
Alyn menghampiri Arya yang sudah menunggunya sejak tadi. Tak lupa Alyn membawa boneka buluk kesayangannya hadiah dari Arya waktu kecil.
"Sudah siap?..."Ujar Arya.
"Sudah mas." Jawab Alyn. Tangan kiri Arya menggandeng tangan Alyn, Sedangkan tangan kanannya menyeret koper yang sudah di siapkan Alyn.
Arya memperlakukan Alyn seperti tuan putri, Arya membukakan pintu mobil untuk Alyn.
"Apa sih mas!...Aku bisa sendiri." Ujar Alyn yang merasa sikap Arya berlebihan.
"Ini tidak gratis." Ucap Arya pada Alyn yang sudah duduk manis di kursi penumpang. Kemudian mengecup pipi Alyn.
"Sudah pak biar saya saja." Ucap Arya pada supirnya saat supir itu hendak mengambil koper Arya. Kemudian Arya memasukkan koper itu ke dalam bagasi mobil. Lalu duduk bergabung dengan Alyn yang sudah menunggunya di kursi penumpang.
"Sayang kamu tidak penasaran kita mau kemana?" Tanya Arya.
"Penasaran lah Mas..." Ujar Alyn.
"Penasaran kok tidak pernah tanya?..."Ujar Arya.
"Memangnya kita mau kemana mas?..." Tanya Alyn sok imut.
"Terlambaaaaat..." Ujar Arya menarik hidung Alyn.
"Iiiiiihhhhh mas. Bedakku luntur loh. Susah susah pasangnya." Ujar Alyn merengut.
"Tidak akan luntur. itu bedak mahal." Jawab Arya santai.
"Mau bulan madu di mana pun kalau bersama kamu, endingnya tetep di atas ranjang. Makanya aku tidak pernah tanya."Ucap Alyn.
Alyn kemudian bersandar di bahu Arya. Arya terus saja mengecup puncak kepala Alyn dan menggenggam tangan mulus Alyn. Jari jempol Arya juga bergerak mengusar punggung tangan Alyn. Akhirnya harapan Arya terwujud, Arya sudah tidak perlu lagi tertekan dengan dua wanita. Arya sudah bisa memilih apa yang hatinya inginkan tanpa ada tekanan.
Begitu damai rasanya berada di dekat Alyn. Berat rasanya berada jauh dari Alyn walaupun hanya di tinggal bekerja. Setiap berada di kantor selalu ingin segera pulang untuk berjumpa dengan sang pujaan hati.
Di bandara pun Arya selalu menggenggam tangan Alyn takut hilang dia antara kerumunan orang yang lalu lalang. Dan tangan satunya masih setia menyeret koper.
Di atas penerbangan Alyn terus saja bersandar di bahu Arya. Alyn tidur di sepanjang perjalanan.
Beberapa saat kemudian setelah pesawat berhasil mendarat dengan sempurna Arya membangunkan Alyn
Sayang bangunlah kita sudah sampai ucap Arya yang tangannya sudah membelai wajah Alyn dengan lembut Alyn mengerjapkan matanya lalu menggeliat.
"Hemmmm.... Sudah sampai mas!" Ucap Alyn dengan suara parau. Arya membiarkan Alyn diam sejenak untuk membuka mata dengan sempurna. Kemudian setelah semua penumpang hampir turun semua baru Arya dan Alyn ikut turun.
Alyn terus berjalan mengikuti Arya. Alyn melihat sekelilingnya, seperti tidak asing bagi Alyn.
__ADS_1
"Mas ini di mana?" Tanya Alyn menarik lengan baju Arya.
"Katanya tidak penasaran!" Ucap Arya tersenyum kearah Alyn. Seutas senyum mulai terbit dari bibir Alyn.
"Mas ini di kampung Nelayan ya!" Ujar Alyn dengan senyum yang begitu lebar merekah. Arya hanya tersenyum dan mengangguk. Hati Alyn sangat bahagia begitupun Arya yang melihat kebahagiaan Alyn.
Daripada bulan madu jauh-jauh kalau Alynnya tidak bahagia buat apa! pikir Arya. Mending bulan madu ke tempat di mana istrinya akan merasa bahagia, pasti itu akan lebih bermakna dan berarti bagi istrinya.
Di sepanjang jalan Arya memperhatikan wajah bahagia Alyn. Senyum terus saja melekat di wajah cantik istrinya itu. Kebahagiaan sangat kentara di wajah Alyn.
Setelah Alyn menikah dengan Arya, dan Arya membawa Alyn ke Jakarta mereka tidak pernah berkunjung ke kampung halaman Alyn. Alyn pasti sangat merindukan kedua orang tuanya.
Alyn dan Arya dapat melihat Abah dan Umi sudah menyambut mereka di depan rumah.
Alyn berjalan cepat dengan langkah panjang meninggalkan Arya yang menyeret koper sendirian.
"Assalamualaikum" Ucap Alyn setelah hampir sampai di hadapan kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab kedua orang tua Alyn serempak.
Alyn mencium punggung tangan Abahnya kemudian memeluknya. Sementara Arya masih mengantri di belakang Alyn.
Kemudian Alyn mencium punggung tangan Umi lalu memeluk Uminya yang sedang menangis karena sangat merindukan anak sulungnya. Anak yang pertama kali memberikan kebahagiaan pada keluarga kecil Alyn.
"Sudah, sudah lanjut di dalam rumah saja. Ayo masuk." Ucap Abah. Kemudian Alyn melepas pelukan Uminya. Akhirnya Arya bisa mencium punggung tangan Ibu mertuanya.
Kemudian Umi mengajak mereka ke meja makan. Umi sengaja memasak makanan kesukaan anak dan menantunya karena Arya sudah mengabari kedua orang tua Alyn jika mereka akan berkunjung hari ini. Tapi Arya melarang kedua orang tuanya untuk memberitahu Alyn karena ia ingin memberikan kejutan untuk Alyn.
Umi terus melayani Alyn dan menantunya. Umi mengambilkan lauk pauk, nasi dan sayur untuk anak-anak yang ia rindukan.
"Umi Sudahlah duduk, kami bisa mengambilnya sendiri" Ucap Arya.
"Iya Umi, Alyn bisa ambil sendiri kok. Umi duduk saja." Ujar Alyn.
"Tidak apa-apa nak, kapan lagi Umi bisa melayani kalian berdua." Ucap Umi dengan penuh bahagia. Alyn bangkit dari kursi dan berdiri di belakang Uminya. Alyn menarik kursi untuk Uminya duduk.
"Umi dari dulu Umi yang melayani anak-anaknya. Sekarang giliran kami yang melayani Umi." Ucap Alyn lalu menarik Uminya duduk di kursi meja makan kemudian Alyn mengambilkan makanan untuk Umi dan Abahnya. Rasa lelah Alyn sirna bertukar dengan kebahagiaan.
Mereka semua makan dengan penuh kebahagiaan. Tapi masih ada yang kurang.
"Umi adik kemana kok tidak kelihatan?" Tanya Alyn yang tidak melihat keberadaan Alena.
"Anak itu masih main sama teman temannya. Kalau tidak di pantai ya di kebon." Ucap Umi.
"Ooohh." Alyn manggut-manggut membentuk bibirnya dengan huruf O.
__ADS_1
"Anak itu bikin kepala Umi pusing setiap harinya." Ucap Umi mengeluhkan kelakuan Alena.
"Tingkahnya itu loh setiap hari mengkhawatirkan. Huuuuufffhhh.... Kemarin nyemplung got." Ujar Umi mengeluhkan tingkah Alena. Arya dan Alyn melongo.
"Kok bisa Umi?..." Tanya Alyn. Sementara Arya diam saja mendengarkan.
"Naik sepeda motornya lagi."Jawab Umi.
"Tapi waktu itu Adik bilang katanya kapok mau naik motor lagi takut penyakit Abah kambuh." Ujar Alyn.
"Nah itu.... Buat syok terapi Abah katanya, biar jantung Abah Strong dan tidak kagetan." Ujar Umi sambil mengunyah.
"Tapi nyatanya berhasil Umi. Penyakit jantung Abah udah tidak kambuh. Mungkin karena udah terbiasa dengan sikapnya yang pecicilan itu. Dan itupun atas izin Allah subhanallahu wa ta'ala." Sahut Abah.
"Pengen deh Umi nikahin anak itu. Siapa tahu suaminya bisa mendidiknya. Biasanya kalau sudah menikah, orang itu bisa lebih dewasa." Ujar Umi yang bingung menasehati Alena, yang karakternya jauh beda dengan Alyn yang penurut.
"Adik kan usianya baru 19 tahun Umi. Dia pun juga masih kuliah." Jawab Alyn.
"Tapi kan nikah sambil kuliah bisa. Banyak kok anak seumuran dia yang sudah menikah di kampung ini. Bahkan sudah punya anak." Ujar Umi. Alyn manggut-manggut sementara Abah dan Arya hanya jadi pendengar setia bagi Alyn dan ibunya.
"Tok Tok Tok....." Suara pintu di ketuk.
Saat Umi mau bangkit Alyn melarang.
"Sudah Umi. Biar Alyn saja yang buka pintu." Ucap Alyn.
Alyn berjalan ke luar rumah menuju pintu. Saat pintu di buka, Alyn melihat kedua sahabat Adiknya wajahnya penuh keringat dan seperti orang gelisah.
"Ada apa dik?" Tanya Alyn keheranan dengan sikap kedua sahabat Adiknya.
"Itu kak... Alena... Alena...." Ujar teman Alena Gugup.
"Kenapa Alena?" Tanya Alyn mulai cemas.
"Alena....Alena....Jatuh dari atas pohon kak." Jawab salah satu teman Alena.
*****
Wah readers ku pintar pintar semua. Jawabannya banyak yang benar. Tapi maaf yang dapat hadiah pulsa cuma komentar pertama 50ribu dan komentar ke dua 20ribu.
Terima kasih sudah mendukung Authornya...
Fahrin selamat ya dapat hadiah 50rb
Maryani Sundawa selamat 20rb.
__ADS_1