AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
GUNJINGAN PARA KERABAT


__ADS_3

Brayen yang tidak pernah mengisi hidupnya dengan cinta dan perempuan, bahkan tak pernah sedikitpun terbesit dipikirannya untuk meraih bahtera rumah tangga, walaupun dengan parasnya yang tampan dan tubuh atletis serta kehidupan yang mapan dia tidak pernah menghiraukan wanita yang mendekatinya, para wanita itu mundur dengan rasa kecewa. Dan akhirnya dia disini memutuskan untuk menikahi gadis pecicilan yang jauh dari selera kaum Adam.


Hanya demi Umi Kulsum dan Abi Nizam, hanya demi berbakti pada Umi Kulsum ibu yang telah mengadopsinya dan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri dan hanya demi Abi Nizam yang selalu menjadi tempatnya bernaung.


Beliau tidak pernah membeda-bedakan Arya, Arfa dan Brayen. Baginya mereka semua sama. Dan tanpa Brayen sengaja telah melempar kotoran di wajah orang tua yang telah mengenalkannya dengan arti kasih sayang, membuatnya merasa memiliki keluarga.


"Demi menjaga hati dan nama baik keluarga, Saya bersedia menikahi Alena." Keputusan Brayen membuat semua Keluarga terkejut. Semua mata yang tadinya melihat drama Alena kini beralih fokus menatap Brayen.


"OM.... Kamu jangan ngomong sembarangan. Aku tidak sudi nikah sama OM...OM..." Ucap Alena dengan nada sedikit tinggi dan mata yang tajam penuh dengan emosi dia menunjuk nunjuk Brayen. Brayen sangat tidak menyukai sikap Alena, semua yang dia lakukan hanya demi baktinya pada orang tua yang sudah mengadopsinya.


"Jika tidak ada yang setuju dengan solusi saya maka setelah keluar dari ruangan ini saya akan merubah keputusan saya. Dan jangan lagi meminta pertanggungjawaban saya setelah nama baik keluarga ini tercoreng." Tegas Brayen.


"Umi, Alena tidak mau menikah dengan Om itu" Alena menangis dan mengguncang tangan Umi Naya tapi beliau tidak bergeming. Alena melangkah dengan lututnya menghampiri Abah Fajar dia menggenggam tangan Abah Fajar. "Abah, Alena masih muda, belum mau menikah. Apa lagi dengan OM itu. Alena masih ingin bebas."


"Nak...Abah tidak ingin kesucian mu di ragukan oleh semua orang. Setelah kejadian ini, orang orang akan mencemooh Keluarga kita terutama dirimu." Ucapan Abah Fajar membuat Alena syok dan menggelengkan kepala cepat.


"Alena tidak mau, Alena tidak mau..." Tangisannya makin menjadi, keputusan telah Abah Fajar buat secara sepihak tanpa persetujuan darinya.


"Alena masih ingin bebas." Ucap Alena.


Ucapan terakhir Alena menyulut emosi Umi Naya. " Alena masih ingin bebas." Dengan sikapnya yang tidak bisa di atur. Jika nasehat orang tua tidak mempan mungkin nasehat suaminya bisa berlaku."


"Bismillahirrahmanirrahim... Keputusan sudah di buat. Jangan membantah."Ucap Umi Naya tegas tak terbantahkan.


Alena bangkit mengambil kemoceng yang berada di sisi TV, lalu menghampiri Umi Naya dan menjejalkan kemoceng itu ke tangan Umi Naya. Alena membuka telapak tangannya di hadapan Umi Naya.


"Pukul Alena Umi, Pukul. Pukul sepuas hati Umi asal jangan paksa Alena untuk menikah dengan Om itu. Ayo Umi pukul Alena. Umi jangan diam saja. Alena jadi takut sama Umi Kalau Umi diam saja. Ayo Umi pukul Alena tampar kalau perlu. Ayo pukul Umi ." Alena menangis, berlutut di hadapan Umi Naya dengan telapak tangan yang terbuka. Abah Fajar mulai meringis memegangi dadanya.


Alyn hanya bisa menangis menggenggam dan mengguncang tangan Arya, berharap Arya akan memberikan solusi. Alyn takut Brayen akan melakukan kekerasan pada Alena seperti dia melakukan kekerasan pada Suci.

__ADS_1


"Tenanglah, aku akan bicara pada Brayen nanti." Arya berusaha menenangkan Alyn.


"Abaaaahhh...."Teriak Alyn saat melihat Abah Fajar roboh. Semua orang terlihat panik. Sementara Alena masih berlutut di tempat semula melihat Abah dengan perasaan hampa. Perasaannya jadi tak karuan. Dua kali penyakit jantung Abah kambuh dengan alasan yang sama yaitu Alena.


Mereka segera membawa Abah Fajar ke rumah sakit. Para kerabat yang melihatnya ikut simpati.


"Dia seperti itu karena anaknya. Alena memang susah di atur. Selalu bikin ulah"


"Dia pasti syok melihat perzinahan anaknya."


"Jika orang di kampung tahu, mau di taruh mana mukanya."


"Yang pasti tidak akan ada pemuda yang menikahinya." Ucapan dari beberapa kerabat Alena yang sedang bergosip.


***


"Brayen itu tidak pernah tertarik pada wanita. Pasti Gadis itu yang menggodanya."


"Iya kamu benar, gadis itu murahan sekali. Sial sekali Nak Arya bisa memiliki Adik Ipar seperti itu."


"Kasihan sekali orang tuanya, bisa memiliki anak seperti itu. Hingga Bapaknya syok dan harus di bawa ke rumah sakit." Gunjingan dari para kerabat Brayen dan Arya.


Alena menangis mendengarkan gosip yang tidak tidak tentang keluarganya. Alena hendak maju untuk meluruskan segalanya tapi tangannya di tarik paska dan di bawa ke ruang fitness.


"Apa yang kau lakukan." Alena menghempaskan tangan Brayen dengan kasar. Brayen tersenyum sinis melihat gadis di depannya.


"Kau dengar bagaimana mereka membicarakan kita. Oh salah.... Keluarga kita." Ucapan Brayen dengan tatapan yang dingin.


"Aku tidak peduli." Ketus Alena.

__ADS_1


"Dasar gadis egois. Kau pikir aku tertarik menikah dengan mu?" Brayen semakin di buat kesal oleh Alena.


"Lalu kenapa kau mengusulkan ide gila untuk menikah denganku?" Dada Alena sudah kembang kempis meluapkan emosi.


"Lalu bagaimana cara mengatasi solusi untuk meredam gosip tidak benar di luar sana? Apa kau punya ide yang lebih bagus dariku?... Hemmm!..." Ucapan Brayen dengan mata nyalang membuat Alena diam membeku tidak bisa menjawab pertanyaan Brayen. Alena kebingungan di satu sisi penyakit jantung Abah membuatnya khawatir dan takut. Di sisi lain gunjingan dari para kerabat, apa lagi jika sampai satu kampung tahu, maka reputasi Keluarganya akan hancur.


"Semua keputusan yang ku buat hanya demi keluarga ku. Dan kau berhenti lah memberontak?..." Brayen menegaskan.


Alena diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Baik aku mau menikah denganmu tapi aku punya syarat!..."


"Aku tidak sedang dalam keadaan tertekan. Disini kau yang bermasalah. Kenapa aku harus menerima syarat mu!!!..." Ucapan Brayen membuat Alena kebingungan.


"Kalau kau tidak mau menerima syarat ku, maka aku menolak menikah dengan mu."


"Paling syaratnya kau tidak mau ku sentuh dan menikah hanya beberapa bulan saja. Aku sudah bisa membaca isi kepala mu....Haaahhh aku juga tidak tertarik dengan mu..." Ucap Brayen santai.


"IYA... Syukurlah kalau kau tidak tertarik padaku." Jawab tegas.


"Baiklah aku setuju dengan persyaratanmu...Walau hal ini tidak bisa di benarkan..... Tapi.... Setelah menikah Aku adalah perintah yang harus kau patuhi. Jika melanggar kau akan menerima hukumannya."


"Perintah apa?" Kata kata Brayen membuat Alena ketakutan, ekspresi Brayen juga berubah rubah. Kadang menyeramkan, kadang datar dan terkadang santai.


"Tenanglah....Aku tidak akan mengajarimu hal buruk. Aku akan mendidikmu. Jika kau sudah bisa menjadi gadis yang manis, aku akan mengembalikan mu pada orang tua mu."


***


UNTUK CERITA ARYA DAN ALYN SUDAH BAHAGIA....INI GANTI CERITA ALENA DAN BRAYEN.

__ADS_1


Kalau cerita Iqbal dan Rani judulnya"CINTA GADIS OBAT NYAMUK"


__ADS_2