AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
SUARA KEMARAHAN PENTEROR RANI


__ADS_3

Alyn terus memperhatikan Rani yang terlihat kesal berbincang dengan seseorang lewat telepon yang di yakini Alyn adalah ibu Rani sebab Rani menyebut nyebut nama Ibu. Beruntung Cafe sedang sepi karena masih jam kerja, jadi tidak terlalu banyak pengunjung yang bisa mendengarkan perdebatan antara anak dan ibu itu.


"Kenapa Ran?..." Tanya Alyn .


"Pusing aku Lyn. Ibu, terus saja memaksaku. Ibu terus saja jodoh-jodohin aku. Alasannya selalu sama, karena adikku mau menikah dan tidak mau melangkahiku. Bahkan pemuda itu sudah menuju kemari." Ujar Rani dengan wajah merengut.


"Kenapa tidak mau? Kamu kan sudah cukup umur. Sudah waktunya kamu untuk menikah. Apa salahnya coba di jalani dulu. Siapa tahu cocok terus jodoh." Ujar Alyn mengingatkan Rani karena semakin tua usia seseorang maka akan sulit mencari lelaki yang mau menikahinya.


Takutnya saat seseorang menyadari dirinya sudah menua dan masih melajang dengan alasan tidak siap karena ini dan itu, sedangkan yang lain sudah mengemban momongan, sementara dia masih sendiri. Dia baru menyadari dirinya sudah menua dan lelaki sudah enggan mendekatinya.


"Kamu itu sama saja dengan ibuku. Aku belum siap menikah, aku mau fokus dengan karirku." Ujar Rani yang sama sekali tidak tertarik untuk menikah dengan alasan karir padahal sebenarnya karena Rani enggan membuka hati untuk laki laki.


"Terus sampai kapan kamu tidak mau menikah? Kamu masih menunggu Iqbal menyadari perasaannya padamu kan?..." Ujar Alyn. Rani sendiri tidak tahu alasan tepatnya apa. Tapi ucapan Alyn sepertinya benar, Rani masih penasaran seperti apa sebenarnya perasaan Iqbal. Sifat dan sikapnya itu susah di tebak.


"Aku nggak mau nikah sama psikopat seperti dia." Ujar Rani.


"Psychopat tapi cinta hehe..." Alyn menggoda Rani membuat wajah Rani bersemu merah.


Tiba-tiba perut Alyn terasa mual seperti diaduk-aduk. Alyn menutup mulutnya dan berlari menuju toilet.


"RANIII..." Saat Rani hendak mengikuti Alyn, pemuda yang dijodohkan dengan Rani tiba-tiba muncul dan memanggil Rani. Akhirnya Rani urung mengikuti Alyn karena Rani ingin bicara terus terang pada pemuda yang dijodohkan ibunya dengan Rani bahwa Rani menolak perjodohan itu.


Di dalam toilet Alyn terus muntah muntah tanpa henti. Mengeluarkan semua isi perutnya, sama seperti saat turun dari pesawat. Peluh sudah membanjir wajah Alyn. Sesekali Alyn mengelap peluh itu dengan hijabnya. kepala Alyn terasa pening. Kenapa mendadak Alyn sakit padahal tadi baik baik saja.


****

__ADS_1


Rani duduk berhadapan dengan pemuda yang akan di jodohkan dengannya.


"Ran apa kau masih ingat dengan ku?..." Tanya Affan laki laki yang pernah mendekati Rani dulu di kampung Nelayan.


"Iya aku ingat." Jawab Rani. Rani sendiri bingung mau memulai percakapannya dari mana. Ibu sudah terlanjur menerima lamarannya, jika di tolak ibunya pasti akan menanggung malu. Jika di terima hatinya merasa tertekan seperti saat ini. Inilah alasannya kenapa Rani enggan menerima laki laki lain hadir dalam kehidupan Rani.


Beda lagi dengan Iqbal. Padahal Iqbal selalu bersikap seenaknya sendiri pada Rani tapi bodohnya Rani merasa bahagia dengan perlakuan Iqbal. Yang sering merangkulnya, lebih tepatnya mencekik saat merangkul. Memanggil Rani bukan dengan nama tapi dengan lemparan kerikil. Jika Rani melakukan hal yang tidak di kehendaki atau tidak sesuai dengan keinginan Iqbal maka Iqbal akan menarik rambut Rani.


Kembali lagi pada Rani dan Affan, keduanya sama-sama diam dengan kecamuk pikiran yang berbeda. Yang satu ingin maju dan yang satu ingin mundur. Mereka berdua berusaha merangkai kalimat dari hati dan pikiran masing-masing untuk di sampaikan lewat lisan.


"Kau pemuda yang dulu mendekatiku kemudian mendadak menghilang. Pemuda yang memberi harapan palsu pada gadis polos." Ujar Rani membuka suara.


"Maaf dulu aku terlalu pengecut tidak berani memperjuangkan perasaanku padamu." Ujar Affan.


"Sebenarnya aku tidak tahu menahu tentang perjodohan ini. Baru kemarin ibu memberi tahuku jika kamu melamarku. Tapi maaf aku tidak siap, aku tidak mencintaimu." Ucap Rani sendu namun penuh keyakinan. Rani menundukkan kepala merasa kasihan pada pemuda di hadapannya yang terkejut dengan ucapan Rani. Rani sangat paham seperti apa rasanya patah hati. Bahkan bisa di katakan Rani adalah pakar dalam patah hati. Karena hati Rani pernah jatuh sejatuh jatuhnya.


"Ran orang tuamu sudah menerima lamaran ku dua hari yang lalu. Aku akan sangat malu jika kamu menolakku." Ujar Affan dengan tatapan sendu bercampur kecewa.


"Tolong beri aku kesempatan memulai hubungan ini dengan pertemanan kita." Ujar Affan masih berharap. Rani menghela nafas....Sebenarnya Rani kasihan dengan pemuda yang saat ini ada di hadapannya. Jauh jauh dari kampung Nelayan hanya untuk mendengar penolakan.


****


Puas muntah muntah Alyn membasuh wajahnya. Kemudian beranjak pergi dari toilet. Alyn berjalan sempoyongan karena kepala Alyn mulai terasa berat.


Dari jarak kurang lebih 12 meter Alyn melihat Rani sedang duduk bersama pemuda. Dan wajahnya tidak asing bagi Alyn. Samar samar Alyn mulai ingat, dia pemuda dari kampung Nelayan. Pemuda yang pernah di hajar oleh Iqbal karena berani mendekati Rani. Hanya Alyn yang tahu sebab Iqbal selalu mengenakan jaket bertutup kepala, topi dan masker dalam beraksi itupun dalam keadaan sepi.

__ADS_1


Alyn pernah memergoki Iqbal melakukan hal yang sama dua kali di tempat yang sepi saat orang tua Alyn mengutus Alyn mencari keberadaan Adiknya yang pecicilan dan sering menghilang sejak kecil.


Maka dari itu para pemuda takut mendekati Rani karena beberapa pemuda mengalami hal yang sama setelah mendekati Rani. Berita itu sudah tersebar luas di kampung Nelayan.


Hal itu membuat Rani merasa tidak percaya diri dan di asingkan.


Saat di tanyai oleh Alyn, jawaban Iqbal hanya ingin melindungi Rani dari orang yang berniat buruk, karena Rani anak yatim dan tidak memiliki saudara laki-laki maka Iqbal memutuskan jadi tameng di garda terdepan untuk melindungi Rani. Alyn yang dulu mencintai Iqbal dan belum memiliki kedewasaan tidak berani mengutarakan hal yang ia ketahui karena takut warga akan menghukum Iqbal. Apalagi Iqbal memiliki alasan yang kuat kenapa Iqbal tidak ingin Rani dekat dengan pemuda.


Alyn berjalan lalu duduk di bangku kosong memperhatikan Rani dan Affan dari jarak jauh. Kemudian Alyn menidurkan kepalanya yang terasa makin pusing di atas meja.


****


"Hallo...Hallo....Hallo... Kau itu sebenarnya siapa?....Kenapa selalu menggaguku." Ucap Rani yang kembali mendapat panggilan telepon dari penteror.


"Sini Ran biar aku yang bicara." Ujar Affan yang sudah menjulurkan tangannya pada Rani. Rani meloud speaker HPnya kemudian memberikannya pada Affan.


"Hallo...Maaf anda siapa kenapa tidak mau bicara dan mengganggu Rani?..." Ujar Affan sopan.


"SIAPA KAU???" Suara bariton dari penteror akhirnya bisa terdengar jelas di telinga Rani. Mulut Rani menganga kemudian di tutup dengan tangannya. Jantung Rani berdegup mendengar suara itu. Tidak mungkin!...


"Aku calon suami Rani dan sebentar lagi kami akan menikah. Tolong jangan ganggu Rani lagi." Ujar Affan melanjutkan.


"MAU MATI KAU MENIKAHI RANI." Suara penteror itu terdengar lantang dan mencekam. Rani dan Affan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sangat menakutkan.


*****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT...


SELAMAT MENIKMATI.


__ADS_2