AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PEMBUNUHAN


__ADS_3

Brayen terus menyeret Alena membawanya menuju gedung aula di mana pentas seni diselenggarakan. Alena yang sudah melihat sisi lain Brayen takut dan tidak berani menolak apapun yang dilakukan Brayen.


Alena setengah berlari untuk mengimbangi langkah kaki panjang Brayen.


"Masuk." Brayen menunjuk pintu khusus untuk peserta naik ke atas panggung dengan dagunya.


"Abaaang." Alena merengek, dia teramat malu, dia memang ingin mengakui status pernikahannya tapi karena Rio menembaknya di hadapan banyak orang, sudah pasti orang orang akan menghujatnya setelah ini.


"MASUK." Ucap Brayen dengan nada tegas, emosinya belum reda sedikitpun. Wajah Brayen terlihat menakutkan di mata Alena, dia tidak suka dengan Brayen yang seperti ini.


"Tapi Bang aku malu. Aku pindah kampus saja ya."


"Jika kamu jujur dari awal, tidak akan seperti ini jadinya. Ini semua berawal dari kesalahanmu. Sekarang pertanggung jawabkan. Lebih baik berkata jujur walaupun terasa pahit. Daripada berbohong walau terasa manis." Karena Alena tetap tak bergeming akhirnya Brayen menyeret tangan Alena, memasuki ruangan menuju panggung.


Suasana yang tadinya ricuh karena Sorak Sorai para mahasiswa dan mahasiswi kini berubah sunyi saat Alena dan Brayen berpegangan tangan menaiki panggung.


Semua mata para wanita tertuju pada Brayen, mereka semua terpesona melihat sosok Brayen, ketampanan dan kegagahan menghipnotis setiap mata yang memandang.


Rektor dan dekan yang melihat kedatangan Brayen, ikut naik ke atas panggung dan menunduk hormat pada Brayen. Brayen menatap lekat satu persatu wajah mahasiswa yang berada di hadapannya, sementara Alena hanya menunduk dengan kaki yang gemetaran karena dia demam panggung.


"Anak anak berikan tepuk tangan yang meriah untuk Tuan Brayen, beliau adalah donatur yang memberikan sumbangan terbesar di kampus kita ini." Ucap Rektor kampus.


"Prok prok prok prok prok prok..." Semua orang bertepuk tangan untuk Brayen. Brayen mengangkat telapak tangannya yang terbuka ke atas, seketika keadaan menjadi sepi.


"Perkenalkan nama saya Brayen dan wanita cantik yang berada di samping saya adalah istri saya tercinta. Maaf jika kami tidak mengumumkan pernikahan kami. Sebab pernikahan kami di selenggarakan dengan sederhana. Kami berencana akan mengumumkan pernikahan kami setelah Alena lulus kuliah sekaligus dengan acara resepsinya."


"Eeh, Abang ternyata Abang punya tujuan ke situ." Alena mendongak menatap wajah suaminya.


"Saya minta maaf akibat dari ketidakterbukaan kami hingga terjadi ketidak nyamanan di sini." Semua orang terkejut mendengar pernyataan Brayen, mereka semua tidak menyangka bahwa Alena bisa diperistri oleh orang terpandang seperti Brayen.


"Saya harap kedepannya istri saya bisa kuliah dengan nyaman di sini. KARENA DIA ADALAH ISTRI SAYA." Ucap Brayen dengan nada mengancam yang ditekankan karena dia tidak ingin setelah kejadian ini Alena akan dipermalukan di kampusnya.


"Cukup sekian, Terima kasih." Kemudian Brayen berjabat tangan dengan pak Rektor dan Dekan. Dan menarik tangan Alena yang berdiri di sampingnya dan turun dari panggung.

__ADS_1


***


Di dalam mobil Brayen masih memasang wajah dingin, Alena yang masih ketakutan pada Brayen berulang kali menelan salivanya. Sosok Brayen terlihat menakutkan di mata Alena, suasana di mobil terlihat mencekam bagi Alena. Alena takut jika Brayen akan menghukumnya, dalam hati Alena komat Kamit membaca doa. Sepanjang jalan keduanya hanya bungkam.


Brayen memarkir mobilnya sembarangan, dia mengitari mobil, membuka pintu mobil dan menarik tangan Alena. Brayen membawa Alena masuk ke dalam kamar.


Brayen berdiri bersedekap menatap Alena, yang menunduk ketakutan duduk di sisi ranjang.


"Ada yang ingin kau jelaskan Alena."


"Maaf, aku salah." Ucap Alena yang masih menunduk, dia sangat takut pada Brayen. Bayangan saat Brayen menghajar Rio masih melekat di ingatan Alena.


"Lain kali pikirkan dulu sebab akibat sebelum berucap dan bertindak."


"Iya." Jawab Alena dengan nafas yang sesak.


"Renungkan semua kesalahanmu." Ucap Brayen yang kemudian pergi meninggalkan Alena.


Setelah Brayen menutup pintu, tangis Alena mulai pecah. Dia meringkuk ke dalam selimut, dia menangis sejadi jadinya.


"Aku tahu aku salah tapi apa Abang nggak tahu kalau kejadian hari ini membuatku sangat terpukul. Apa lagi Rio hampir melecehkan ku. Kenapa Abang tidak simpati padaku. Kenapa malah bersikap dingin padaku." Alena menggerutu dalam selimut, dia malu, hatinya sakit, apa lagi dengan sikap Brayen yang dingin.


"Semalam aku udah bilang kalau aku mau mengakui pernikahanku hari ini, mana aku tahu kalau Rio akan nembak aku di depan banyak orang. Mana aku tahu kalau Rio akan melecehkan ku. Hikzzz..." Alena terus menangis, Alena tidak mengenal Brayen yang sekarang. Brayen terlihat seperti monster saat sedang marah.


***


"Kenapa ibu membuangku di panti asuhan?..." Ucap Arya dengan wajah sendu, penuh penghakiman. Seolah-olah seribu bongkahan batu telah menghujaninya semasa hidup. Seolah-olah sedang menyalahkan wanita bercadar itu yang telah memberikan beban kehidupan padanya selama ini.


"Ibu tahu, aku sangat menderita tanpa orang tua di panti asuhan. Aku merasa diasingkan... Aku merasa dikucilkan... Teman-teman mengejekku, Karena aku tidak punya orang tua..."


"Aku menjalani hari-hari dengan banyak duka Bu. Kenapa Ibu tega meninggalkan ku di panti asuhan?...." Arya berucap dengan nada seharus mungkin. Arya mengungkapkan apa yang Brayen rasakan semasa kecil, hingga dia menjadi pria yang dingin dan tidak mau mengenal cinta. Beruntung, sebuah kesalahan mempersatukan Brayen dan Alena dalam ikatan pernikahan suci.


Raut wajah Arya yang dibuat sendu itu berhasil membuat wanita bercadar itu luluh dan terharu, wanita itu merasa bersalah sekali Arya.

__ADS_1


Wanita bercadar itu mulai mendekati Arya, dia duduk di hadapan Arya menatap wajah itu lekat-lekat.


"Siapa kau Nak dan dari mana kau mendapatkan cincin itu?..." Ucap wanita bercadar itu. Arya dapat melihat kesedihan dan duka di mata wanita itu. Tatapan matanya begitu tulus.


"Cincin ini kudapat dari Ibu panti, dia bilang dia menemukanku di panti asuhan bersama dengan cincin ini." Ucap Arya kemudian Arya merogoh saku celananya. "Dan juga gelang ini." Lanjut Arya.


"Jadi wanita cantik yang bertemu di supermarket dengan ku dan memakai gelang ini siapa?..."


"Dia istriku."


"Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, siapa aku sebenarnya? Aku tahu, cincin ini bukan sembarang cincin."


Wanita bercadar itu terlihat sedang memikirkan sesuatu, menimbang nimbang apakah dia harus menceritakan segalanya pada orang yang baru dia kenal.


"Ibu, katakan sesuatu jangan diam saja." Arya mulai mendesaknya.


Tiba-tiba wanita bercadar itu menangis histeris dan memeluknya dengan erat. Arya tidak menyangka wanita itu akan bersikap seperti ini. Arya mulai berempati.


"Aku sangat merindukanmu anakku, Ibu terpaksa menitipkanmu pada wanita itu, semua itu aku lakukan demi keselamatan mu."


"Deg." Jantung Arya berdegup, dia terkejut dengan pernyataan yang wanita itu ucapkan. "Anak, jadi benar wanita ini ibunya Brayen." Khasanuci pun sama terkejutnya dengan Brayen, Arya dan Khasanuci saling pandang, antara percaya dan tidak percaya.


"Apa maksudmu Ibu?"


"Jelaskan padaku, aku tidak mengerti." Wanita itu kembali menangis di pelukan Arya.


Arya membiarkan wanita itu menangis, Arya tahu wanita itu memiliki beban berat dalam hidupnya selama ini. Arya membiarkan wanita itu mengeluarkan semua keluh kesah dan juga penderitaannya di pelukan Arya.


"Maafkan Ibu. Ibu sengaja membuangmu karena Ibu tidak ingin mereka membunuhmu Seperti mereka membunuh Ayahmu." Tangis Wanita itu semakin menjadi.


"SIAPA? SIAPA? SIAPA YANG MEMBUNUH AYAH BRAYEN." Arya berteriak sangat lantang, dia sangat geram mendengar ungkapan wanita itu. Arya melepas pelukannya dan memegangi kedua bahu wanita itu. Wajah Arya Terlihat murka.


***

__ADS_1


SELEMAT MENIKMATI.


Jangan lupa jempolnya, tinggal tik doang Yakan Mak emak...


__ADS_2