
Yazid memasuki kamar Alena, dia sangat heran melihat perubahan dari sikap Alena, padahal Alena selalu bersikap sinis padanya tapi kini Alena malah tersenyum manis padanya.
"Why are you looking at me like that? Is there anything strange?(Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh?)" Ucap Yazid.
"After my Iddah is over, I am willing to marry you.(Setelah masa Iddah ku selesai, aku bersedia menikah denganmu.)"
"Really? Why did you suddenly change your mind?(Benarkah? Kenapa mendadak berubah pikiran?)"
"No need to brainwash me. Now that I think about it, being a the wife of the no 1 rich man in Chiber must be really fun.(Tidak perlu cuci otak saya. Setelah saya pikir-pikir, menjadi istri orang terkaya di negeri Chiber pasti sangat menyenangkan.)"
"Nice smart girl.(Bagus gadis pintar)"
Kemudian Yazid menyuruh pelayan mengambil makanan untuk Alena. Alena pun memakannya dengan sangat lahap. Alena berusaha semaksimal mungkin berakting untuk mengelabui Yazid karena dia tidak ingin Yazid mencuci otaknya dan menghapus ingatannya tentang Brayen. Alena juga berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Alena senantiasa berdoa menyebut nama Brayen dalam setiap doanya, berharap keselamatan bagi suaminya.
***
Kelompok Brayen membagi tugas. Sebagian pergi ke negeri Chiber untuk memprovokasi rakyat melakukan demonstrasi besar-besaran Karena kepemimpinan Yazid yang di rasa merugikan rakyatnya.
Brayen menyamar menjadi ibunya, dia keluar dari rumah menuju halaman di depan rumahnya.
Dua mata mata yang mengintai kediaman Brayen bersembunyi di gedung yang di sewakan oleh pemiliknya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kediaman Brayen, dan berada di gedung yang cukup tinggi. Dia mengarahkan senjata Laras panjang ke dada Brayen, tiba-tiba melesat satu tembakan ke dada Brayen hingga tubuh Brayen terhentak dan roboh. Beruntung Brayen menggunakan baju anti peluru. Hingga pistol itu tidak menembus dadanya.
Aksi penjahat itu di ketahui oleh kelompok Brayen karena sudah di curigai sejak awal dan terjadilah pengejaran. Pengejaran juga di lakukan dengan menggunakan Drone agar tidak kehilangan jejak lagi.
Sebelum penjahat itu berhasil memasuki mobil, anak buah Brayen berhasil menghadangnya dan terjadilah perkelahian sengit. Khasanuci juga ikut andil dalam pertarungan tersebut. Setelah Khasanuci berhasil memasang pelacak di baju salah satu penjahat, dia pura pura kalah dan membiarkan para penjahat itu pergi dan pulang ke sarangnya. Dia juga memberikan isyarat pada anak buahnya untuk mengalah.
***
Beberapa saat kemudian markas penjahat itu sudah di ketahui keberadaan lewat pelacak.
Sky Mouse (Tikus pengintai) mulai beraksi. Iqbal meletakkan tikus di tanah dari jarak yang jauh, agar aman dari pengawasan musuh. Di markas musuh, Sky Mouse berjalan kesana-kemari, melihat semua isi rumah yang berada di daerah pedalaman jauh dari pemukiman.
__ADS_1
Di sana hanya ada 10 orang, ada alkohol yang berjajar rapi di bufet dan beberapa botol alkohol di atas meja bersanding dengan kacang dan domino.
4 orang teler karena mabuk namun yang lain masih siap siaga di sana, ada juga alat komunikasi yang di buat khusus agar tidak terdeteksi. Tikus itu tidak bisa menemukan keberadaan Alena. Tapi dia bisa mendengarkan percakapan salah seorang dengan Yazid, dia mengatakan bahwa Yazid berada di pulau xxxx bersama Alena.
"Saya sudah berhasil membunuh Zara Anne."
"Apa kau yakin?..." Ujar Yazid yang nampak ragu.
"Saya yakin Tuan, sebab saya menembaknya tepat di dada kirinya. Tepat di jantung, sama seperti saat saya menembak Brayen."
"Kerja bagus, aku akan memberikanmu hadiah istimewa karena telah sukses menjalankan tugas dariku. Segera lah kemari."
"Baik Tuan. Sekarang juga kami akan berberes-beres untuk berangkat ke pulau xxxx."
Panggilan pun di tutup.
Anak buah Yazid mulai menghancurkan semua bukti dan arsip yang ada di markasnya. Kemudian mereka berberes-beres membawa semua barang bawaannya.
Setelah melihat mereka hampir selesai berberes-beres robot tikus itu masuk ke dalam tas milik penjahat yang mabuk. Dan penjahat itu mulai bergegas ke pulau xxxx.
***
Di negeri Chiber terjadi demonstrasi besar besaran di depan istana negara Chiber padahal demonstrasi di wilayah istana negara adalah pelanggaran tapi rakyat yang geram tidak peduli, anggota pemerintah di buat kalang kabut oleh rakyat.
Mereka membakar poster, melempar gedung dengan batu berapi, melompat pagar, melawan para petugas. Setelah berhasil merobohkan pagar, massa yang marah masuk dan merusak semua fasilitas yang ada.
***
Sementara perdana menteri di alihkan perhatiannya dengan demo besar-besaran di negara Chiber. Di pulau xxxx penyerangan besar besaran di lakukan, kedua belah pihak saling menyerang, Iqbal dan Brayen mengerahkan semua anak buahnya yang terlatih. Anak buah Yazid yang kalah jumlah berhasil di lumpuhkan.
Yazid berusaha menghubungi seseorang di negaranya, dia hendak meminta bantuan namun sayang sinyal di sana di putus. Bahkan alat komunikasi khususnya juga sudah di hancurkan.
__ADS_1
Di menyandra Alena, menodongkan pistol ke kepala Alena dengan lengan yang membelit leher Alena.
"Braaaaakkkk...." Pintu kamar Alena di dobrak oleh Brayen. Mata Alena menangkap sosok Brayen yang berdiri di ambang pintu menodongkan pistol ke arahnya karena Yazid berada di belakang Alena.
Rasa syukur dalam hati terus Alena panjatkan banyak-banyak karena melihat Brayen masih hidup dan sehat. Hati Alena lega dan bahagia. Suasana menjadi haru, Alena ingin sekali berlari ke pelukan Brayen untuk meluapkan semua emosi di hatinya.
Brayen menatap Alena begitu intens, rasa rindu dan bahagia bercampur pahit bergelayut di hatinya saat melihat Ratu di hatinya menangis menjadi sandra Yazid. Rasa benci, amarah dan jijik melihat musuh di depan mata tapi tak bisa melakukan apapun. Hal itu membuat hatinya terasa sesak seperti terhimpit tembok besar.
"Abang kau masih hidup..." Alena senang, dia kegirangan.
"Iya sayang."
"Shut up.(Diam)" Yazid membentak Alena dan semakin mencekiknya. Membuat Alena meringis kesakitan.
"Heeeeyyy..." Brayen yang tak terima berteriak menantang. Matanya merah melotot, penuh dengan kobaran amarah.
"Shut up." Yazid kembali berteriak.
"Abang aku tidak apa-apa. Tenanglah." Alena berusaha menenangkan Brayen yang emosi.
Brayen mulai memasuki kamar di ikuti Iqbal, Khasanuci dan Arya dan tiga anak buahnya, mereka semua menodongkan pistol ke arah Yazid.
"Drop all your guns or I'll shoot this girl in the head.(Jatuhkan senjata kalian semua atau ku tembak kepala gadis ini.)
Kemudian semua kelompok dari Brayen perlahan meletakkan senjatanya ke bawah dengan mata yang masih waspada melihat ke arah Yazid.
"Now raise your hand.(Sekarang angkat tangan.)" Titah Yazid, mereka semua pun menuruti.
"Now give me a way out.(Sekarang beri aku jalan untuk keluar.)"
***
__ADS_1
Selamat menikmati....
Alena akan segera bebas, saya tidak kuat dengan dengan Permintaan Mak emakku tercinta hahahaha....