
"Lalu aku tidur di mana?" Tanyaku.
"Disini bersamaku." Jawab mas Arya sambil menepuk-nepuk ranjang tepat di sampingnya.
"Aku tidak mau kalau harus tidur bersamamu." Ujarku menolak kegilaan mas Arya.
Mas Arya turun dari ranjang dan menghampiriku. Dengan sekali hentakan dia sudah membopongku dan merebahkanku di atas ranjang.
Aku beringsut dan menyilangkan tanganku di dada, takut mas Arya akan meminta haknya seperti yang ia katakan waktu di rumah sakit. "Dan kesalahanku yang kedua juga akan ku hapus.setelah kamu sehat betul, Aku akan memberikan mu nafkah batin. Kita akan buat anak." Ucapan mas Arya ini masih melekat di benakku.
Kenapa mas Arya tersenyum begitu melihatku. Eh kenapa dia menghampiriku? Aku mundur saat mas Arya mulai mendekatiku.
"Diamlah." Ujar mas Arya.
"Cup." Dia mencium keningku.
"Jangan takut. Aku tidak akan melakukannya sekarang. Kecuali kamu sendiri yang akan mengajakku begituan." Ujar mas Arya yang membuatku kesal sekaligus malu.
"Begituan apaan." Ketusku, kesal.
"Kamu nggak tahu begituan. Ayo sini aku ajari."Ujar mas Arya mendekatiku dia semakin menggodaku.
"Iiiihhhh pergi sana. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah begituan sama kamu." Aku mendorong mas Arya. Dia malah tertawa.
"Tunggu sebentar di sini."Mas Arya keluar dari kamar.
Tidak lama kemudian dia kembali membawa boneka kesayanganku.
"Ini." Mas Arya menyodorkan boneka itu padaku.
__ADS_1
"Jauh jauh dari kampung nelayan kamu membawa boneka kusam itu." Ucapan mas Arya membuatku kesal.
"Bukan urusanmu." Kenapa mas Arya malah tersenyum aku ketus begitu.
"Kenapa kamu sangat menyukai boneka itu?" Tanya mas Arya.
"Aku tidak tahu." Jawabku yang memang tak tahu alasannya.
"Aku senang kamu menyukai boneka itu. Kau tidurlah. Aku akan tidur di sofa. Oya....Jika berada di dekatku jangan berpakaian terbuka, aku takut berubah pikiran." Ucap mas Arya.
Benar saja mas Arya langsung tidur di sofa. Setelah mamastikan mas Arya tidur, barulah aku bisa memejamkan mata.
******
"Huuuuaaaaaahhhhmmm" Aku menggeliat, lega rasanya bisa tidur di ranjang yang luas. Tidur di ranjang sempit rumah sakit membuat badanku sakit semua. karena tidur tak leluasa. Ku lihat mas Arya masih tertidur pulas. Ku perhatikan wajahnya, mulutnya sedikit menganga. suara dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
Aku keluar dari kamar, mencari keberadaan Umi. Aku rindu beliau yang sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Apa jadinya ya jika aku bercerai dari mas Arya. Apa beliau akan tetap menyayangiku.
"Umi kenapa menangis? Ada apa?" Tanyaku.
"Pelakor itu menghancurkan segalanya, gara gara dia, Rista di talak sama suaminya. Hiz...hikzzzz" Aku sedikit bingung, Siapa maksud Umi.
"Rista siapa Umi?...." Tanyaku.
"Lihat itu..." Umi menunjuk TV di program Ikan tongkol terbang. FTV Istri yang teraniaya suami. Aku menepuk jidatku, ku pikir ada apa Umi.
"Umi Sedih jadi ingat masa lalu Umi waktu Abi mendua." Tuh kan Umi jadi curcol.
Abi datang langsung mematikan TVnya.
__ADS_1
"Abi kenapa di matiin? Orang lagi seru serunya juga."Protes Umi.
"Buat apa di tonton Kalau bikin sesak di dada. Ujung ujungnya Umi buka aib Abi."
"Maaf Abi. Umikan keceplosan."
Abi pergi meninggalkan kami berdua. Melihat film tentang perceraian saja Umi begini. Apalagi jika aku pisah dengan mas Arya.
"Nak Alyn. Apa kamu ada masalah sama Arya?"
Tanya Umi.
"Kenapa Umi bertanya seperti itu."
"Soalnya kemaren Arya seharian main disini. Nggak ngantor juga. Bukannya nemenin kamu di RS." Umi menjelaskan. Ku pikir mas Arya menemani Suci.
"Nak Alyn, Arya itu orangnya tidak terbuka. Walau ada masalah serumit apapun selalu ia pendam sendiri. Nunggu di pancing dulu baru dia mau cerita."
POV Arya.
"Abi maaf ya sebelumnya. Dulu Abi kan pernah selingkuh dari Umi. Terus apa yang di lakukan Abi supaya dapat maaf dari Umi?"
"Nak. Jangan bilang kalau kamu mengikuti jejak Abi?" Arya mengangguk.
"Ya ampun Arya.... Apa yang kamu lakukan. Apa Alyn tahu." Arya mengangguk.
"Perempuan itu rumit Arya. Jika marahnya satu jam. Merajuknya bisa Satu hari. Lebih parahnya mengungkit bisa Untuk selamanya. Umimu saja tiap marah sama Abi yang di ungkit pasti masa lalu. Padahal salahnya tidak merembet masa lalu."
*****
__ADS_1
Dukung author pake like komentar vote favorit ya Readers