AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
RIO PEMUDA DI CAFE


__ADS_3

Brayen berjalan melewati Anita, seolah Anita adalah manusia tak kasat mata.


"Brayen..." Anita memanggil Brayen dan mengekorinya.


"Brayen aku memanggil mu."


"Iya aku dengar."


"Kenapa berjalan tak melihat ku?"


"Apa pentingnya?..."


"Ya, tidak ada sih." Ucap Anita. "Dari dulu tak pernah melihat ku. Sekarang aku sudah cantik tetap tidak melihat ku."


"Kau ada masalah apa dengan adik iparnya Arya?..." Anita bertanya. Brayen menghentikan langkahnya. Dia merasa kesal dengan pernyataan Anita. Alena bukan hanya adik ipar Arya tapi juga istri dari Brayen.


"Maaf... Bisa tinggalkan aku sendiri." Ucap Brayen tegas namun masih sopan. Anita langsung diam mematung tak bergeming. Brayen langsung melangkah pergi.


"Huuuuufffhhh...Ku pikir dia sudah berubah. Ternyata masih sama seperti dulu. Cuek, tegas dan dingin tapi baik hati. Dulu aku berhijab karena tahu kamu tidak suka gadis genit yang pakaiannya seksi."


"Maaf Bu, ibu di panggil sama pak Rektor, di suruh ke ruangannya." Ucap seorang mahasiswa membuyarkan lamunan Anita.


"Iya." Ucap Anita kemudian melenggang pergi.


***


"Hy adiknya bidadari..."Ucap Rio.


"Iiiiiihhhhh apa sih, pegang pegang." Alena menghempaskan tangan Rio.


"Hy jangan galak galak... Ingat tidak. Aku yang di Cafe waktu itu."


"Berisik lu..." Alena beranjak pergi hendak mengejar kepergian Brayen yang sedang marah. Tapi Rio malah mencekal pergelangan tangan Alena.


"Dunia memang sempit atau kita memang berjodoh bisa kebetulan ketemu di sini."


"Lepaskan tanganku."


"Di telepon nggak di angkat di chat nggak di bales. Eh tau tau ketemu di sini. Semoga takdir mempersatukan kita. Semoga kita berjodoh."


"Jodoh pala Lo peang. Lepas tanganku."


"Jawab dulu pertanyaan ku. Dinda ngapain di sini?..."Rio bertanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Iiiiiihhhhh apa sih, namaku Alena bukan Dinda." Ucap Alena sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rio.


"Oh Alena... Nama yang indah, seindah parasnya."


"Ah sial... Kenapa aku malah memberi tahu nama ku sih!"


"Ayo lepasin tanganku."


"Jawab dulu ngapain Di sini."


"Aku numpang pipis di kampus sini."


"Masa' sih! Biasanya orang numpang pipis itu di pom bensin atau di masjid ini malah di kampus. Kamu itu menggemaskan sekali."


"Aaaawwww...." Rio mengaduh kesakitan karena Alena menginjak kakinya.


"Syukurin." Alena langsung kabur tapi tangannya keburu di tarik oleh Rio.


"Tolong... Toloooooong....Saya mau di lecehkan...."


"Wow wow wow wow wow wow...." Rio langsung melepaskan tangan Alena.


Alena berlari berbalik ke belakang dan meninju udara ke arah Rio. Alena kembali berlari mengejar kepergian Brayen yang makin jauh.


"Gadis ini benar-benar membuatku penasaran." Ucap Rio yang terus memandangi kepergian Alena yang berlari. Di lihatnya Alena hilang setelah berbelok ke lorong sebelah kanan.

__ADS_1


***


"Abaaaang tungguin aku." Ucap Alena dengan suara lantang saat melihat Brayen berjalan dengan langkah cepat. Alena semakin cepat berlari hingga akhirnya dia berhasil menyusul Brayen.


"Abang jalannya cepat banget sih mentang-mentang punya kaki panjang, untung bukan panjang tangan." Ucap Alena yang kini berjalan di sisi Brayen.


"Huuuuufffhhh... Dia pikir aku maling apa! Istri kecilku ini benar-benar menyebalkan. Kalau bicara suka seenak jidatnya sendiri." Brayen tetap diam tak bergeming walaupun Alena sudah memeluk lengannya. Dengan kepala yang bersandar di lengannya.


"Abang jangan ngambek dong, kalau ngambek cantiknya berkurang 1% loh..."


"Dasar gadis ini , dipikir aku bencong apa!..."


"Abang kenapa diam saja. Abang ngomong dong...Jangan kayak kakek kakek yang giginya ompong."


"Abang...Marahnya jangan lama-lama... Nanti malam nggak kuberi jatah lo..."


"Aaw Aaw Aaw." Alena mengaduh kesakitan karena Brayen langsung menarik pipi Alena karena gemas dengan istrinya yang ceriwis ini.


"Jatah apa hah?...Selama menikah aku cuma satu kali makan kamu. Ini sudah sembilan hari loh dari malam pertama kita. Kamu cuma ngasih aku jatah satu kali." Brayen mulai protes. Dia sudah cukup sabar menghadapi Alena.


"Abang ingat, sampai di hitung segala harinya. Aku saja tidak ingat. Abang pengen???"


"Ya iyalah."


"Kenapa nggak minta."


"Gimana mau minta kalau kalau kamu selalu bilang masih sakit."


"Bukan sakit sih Bang."


"Lalu?..."


"Aku ngeri... Ngebayangin saja takut."


"Nggak usah di bayangin di praktekan saja nanti malam." Ucap Brayen.


"Apa?....Jangan melotot, aku sudah cukup sabar menunggu mu." Lanjut Brayen .


"Ingat... Meski Kuliah harus tau batasan. Jaga jarak dengan laki laki. Kalau sampai kau ketahuan dekat dengan laki laki lain maka aku akan mengurungmu SELAMANYA."


"Selamanya." Alena mengulangi ucapan Brayen.


"Iya selamanya." Sahut Brayen.


"Abang..."


"Apa?"


"Abang pengen banget ya punya anak."


"Iya. Jangan Katakan kalau kamu tidak siap."


"Aku siap punya anak, asal Abang yang mengandung dan melahirkan?..."


"Adu duh aduh..." Alena meringis sakit karena Brayen menarik hidungnya."


***


Alena memasuki kelas barunya bersama dengan seorang dosen.


Wajah Alena seketika langsung merengut saat melihat Rio melambaikan tangannya di satu kelas yang sama dengan Alena


"Iiiiiihhhhh, apes banget sih ketemu ulet keket lagi disini, satu kelas lagi."


"Alena perkenalkan nama kamu siapa?"Ucap Dosen Alena.


"Hay perkenalkan namaku Alena. Saya pindahan dari kampus XXX di kota xxx."


Bukan hanya Rio, beberapa pemuda juga mengagumi kecantikan Alami Alena.

__ADS_1


"Sekarang kamu boleh duduk." Ucap Ibu Dosen. Mata dosen dan mata Alena menyusuri kelas mencari bangku kosong.


"Sono lu pindah..." Rio mengusir anak cupu yang berada di depan bangkunya. Anak itu pun pindah.


"Di sini Bu. Bangku kosong." Ucap Rio sambil menunjuk bangku kosong di depannya.


"Alena kamu bisa duduk di sana." Ucapan Ibu dosen membuat wajah Alena merengut.


"Alena duduk sini saja Bu." Ucap salah satu mahasiswa di kelas Alena. Dia bernama Sinta.


"Bu saya duduk di sana saja." Citra menunjuk bangku yang di tunjuk gadis itu.


"Iya boleh." Ucap Ibu dosen.


"Uuuuuhhhh dasar ongol ongol." Ujar Rio.


"Bodo'." Balas Sinta.


Kemudian Alena berjalan menuju tempat duduk kosong yang berada di samping Sinta.


"Hy, kenalin namaku Sinta."


"Aku Alena."


"Mau jadi temanku."


"Dengan senang hati." Jawab Alena.


"Oya...Aku peringatkan sama kamu. Jangan mau dikibuli sama si playboy Rio. Dia itu buaya darat."


"Iya... Terima kasih sudah mengingatkan." Ucap Alena dengan ramah.


***


Alena berjalan menuju ke arah gerbang kampus, Alena mengerutkan keningnya saat melihat Anita, ternyata di depan gerbang sana sudah ada Anita yang menunggunya.


"Hey..." Anita menyapa Alena.


"Iya..." Jawab Alena.


"Oya siapa nama kamu? Tadi kita tidak sempat berkenalan."


"Namaku Alena."


"Saya Anita."


"Saya sudah tahu."


"Saya mau mengajak mu ngopi bareng. Apa kamu ada waktu?..."


"Maaf saya sedang tidak ada waktu. Saya masih banyak pekerjaan."


"Ouww begitu ya... Sayang sekali..."


"Alena tadi aku tidak sempat meminta no hp Brayen. Apa boleh saya minta nomor Teleponnya."


"Ya elah...Aku bininya Bu Dosen."


***


...Lomba bagi pendukung novel ini hadiahnya uang 100ribu ya bagi yang Rangking 1.... Caranya VOTE Yang banyak LIKE KOMENTAR FAVORIT yang paling banyak bisa menang ....


...Pemenangnya di tentukan di akhir bulan, dapat di lihat di TOP FANS. Ayo siapa yang bisa nyalip rangking 1 dapat hadiah....


...



...

__ADS_1



__ADS_2