AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
SISI LAIN ALENA


__ADS_3

"Hahahaha belum juga apa apa, sinyal mu sudah berdiri." Ucap Arya yang mengintip chat dari Alena. Brayen langsung melihat ke bawah. Benar saja sudah berdiri tegak memberi hormat.


Dia tidak peduli dengan ucapan Arya. Yang dia pikirkan hanya malam pertama yang akan mereka lakukan.


"Sudah pergi sana." Ucap Brayen.


"Siap komandan." Arya memberi hormat pada sang junior yang berdiri tegak.


"Sial kau."


"Hahahaha... Sinyal yang dikirim Alena sangat kuat, berapa watt ya?..."Kemudian Arya berlenggang pergi ke dapur untuk mencari cemilan.


Sementara Brayen kembali ke kamarnya, dia meletakkan hp-nya di atas nakas kemudian bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukanya dengan pembersih wajah.


Brayen sedikit membasahi rambutnya kemudian dia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk. Dia memakai serum di wajahnya, setelah itu memberikan jel pada rambutnya dan bersisir dengan gaya rambut undercut. Setelah dirasa cukup tampan, dia menghubungi Alena video call.


Alena terkejut dan kebingungan saat ada panggilan video call dari ke Brayen. Dia tidak langsung menerima teleponnya dia masih malu-malu setelah mengirim chat itu.


"Kenapa dia tidak menerima telepon Ku ya?"Brayen bergumam keheranan.


Alena segera turun dari ranjangnya Dia berjalan menuju ke arah cermin dia melihat wajahnya yang sedikit kusam.


Alena langsung berlari ke kamar mandi kemudian Alena membasuh mukanya. Alena kembali ke kamarnya sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk.


Alena duduk di depan cermin menggunakan pelembab, bedak tipis serta lipstik yang tipis kemudian Alena menyisir rambutnya hingga rapi.


Dilihatnya Hp sudah tidak ada panggilan dari Brayen kemudian Alena mengirim chat lagi pada Brayen.


"Abang." isi chat dari Alena. Alena melihat isi chat terlihat centang sudah berwarna hijau pertanda Brayen sudah membacanya. Tak lama kemudian, Brayen pun langsung menghubungi Alena dengan video call.


Hati Alena seperti di terpa dinginnya angin surga saat melihat wajah tampan Brayen rasa rindunya sedikit terkikis.


"Alena di mana wajahmu?" Brayen bertanya karena yang muncul di video call itu bukanlah Alena melainkan dinding dan lemari.


"Ada."


"Mana Aku ingin melihat wajahmu?"


"Aku malu."


"Kenapa malu. Kau sangat cantik." Brayen mulai berani merayu Alena. Wajah Alena langsung bersemu merah.


"Asyeeekk...." Arya lewat dan langsung di lempar bantal oleh Brayen. Arya pun pergi.


"Siapa Bang?"


"Arya?..."


"Owh...."


Diam sejenak, keduanya bingung mau bicara apa, karena yang ada di otak mereka hanya malam pertamanya nanti. Keduanya sama-sama masih canggung Setelah marahan.


"Alena Apa benar kamu merindukanku?" Ucap Brayen beberapa saat kemudian.


"Uumm....eeemm….eee, Abang sendiri rindu nggak sama aku?" Alena balik bertanya.


"Iya aku rindu sama kamu. Kalau kamu rindu tidak dengan ku?"


"Tadi kan sudah ku jawab di chatting-an."


"Kalau rindu kenapa ngotot minta balik ke Kampung Nelayan?"


"Soalnya aku nggak mau ganggu hubungan Abang dan Suci?"

__ADS_1


"Hey hey.. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Suci."


"Kalau tidak punya hubungan dengan Suci kok perhatian banget sama anaknya?"


"Kapan aku perhatian sama anaknya Suci?"


"Itu waktu di rumah sakit dan mobil pas nganter aku di bandara."


"Mana?....Aku bahkan tidak punya nomor handphone Suci."


"Ah bohong... Waktu telpon, Abang Panggilnya Ci Ci Ci gitu." Alena memasang wajah cemberut.


"Selama di dalam mobil tidak ada yang menghubungi ku kecuali Khasanuci. Eh tunggu dulu... Jangan jangan Kau Cemburu pada Khasanuci ya?" Brayen tersenyum senang.


"Ah nggak..."


"Ayo ngaku..."


"Abaaaang..." Alena merengek malu.


"Ya udah kalau tidak mau ngaku."


"Abang..."


"Apa?..."


"Benar kata Dilan, rindu itu berat. Hehe"


"Kalau rindu kenapa ngotot minta pisah?"


"Soalnya Abang galak..."


"Aku janji mulai sekarang tidak akan galak-galak lagi sama kamu karena aku tidak ingin kamu pergi lagi dariku."


"Karena... Karena... Karena..." Brayen ingin sekali mengatakan bahwa dia sangat mencintai Alena tapi suaranya tak kunjung keluar seperti ada biji buah kedondong yang tersangkut di tenggorokan Brayen.


"Alena mengenai Chat mu tadi Apa kau benar-benar serius?" Brayen bertanya pada Alena. Alena yang malu bercampur gugup menggigit-gigit jarinya, pura-pura tidak tahu.


"Chat yang mana bang?"


"Chat yang mengenai Malam Pertama."


"Di obok obok itunya di obok obok. Ularnya kecil kecil pada mabok." Arya lewat lagi di depan kamar Brayen sambil bersenandung.


"Ah sial kau." Ucap Brayen. Kemudian Brayen melempar bantal pada Arya dan menutup pintu, lalu mengunci pintu kamarnya.


"Siapa Bang?... Bang Arya lagi ya?"


"Iya."


"AWAS SALAH TUSUK." Arya berteriak lagi di depan kamar Brayen.


"Ah Arya sialan." Brayen membatin.


"Rasain, kau dulu ngerjain aku, hingga aku dihajar oleh Alyn."Arya balas membatin."


"Alena... Bagaimana?..."


"Apanya yang bagaimana?"


"Malam pertamanya?"


"Kenapa?... Abang nggak mau..."

__ADS_1


"Mau banget..Eh..." Brayen keceplosan, membuat Si anak perawan gugup dan berkeringat. Ah... Pikiran keduanya sudah traveling kemana-mana.


"Mana wajahmu Aku ingin lihat wajahmu?"


Kemudian Alena menunjukkan wajahnya yang sudah bersemu merah dan melihat Brayen malu-malu.


Mereka berkomunikasi hingga larut malam dan mulai terbuka satu sama lain.


***


"Assalamualaikum..." Tepat pukul 05.35 Brayen sampai di di rumah Alena di Kampung Nelayan.


"Waalaikumsalam..." Jawab Uni Naya.


"Eh Nak Brayen, pagi sekali datang kemari."


"Iya Umi." Brayen tersenyum hangat.


"Ayo Nak masuk."


"Alena sedang tidak ada di rumah Nak. Alena sedang keluar." Ucap Umi sambil terus berjalan mengantar Brayen menuju kamar Alena.


"Sepagi ini? Kemana Umi?" Ucap Brayen khawatir.


"Setiap pagi Alena selalu mengantar makanan ke rumah janda tua yang hanya hidup berdua dengan cucunya yang masih kecil, dia tidak akan mau makan sebelum memberikan mereka makanan." Jawab Umi Naya.


"Kalau dia sedang tidak ada, maka dia akan menyuruh teman-temannya untuk menggantikannya sementara mengirimi nenek tua itu makanan." Ucap Umi Naya. Brayen mengerutkan dahinya merasa heran, Brayen tidak pernah tahu sisi lain dari Alena. Alena gadis pecicilan tapi berhati mulia. Brayen merasa sangat beruntung menikahi Alena, Alena bukanlah gadis biasa, Alena bagaikan mutiara yang terbungkus kerang.


"Setiap hari Umi?"


"Iya setiap hari Nak."


"Ini kamar Alena." Ucap Umi Naya menunjukkan kamar Alena pada Brayen.


***


Brayen sangat takjub melihat isi kamar Alena.


Brayen memperhatikan kamar Alena yang berantakan dengan beberapa pakaian yang berserakan ke mana-mana bahkan ada Bra di atas ranjang. Membuat pikiran Brayen travelling ke mana-mana.


"Gadis ini benar-benar..." Brayen menggelengkan kepala, dia pusing melihat isi kamar Alena. Di rumah Brayen selalu ada pembantu yang membereskan kamarnya Alena.


Setelah lelah melewati perjalanan jauh, Brayen bukannya istirahat malah membersihkan kamar berantakan Alena. Brayen memunguti beberapa pakaian yang berserakan.


***


"Abang ayo keluar kita sarapan bersama." Ucap Alena dari luar pintu. Mendengar suara Alena datang. Brayen langsung terlonjak kaget, pikiran Brayen langsung travelling tak jauh dari Malam Pertama. Eh bukan malam pertama, tapi siang pertama. Lagi lagi tubuh Brayen menegang. Saat membuka pintu Alena. sudah tidak ada.


***


...SABAR MENANTI ML di episode selanjutnya. Request yang HOT or yang SENSOR?......


...Aku baca semua komentar kakak semua tapi maaf seribu Maaf saya tidak sempat untuk membalas....


...Kak Baca karyaku juga kak "JANGAN BERHENTI MENCINTAIKU" ...Yang ini. ceritanya lucu dan romantis. Citra si gadis miskin tapi cantiknya mirip bidadari yang di kejar kejar sama anak konglomerat....


...Awal ketemu karena salah masuk jalan....


...Ceritanya lucu dan seru....


...Anak SMA dan mahasiswa....


__ADS_1



__ADS_2