AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
PILIHAN YANG SULIT


__ADS_3

POV Alyn.


"Sebenarnya aku jengkel sama mas Arya. Setiap bersamaku selalu menyebut nyebut namamu Alyn."Ucap wanita simpanan suamiku. Dia bicara seperti aku ini kakaknya padahal aku madunya. Anggaplah seperti itu.


"Jika kalian saling mencintai kenapa mas Arya tidak menikahimu? Kenapa malah manyulitkan hidupku." Ucapku.


"Kami terhalang restu orang tua." Ucap wanita simpanan suamiku. Aku tersenyum getir mendengar alasannya.


"Apa kalian sudah pernah berhubungan intim?" Ucap ku. Jantungku berdegub kencang memberikan pertanyaan seintim ini. Nafasku kembang kempis menantikan jawaban dari simpanan suamiku.


"Tidak. Sebelum kami menikah nanti." Jawab wanita simpanan suamiku.


"Jadi kalian masih ada niat untuk menikah?" Ucapku.


"Kami saling mencintai. Tentu saja kami akan menikah." Jawab wanita simpanan suamiku tanpa tahu malu.


"Tidak akan. selama aku masih menjadi istri mas Arya." Jawabku.


"Tidak lama lagi kau sudah pasti akan di ceraikan." Ujar wanita itu.


Setiap kata demi kata dari calon maduku membuat nafasku sesak makin lama makin sesak.

__ADS_1


Sudah dapat di pastikan Air mataku akan mengucur jika terus mengorek segala informasi tentang hubungan mereka.


"Percaya diri sekali kau.?" Ucapku yang sudah tidak tahan dengan ocehannya.


"Tentu. Aku tahu sebesar apa cinta mas Arya padaku. Bahkan aku juga tahu mas Arya tidak pernah menyentuhmu kan." Ujar wanita itu.


Mendengar ucapan wanita simpanan suamiku membuat emosiku meradang.


Mas Arya bukan hanya menginjak injak harga diriku sebagai seorang istri. Tapi dia juga membeberkan aib yang harusnya ia tutupi. Benar. Bagiku ini aib yang sangat besar. Aku istri yang tak di inginkan. Istri yang masih perawan. Aku begitu malu di hadapan wanita durjana ini.


"Maafkan aku jika perkataanku sangat keterlaluan. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Jika kau ingin menangis, bersandarlah di bahuku. Tapi jangan di bahu mas Arya." Ucap wanita itu.


"Jika aku berada di posisimu, aku tidak akan menjadi wanita murahan seperti mu." Ucapku. Aku melihat tangan ****** itu mengayun ke atas. Dengan sigap ku cekal pergelangan tangannya dan kuplintir. Dia meringis kesakitan lalu ku hempas tangannya dengan kasar. wanita itu memegangi tangannya yang kesakitan.


"Jika hanya sepuluh ****** sepertimu takkan mampu mengalahkan tenagaku." Ucapku.


"Permisi." Aku berlalu pergi meninggalkan wanita itu yang masih kesakitan karena ulahku.


Memangnya siapa dia?...Bisa bersikap semena mena padaku. Mereka sudah cukup menyakiti hatiku tapi bukan berarti aku akan membiarkannya menyakiti tubuhku.


Tapi tetap saja aku pulang dengan kekalahan. Hatiku benar benar sakit mengingat adegan mesra mereka dan juga kata kata wanita itu.

__ADS_1


Untung saja aku mengenakan Helm dengan kaca yang gelap. Jadi tidak ada pengendara lain yang dapat melihat tangisanku.


Aku tak bisa konsentrasi mengendarai motor. Harusnya aku belok tapi malah lurus. Kenyataan pamit yang ku terima saat ini benar-benar menyita pikiranku.


Aku bingung harus berbuat apa. Apakah aku harus menggugat cerai mas Arya?...Atau berusaha sangat keras lagi agar mas Arya bisa mencintaiku.


Aku sangat minder dengan pilihan kedua. Bagaimana mas Arya akan mencintaiku? Melihatku saja tidak.


Tapi jika aku memilih pilihan pertama, Apa kata tetangga di kampung halaman rumahku?...Menikah baru dua bulan sudah menjadi janda. Masih perawan lagi.


Lalu bagaimana dengan penyakit jantung Abah. Baru enam bulan lalu Abah masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh. Apa yang akan terjadi jika Abah mengetahui masalahku. Jelas jelas dokter mengatakan agar jangan membuat Abah stres dan terkejut.


Aku benar-benar frustasi memikirkan nya.


Mungkin pilihan pertama adalah yang terbaik. walau ku tahu akan sangat sulit.


"Braaaaaakkkkk"


******


jangan lupa dukung author dengan like komentar vote

__ADS_1


__ADS_2