."
"Terus kamu mau...."
"Iya..."
Kebahagiaan terlihat jelas di mata kedua orang tua Alena. Umi dan Abah selalu menasehati anak anaknya untuk berhijab tapi tidak ada yang mau menurut tapi setelah menikah Akhirnya anak anaknya mau menutup aurat dengan sempurna.
"Di mana suami kamu?... Abah harus berterima kasih padanya karena bisa membuat mu mau menutup aurat." Ucap Abah yang terlihat jelas pancaran kebahagiaan di wajahnya.
"Dia sedang berganti pakaian. Tadi bajunya basah kuyup karena kehujanan."
"Kok bisa... Memangnya kalian naik apa kemari." Umi Naya bertanya.
"Naik mobil...." Kemudian Alena menceritakan sebab akibat dari basahnya baju Brayen. Umi dan Abah sangat bersyukur memiliki menantu baik hati seperti Brayen. Arya hanya tersenyum, menerka nerka apa yang sudah di lakukan Brayen pada Alena.
__ADS_1
***
Brayen berjalan melewati lorong-lorong...Di sekitarnya ada ruang nifas, ruang bersalin dan ruang ob-gyn. Tidak jauh dari tempatnya berjalan seorang wanita di depan Brayen membelakanginya. Wanita itu berjalan begitu lamban dan tidak seimbang dengan langkah terhuyung, sesekali dia memegangi kepalanya. Terlihat dari gendongan yang tersampir di bahunya dia pasti sedang menggendong bayi.
Brayen mempercepat langkahnya sebelum akhirnya wanita itu jatuh di pelukannya.
"Kau..." Cetus Brayen terkejut. Menatap bayi di pelukan ibunya, bayi yang masih merah, bayi itu mungkin masih berumur beberapa hari.
"Tuan, kau..."
Kemudian Brayen memapah wanita itu dan mendudukkannya di kursi yang berderet di depan ruang bersalin.
"Apa kau sudah menikah?..." Suci menggelengkan kepala. Brayen jadi ingat dengan one night stand yang dilakukan Suci dan Cassanova sekaligus Mahasiswa abadi itu.
Brayen memandangi wajah bayi yang masih merah itu dengan iba. Dia mengingat nasibnya yang di buang ke panti asuhan saat masih bayi. Mungkin karena Brayen adalah hasil dari hubungan terlarang, maka keberadaannya tidak di inginkan. Brayen berwatak keras namun berhati mulia. Hatinya mudah luluh terutama jika menyangkut anak yatim-piatu.
"Apa dia anak dari hubungan one night stand kamu dan mahasiswa itu?..." Pertanyaan Brayen di jawab anggukan kecil oleh Suci. Suci sendiri merasa sangat malu, mendapati keadaan Suci yang begitu menyedihkan.
"Dia laki laki atau perempuan?..."
"Perempuan." Jawab Suci.
Setiap manusia yang di lahirkan di muka bumi ini, di lahirkan dalam keadaan fitrah yakni suci tidak memiliki dosa walaupun orang tuanya telah berbuat dosa. Seperti itulah gambaran yang ada di benak Brayen.
"Boleh aku menggendongnya?..."
"Boleh..."
Brayen mengambil bayi itu dari gendongan Suci. Brayen menggendongnya dengan penuh kasih sayang.
"Dia cantik..." Ucap Brayen tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah bayi itu.
"Iya..."
"Maaf..." Ucap Brayen.
__ADS_1
"Untuk apa anda meminta maaf tuan?..."
"Aku tidak tahu jika waktu itu kau sedang hamil. Dan aku malah menyiksamu."
"Tidak apa-apa. Saya sendiri baru tahu jika saya hamil setelah usia kandungan saya berumur 4 bulan."
"Harusnya saya berterima kasih kepada anda...Berkat shock terapi dari anda, saya bisa menyadari semua kesalahan saya pada Arya dan Alyn. Terlebih dosa saya pada Tuhan." Suci tersenyum miris, mengejek dirinya sendiri.
"Saya pikir Tuhan telah menghukum saya dengan hilangnya kehormatan saya, yang entah telah saya berikan kepada siapa...!"
"Tapi nyatanya Tuhan juga memberikan beban untuk putri saya. Dia yang akan menanggung malu untuk kesalahan yang telah orang tuanya perbuat."
"Jika kamu tidak menginginkan bayi ini. Aku yang akan merawatnya." Ucap Brayen yang takut bayi ini akan Suci telantarkan, mengingat Suci yang bersifat buruk dulu.
"Terima kasih....Tapi itu tidak perlu....Dia satu satunya Keluarga yang saya miliki. Saya akan merawat dan menjaganya dengan sepenuh hati saya." Ucap Suci.
"Kau terlihat pucat....Apa kau sakit?..."
"Tidak....Aku hanya kelelahan menjaganya sepanjang malam....Dan lupa belum makan siang."
"Kau ambil lah satu kotak makanan yang aku bawa..." Brayen menunjuk kantung plastik yang berada di atas kursi dengan dagunya. Setelah berganti pakaian Brayen membeli 5 kotak nasi.
"Tidak perlu tuan...Saya bisa membelinya sendiri." Suci menolak karena merasa sungkan.
"Jangan membantahku, kau juga harus menjaga kesehatan demi anakmu. Jika kamu sakit lalu siapa yang akan menjaga anakmu."
"Terima kasih..." Ucap Suci kemudian dia mengambil satu kotak nasi dan membuka kotak itu dan memakannya.
Sementara Brayen menggendong bayi itu kesana kemari dengan sesekali mencium pipinya yang harus. Brayen memang sangat menyukai bayi. Lebih tepatnya tidak tega jika melihat anak tanpa orang tua lengkap.
Mereka terlihat seperti sepasang suami istri, terlihat seperti keluarga harmonis di depan mata Alena yang bersembunyi di balik dinding cukup jauh jaraknya dari mereka.
Alena memperhatikan Brayen saat mondar mandir kesana-kemari sambil mencium pipi bayi itu dan sesekali tersenyum ke arah Suci, tanpa tahu apa yang mereka perbincangkan. Di mata Alena mereka cukup akrab.
"Siapa wanita itu? Apa Om Brayen sudah menikah dan punya anak?"
__ADS_1
***
HAPPY READING....Jangan lupa dukung author pake Like komentar vote favorit.