
Alena mengunci diri di dalam kamar. Berulang kali Alyn mengetuk pintu untuk mengajaknya makan malam bersama tapi Alena menolak.
Kemarahannya pada Brayen belum sirna, Alena sangat terpukul dengan sikap Brayen. Padahal Alena sudah berusaha berubah tapi apa yang di lakukan. Dia melarang Alena dekat dengan siapapun, nyatanya dia sendiri malah dekat dengan wanita lain. Bahkan hampir menamparnya demi wanita itu. Kecewa yang teramat Alena rasakan, walaupun pernikahan terjadi karena keterpaksaan tapi istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya memeluk perempuan lain.
"Dek, ayo buka pintunya dong, jangan kayak anak kecil. Kamu sudah gede, Ayo makan kamu juga harus jaga kesehatan kalau nggak, bisa sakit loh... Ingat ya kamu punya penyakit maag. Kalau kamu telat makan Takut maag kamu kambuh lagi." Ujar Alyn membujuk Alena.
"Nggak mau mbak. Aku sudah kenyang. Kalian makan saja, tidak usah menungguku. Aku tidak lapar, aku cuma mau tidur." Alena bersikeras menolak, sebab dia tidak ingin berhadapan dengan Brayen. Kemudian Alyn kembali ke ruang makan.
Brayen yang melihat Alyn hanya datang sendiri bertanya-tanya di mana istrinya? Kenapa Alyn datang seorang diri. Apakah Alena karena kemarahannya dia tidak mau melihat Brayen.
"Alena di mana? Kenapa dia tidak datang bersamamu?..."
"Alena tidak mau makan, dia mengunci pintu kamarnya dari dalam. Sudah ku bujuk bolak-balik tapi tetap tidak mau keluar."
"Dia masih ngambek?" Ucap Arya.
"IYA." Jawab Alyn. Arya malah tersenyum mengejek pada Brayen, membuat Brayen semakin kesal pada Arya. Dia bicara seolah tak pernah melakukan dosa.
"Apa jika marah Alena Ngambek nya lama?..."Brayen bertanya karena di musuhi Alena membuat hati nya gelisah, hidupnya hambar.
"Nggak juga sih kak. Tergantung besar kecilnya masalahnya. Biasanya kalau marah cepat redanya."
"Alena harus makan, biar aku yang mengantar makanan yang ke sana." Ucap Brayen.
"Jika kamu yang mengantar makanannya ke sana yang ada dia malah mengunci pintu rapat-rapat.. Bisa saja dia akan melempar makanan ke wajahmu." Ucap Arya pada Brayen.
***
Beberapa saat kemudian Alyn kembali datang ke kamar Alena.
__ADS_1
"Dik buka pintunya, kalau kamu gak mau makan di meja makan bersama, kamu bisa makan dikamar. Ini mbak bawain kamu makanan. Kamu belum makan loh sejak tadi, kamu pasti lapar."
"Iya Mbak, sebentar."
Kemudian Alena beranjak dari ranjangnya, berjalan penuh semangat ke pintu. Alena membuka pintu lebar-lebar, Alena terkejut saat melihat Brayen berada di depan pintu dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman dengan segera Alena menutup pintu tapi kaki Brayen berhasil menjegal pintu itu dengan kakinya hingga tak bisa ditutup.
Brayen memaksa masuk ke dalam kamar. Brayen mendorong pintu dengan lengannya menyamping saat Alena bersikeras menutup pintu. Brayen lalu menerobos masuk. Setelah berhasil masuk, Kemudian Brayen menutup pintu dengan kakinya. Memegang nampan hanya dengan satu tangan lalu mengunci pintunya dari dalam dengan tangan satunya. Alena tidak bisa kabur lagi.
"Jika kamu marah padaku tidak apa-apa. Tapi jangan menyakiti dirimu sendiri. Ayo makan lah." Alena malah melengos tak mau menyentuh makanannya sedikitpun.
"Alena ayo makan."
"Aku tidak lapar." Ketus Alena tanpa mau melihat wajah Brayen dengan tangan bersedekap.
"Huuuuufffhhh....Ya sudah kalau tidak mau makan. Aku keluar. Yang penting aku sudah menyuruhmu makan. Jadi jangan bilang aku Om jahat yang suka nyiksa kamu lagi."
Kemudian Brayen melangkah keluar berusaha sabar menghadapi Alena setelah belajar dari kesalahannya. Dan tanpa sepengetahuan Alena, Brayen mengunci Alena di dalam kamar dari luar takut Alena kabur lagi.
"Akhirnya Om jahat itu keluar juga. Gengsi dong makan di depannya. Hadu... Perutku lapar banget. Akhirnya bisa makan juga." Alena meraih nampan yang di letakkan Brayen di atas nakas. Kemudian Alena mulai menyantap makanannya seperti orang yang sedang kelaparan. Brayen yang menguping, tersenyum mendengar ucapan bocah itu.
"Puk Puk Puk...." Arya menepuk pundak Brayen.
"Kau sudah gila ya senyum senyum sendiri?" Ucap Arya.
"Diam lah." Ucap Brayen menepis tangan Arya dengan wajah datarnya lalu berlenggang pergi.
***
Brayen memasuki kamar tidur yang biasa ia tempati dulu. Dia kembali ingat tragedi kamar kosong yang menjerat dirinya dan Alena dalam pernikahan paksa ini.
__ADS_1
Kini Brayen bertekad untuk mempertahankan rumah tangganya sebab yakin inilah takdir yang memang ditujukan untuknya melalui jalan ketidaksengajaan.
Kemudian Brayen beranjak dari kamar itu dan pergi ke ruang tamu yang jaraknya tak jauh dari kamar Alena. Untuk berjaga-jaga takut Alena ingin keluar dari kamarnya. Brayen memasang alarm jam 10 malam di hp-nya, lalu ia merebahkan diri di atas sofa, dia mulai memejamkan mata dan terlelap.
Arya membiarkan kelakuan Brayen yang sedang bucin seperti dirinya dulu. Laki laki rela melakukan apapun demi maaf sang istri.
Tepat pukul 10 malam alarm di HP Brayen berdering dengan nyaring hingga membuat dirinya terbangun. Brayen pergi ke Kamar mandi untuk membasuh muka setelah itu dia kembali menuju kamar Alena. Membuka pintu itu dan memasuki kamar tidur Alena.
Brayen berdiri, menyaksikan tidur Alena yang tidak bisa diam. Alena tidur bergerak kesana-kemari. Kemudian Brayen tidur di sebelah Alena.
Brayen mengalungkan tangan Alena di pinggangnya yang polos, sebab tak mengenakan baju.
Jam 03.00 WIB...Alena terbangun, dia di kejutkan dengan kehadiran Brayen di sampingnya. Padahal saat Alena tidur semalaman, Brayen tidak ada. Alena mendorong dada Brayen tapi tangan Brayen tidak mau lepas.
Pelukan Brayen malah semakin erat. Alena berusaha mendorong lagi dan lagi, tapi percuma Brayen tidak melepas tangannya. Akhirnya Alena menyerah dan pasrah tak lagi meronta karena takut Brayen terbangun. Brayen tersenyum penuh kemenangan.
"Ya ampun aku mau ke kamar mandi, aku kebelet kentut masak iya aku kentut di sini . Terus kalau Om Brayen mencium bau kentut ku gimana?.. Aku bisa malu. Iiiiiisssss Aku sudah nggak tahan. Nggak apa-apa lah kentut. Kan Om galak lagi tidur. Aku tidak akan di hukum kan kalau cuma kentutin dia?... Kentut itu buang penyakit. Nggak bisa kentut uang 15 juta melayang buat operasi." Alena membatin. Dia tidak bergerak lagi takut Brayen terbangun.
"Preeeeet,..." Akhirnya tercetus juga bunyi itu.
Bunyi itu mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan tidak sedap. Alena yang malu menenggelamkan kepalanya di dalam selimut. Alena kepanasan berada di dalam selimut, bergelung dengan bau tak sedap.
Sedangkan Brayen berusaha menahan tawa takut menyinggung hati Alena lagi. Brayen berusaha menahan nafas dengan menutup hidungnya karena senjata makan tuan.
"Ya ampun... Istriku, cantik cantik kentutnya bau terasi." Brayen membatin.
****
SELAMAT MENIKMATI
__ADS_1