
"Kakak kamu mana? Ini sudah jam berapa? Kenapa belum siap juga?" Alyn bertanya pada putrinya yang bernama Hafsah sambil meletakkan secangkir kopi di depan suaminya yang sedang berselancar dengan hp.
"Makasih, Sayang." Arya menoleh pada istrinya dan memberikan senyuman hangat, Alyn tersenyum lalu mengangguk.
"Tadi udah di bangunin, paling molor lagi." Hafsah mengoleskan selai coklat di atas roti tawar. Ia sudah rapi dengan memakai seragam SMA dan sepatu kets.
"Bangunin lagi, sana. Takut telat sekolahnya," titah Alyn pada Hafsah.
"Iya, Ma." Hafsah menggigit rotinya lalu meletakkannya di atas piring. Ia beranjak dari kursinya menuju kamar saudara kembarnya. Di ambang pintu Hafsah bersiku pinggang sembari geleng-geleng kepala melihat Raffa masih tidur, bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer berwarna kuning bergambar spongebob.
"Raffa, bangun. Ini udah siang, mau ku guyur air lu... Woy, bangun woooooyyy" Hafsah berteriak di telinga Raffa, namun yang di teriaki malah menggeliat lalu menutup telinganya dengan bantal.
"Aku nggak mau, ya. Telat gara-gara kamu. Ayo, bangun." Hafsah menarik-narik kaki Raffa dengan kasar, tapi malah mendapat tendangan dari Raffa hingga ia terjungkal di lantai.
"Awww, sakit..." Hafsah menggosok-gosok panggulnya yang terantuk lantai, beruntung lantai di alasi karpet jadi bokongnya tak terlalu sakit.
Hafsah bangkit dengan wajah bersungut-sungut sambil menghentakkan kaki. Ia menatap bulu kaki Raffa yang lebat, lalu tersenyum penuh arti. Sedetik kemudian,
"Aaakkkhh..." Raffa menjerit kesakitan.
Setelah mencabut bulu kaki Raffa, Hafsah lari terbirit-birit. Sebelum mencapai pintu, Raffa melempar Hafsah dengan bantal, "Adik sialan," makinya.
"Aduh." Hafsah berbalik dan menunjukkan bulu kaki yang ada di tangannya pada Raffa, "Kalau masih molor lagi, ku cabut lagi bulu kakimu."
"Keluar." Raffa berteriak sembari melempari Hafsah dengan bantal.
Hafsah cekikikan berlari kecil menuju ruang makan untuk menyelesaikan sarapannya yang tadi sempat tertunda.
"Ada apa lagi, Sayang. Tiap pagi selalu ribut?" tanya Arya pada Hafsah.
"Biasalah, Pa, anak muda," jawab Hafsah.
"Oh..."
"Sayang, aku ke kantor dulu." Arya beranjak dari kursinya.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
Arya mencium kening Alyn, usai Alyn dan Hafsah mencium tangannya.
"Kamu sekolah belajar yang rajin." Arya mengkhusuk-khusuk kepala Hafsah lalu bergegas pergi.
"Ok, Papa." Hafsah menyatukan jari jempol dan telunjuknya, membuatnya menjadi huruf O.
***
Mobil yang di kemudikan oleh Zain berhenti di depan gerbang rumah Arya.
"Sayang, jangan terlalu genit pada laki-laki. Jaga harga dirimu, sok jual mahal lah sedikit." pinta Iqbal yang khawatir dengan sikap putri sulungnya jika berdekatan dengan Raffa, urat malunya bisa putus. Jika tidak di izinkan berangkat sekolah dengan Hafsah, ia akan ngambek sepanjang hari. Mungkin ini akibat terlalu memanjakan Putri sejak kecil. Tujuan Putri, ingin berdekatan dengan Raffa setiap hari.
"Iiih, kapan Putri genit! Perasaan biasa aja." Putri memberikan senyum terbaiknya untuk Iqbal.
"Pokoknya jangan dekat-dekat dengan Raffa."
"Iih, mana bisa! Kak Raffa, kan separuh nafasku. Udah ah, Pa. Aku turun dulu. Kak Raffa pasti udah nungguin aku." Putri mencium Pipi Iqbal dan turun dari mobil.
Putri sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang di cintainya sejak kecil. Waktu kecil Raffa dan Putri pernah bermain manten-mantenan. Raffa menjadi mempelai pria, sedangkan Putri menjadi mempelai Wanita. Semakin hari cinta Putri untuk Raffa berkembang semakin besar.
"Assalamu'alaikum tante Alyn, Assalamu'alaikum kak Hafsah." Hafsah memeluk Alyn dan Hafsah bergantian.
"Wa'alaikumsalam, Putri," jawab Hafsah dan Alyn serempak.
"Putri, udah sarapan belum?" tanya Alyn.
"Belum, tante," jawab Putri sambil meringis malu. Ia sengaja tak sarapan di rumah karena ingin makan bersama sang pujaan hati. Setiap hari Putri selalu makan di rumah keluarga Raffa.
"Kalau gitu sarapan bareng, yuk." Alyn meletakkan piring di hadapan Putri.
"Makasih, Tante... Oya, kak Raffa di mana ya Tante, kok nggak kelihatan." kepala Putri clingak-clinguk mencari keberadaan Raffa.
__ADS_1
"Lagi mandi mungkin?" jawab Alyn sambil memasukan potongan daging ke mulutnya.
"Kalau gitu, aku tunggu kak Raffa aja deh makannya." senyum Putri merekah sempurna saat melihat Raffa memasuki ruang makan. "Pagi kak Raffa,"
Raffa mendengus kesal melihat makhluk yang paling ingin ia hindari. Bagi Raffa, Putri itu ibarat kutu yang menempel padanya, sangat merugikan. Tingkahnya setiap hari membuatnya darah tinggi. Raffa menarik kursi dengan kasar, lalu mendudukinya.
"Kamu nggak mandi, ya. 'kok cepet banget, pasti cuma cuci muka." Hafsah mencibir penampilan Raffa yang tidak rapi.
"Berisik."
"Kak Raffa mau makan apa? Aku ambilin, ya!" tanya Putri.
"Nggak usah, aku punya tangan bisa ambil sendiri!" tolak Raffa dengan nada ketus. Tangannya meraih piring hendak mengisinya dengan nasi tapi Putri malah menjarahnya.
"Jangan sungkan-sungkan. Ini latihan buatku, jadi pas kita nikah nanti, aku udah siap lahir batin." Putri mengambil nasi dan lauk untuk Raffa.
"Ini masih terlalu pagi, nggak usah banyak bacot." Raffa menatap Putri dengan tajam.
"Raffa, yang sopan kalau bicara." Alyn balas menatap Raffa dengan tajam karena sudah bicara kasar pada anak sahabatnya. Sementara Hafsah malah cekikikan, ia senang melihat Raffa emosi.
"Aku bisa cepat kena struk, Ma, kalau lihat makhluk ini," Raffa sangat geram melihat Putri yang memangku dagu, bulu matanya yang lebat mengerjam-ngerjap sambil senyam-senyum sendiri menatap Raffa, padahal saat ini Raffa sedang memelototinya.
"Tapi, nggak harus kasar gitu juga 'kan, Raffa." Alyn masih membela Putri, ia takut sikap kasar Raffa akan membuat Putri sakit hati.
"Nggak apa-apa Tante, aku suka kalau kak Raffa melototin aku gitu. Kapan lagi Kak Raffa mau lihat aku kalau bukan waktu marah," jawab Putri. Seketika Raffa melengos, membuang muka ke arah lain.
"Hahahahaha... Bagus Putri, jangan menyerah, maju tak gentar, pantang mundur. Semangat, semangat." Hafsah tertawa sambil mengangkat tangannya yang mengepal tinggi-tinggi ke udara. Entah terbuat dari apa hati Putri hingga tak merasa sakit hati sedikitpun meski Raffa selalu bersikap kasar. Mungkin sudah terbiasa dengan sikap kasar Raffa sejak kecil.
"Diem kamu..." Raffa menggebrak meja dengan kesal. Ia muak, sejak kecil Putri selalu mengganggunya. Dia menempel pada Raffa, seperti pohon dengan inangnya.
"Sudah, sudah, ayo makan jangan ribut." Alyn menengahi. Mereka berempat akhirnya makan dengan tenang. Putri sarapan, sudut matanya sesekali melirik Raffa. Hatinya selalu berdebar tiap melihat Raffa, ia sudah bertekad untuk membuat Raffa jatuh cinta padanya dan akan menyeret Raffa ke pelaminan suatu saat nanti. Putri selalu meyakinkan diri bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
"Aduh, perutku sakit. Kayaknya aku nggak bisa ke sekolah, deh." Hafsah memegangi perutnya sambil meringis.
"Kamu kenapa, Nak." Alyn terlihat panik melihat putrinya sakit.
"Biasa, Ma. Tamu bulanan!" jawab Hafsah.
"No, sampai dunia kiamat pun, aku tidak akan membiarkan Si Siput ini naik motorku. Suruh saja supir antar kamu." tolak Raffa tanpa memikirkan perasaan Putri.
"Ya, ampun, kak. Masa' panggilan Sayang untuk aku Si Siput?" keluh Putri.
"Panggilan Sayang, pala Lo Peyang,"
ujar Raffa ketus.
"Sudah, sudah, supir lagi libur, Hafsah lagi sakit. Jadi kamu harus antar Putri ke sekolah, kan kalian satu sekolah."
"Lebih baik aku nyikat WC dari pada bonceng Si Siput."
***
"Kamu bisa nggak, sih. Nggak usah pegang-pegang?" keluh Raffa karena Putri perpegangan di sabuk pinggangnya.
"Ya, ampun, kak. Cuma pegang dikit, lagian sama calon istri sendiri pelit banget." Putri cengar-cengir sendiri berada di boncengan Raffa.
"Nggak usah ngaco'. Kalau bukan karena Mama, ogah aku antar kamu."
"Raffaaaaa, duluan yaaaa...." Hafsah melewati motor Raffa sembari melambaikan tangan.
Raffa mengeram kesal, ia semakin geram melihat mobil saudara kembarnya. Hafsah sengaja mengerjainya supaya bisa deket dengan Putri.
"Eh, itu 'kan kak Hafsah! kok, cepat banget, ya sembuhnya?"
"Elo bego'banget, sih. Dia cuma pura-pura sakit supaya kita bisa berduaan."
"Oh, ya ampun, kak Hafsah pengertian banget, sih. Bisa-bisanya nyomblangin kita." Putri bersorak sorai. Tiba-tiba Raffa menepikan motornya dan berhenti.
"Loh, kok berhenti, kak. Kan, sekolah kita masih jauh?" tanya Putri terheran-heran.
"Turun," pinta Raffa.
__ADS_1
"Hah!"
"Turun."
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya!"
"Ok." Putri turun dari motor Raffa.
"Kamu mau melakukan apapun, kan untukku?" Raffa balik bertanya.
"Aku akan memberikan apapun yang kak Raffa inginkan, kehormatanku juga untuk kakak. Tapi nikahi aku dulu." Raffa memutar mata malas.
"Mana hpmu?"
"Buat apa, kak?"
"Jangan banyak tanya!"
Putri mengeluarkan hpnya dari dalam tas lalu memberikannya pada Raffa.
Breeeemmmm...
Motor Raffa melesat dengan cepat meninggalkan Putri di tepi jalan.
"Kak Raffa, tungguin aku. Kenapa aku di tinggal..." Putri berlari mengejar Raffa yang sudah jauh dari pandangannya.
Tiga puluh menit kemudian,
"Pak, pleaseeeee.... Jangan suruh saya nyikat WC. Tadi saya dapat ujian di jalan. Hukum apa aja boleh tapi jangan suruh saya nyikat WC, pak. Saya jijik." Putri mengatupkan kedua tangannya di depan dada, berharap guru BP berbelas kasih padanya. Sekolah Putri adalah sekolah elit yang mengedepankan kedisiplinan, pihak sekolah tak segan-segan memberikan hukuman pada siswanya yang melanggar. Beberapa siswa ada yang di hukum menyapu halaman karena telat. Padahal tadi Putri sudah berlari sampai pakaiannya banjir keringat, tapi tetap saja telat.
"Salah sendiri, jadi murid tidak disiplin. Ini sudah jam berapa? Matahari sudah tinggi, ayam sudah kenyang." guru BP menggerutu sambil menggiring Putri menuju toilet.
"Ya, ampun. Kak Raffa, ngapain di sini?" tanya Putri saat melihat Raffa menyikat WC.
"Ini gara-gara kamu, aku selalu ketiban sial tiap dekat kamu. Gara-gara kamu aku di hukum nyikat WC." Raffa ingat ucapannya saat berkata lebih baik nyikat WC dari pada antar Putri ke sekolah yang langsung di amini oleh Alyn. Sekarang doanya jadi kenyataan, di jalan ban motornya bocor. Raffa harus menuntunnya hingga sampai sekolah. Peluh sudah membanjiri seragamnya.
"Ya, ampun, Pak. Kenapa Bapak nggak bilang kalau aku di hukum berduan sama kak Raffa. Kan, aku nggak akan protes kalau tahu gitu!" keluh Putri.
"Memangnya kenapa?" Guru BP menaikkan kacamatanya yang melorot ke atas karena hidungnya yang pesek.
"Nggak apa-apa, Pak!" Putri tersenyum penuh arti.
"Cepat kerjain!" ucapnya sebelum berlalu pergi.
"Lidah kamu tajam, ya. Belum satu jam, ucapannya sudah terkabul." Putri mengambil sikat yang berada di samping Raffa.
"Jauh-jauh dariku, deket satu meter saja, ku garuk mukamu pakai ini!" Raffa mengacungkan sikat yang baru saja ia gunakan untuk menyikat ******, "Satu lagi, jangan. bicara padaku." Raffa menggosok lantai dengan keras karena jengkel.
"Iya, iya. Aku ngomong sama tembok, nih." Putri menyikat lantai sembari bersenandung, sesekali melirik Raffa. Hukuman yang di jalani Putri tak membuatnya bersedih, namun sebaliknya dia malah senang karena berada di dekat Raffa.
Anmesh Kamelang
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
PLETAK.... sikat di tangan Raffa patah karena terlalu kuat menggosok lantai. Raffa melirik Putri yang tersenyum padanya.
"Apa lihat-lihat, ku colok nih." Raffa mengacungkan gagang sikat yang patah pada Putri.
__ADS_1