AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
KAMPUS BARU


__ADS_3

"Sebenarnya kamu itu sakit apa sih Ndok? Masa phobia sampai Ndak bisa jalan." Ucap Bu Lia Tetangga dengan rumah Alena yang melihat Alena turun dari mobil di gendong oleh Brayen. Bu Lia masih ragu jika Alena sakit karena phobia kecoak. Alena mati kutu mendapat pertanyaan seperti ini.


"Eemm uuummm... Ya phobia kecoak itu Bu de...Dari syaraf turun ke kaki..."


"Oh...Bisa begitu ya..." Ucap Bu Lia Yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu kedokteran. Beliau duduk di samping Alena. Tiba-tiba datang Umi Naya membawa nampan berisi minuman ke kamar.


"Dua kali saya mendengar teriakan Alena karena kecoak. Padahal saya sudah bilang mau bantu bersihin kamarnya, tapi suaminya nggak mau. Eh tau tau suaminya gendong Alena keluar dari kamar, bilang Alena pingsan karena takut kecoak. Saya tidak dibolehkan ikut ke rumah sakit karena Abah baru sembuh." Ucap Bu Yana sambil menyuguhkan minuman pada para tamu.


"Aduh dik kamu kok repot repot segala sih."


"Ndak repot kok mbak, Wong cuma air."


"Kedengarannya aneh ya Bu...Saya baru dengar istilah phobia dari syaraf turun ke kaki." Ucap Bu Lia.


"Kalau mereka semua tahu aku pingsan karena di perkodok, mau di taruh mana mukaku. Kalau Bu De Lia tahu Aku pingsan karena ular naga bukan karena kecoak, yang ada satu Kampung juga tahu." Alena membantin karena Bu De Lia adalah tukang gosip di kampung ini.


"Iya ya... Aku juga baru dengar istilah seperti itu. Nak kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari Umi kan." Umi Naya mulai curiga. Alena semakin kebingungan mau menjelaskan apa.


"Umi kok tanya kek gitu. Alena tidak menyembunyikan apa apa kok Umi." Jawab Alena.


"Umi takut saja, kalau kamu punya penyakit yang parah tapi tidak mau jujur sama Umi."


"Oh, Umi tenang saja. Alena sehat kok." Ucap Alena sambil mengepalkan tinju ke udara.


***


"Ciiiiiiiiittttttt..." Di perjalanan pulang setelah Brayen mengurus berkas-berkas kepindahan untuk kuliah Alena, tiba-tiba jalan Brayen dihadang oleh pemuda yang menggunakan motor gede yang sudah di modifikasi.


Brayen mengernyitkan alisnya saat pemuda itu turun dari motornya dan mengetuk kaca jendela mobil Brayen. Pemuda itu mundur beberapa langkah saat Brayen membuka pintu mobil dan keluar.


"Ada apa?" Ucap Brayen to the point.


"Kau suaminya Alena." Ucap pemuda itu yang usianya seumuran dengan Alena.


"Iya..." Jawab Brayen yang penasaran dengan maksud dari pemuda itu yang menghadang jalannya.


"Jaga Alena baik baik, jika kau menyakiti Alena maka kau akan berurusan dengan ku." Ucap pemuda itu. Brayen malah tersenyum walaupun hatinya kesal melihat wajah tampan pemuda yang seumuran dengan istrinya.


"Kau Ali." Ucap Brayen yang mengingat cerita Alena tentang teman laki-lakinya yang sangat perhatian padanya.


"Iya." Ali terkejut karena Brayen bisa mengenalinya.


"Kenapa Ali tampan sekali, sepertinya dia sangat menyukai istriku, lihat saja matanya yang mau menangis itu. Aku tidak akan melepas Alena untuk siapapun."


"Jangan khawatir, aku akan menjaga istriku dengan baik." Ucap Brayen dengan tegas menantang Ali dan bersedekap.


Kata istriku yang di ucapkan oleh Brayen sangat menyakitkan untuk Ali. Sudah lama Ali mencintai Alena, tapi Alena hanya menganggapnya sahabat. Mata Ali sudah merah menggenang air di sana.


"Tentu, kau harus menjaga Alena dengan baik karena masih banyak pemuda yang mau menerima Alena jika kau menyakitinya." Brayen diam saja, tidak menjawab ucapan Ali.


"Siapa maksud mu?... Kau kah pemuda itu?..."


"Iya..." Jawab Ali dengan mantap.


"Jangan sia-siakan waktu berharga mu untuk menunggu istri orang. Lebih baik kau membuka buku dan banyak banyak lah belajar agar masa depan mu cerah. Carilah gadis lain, Karena aku tidak akan melepaskan Alena." Ucap Brayen dengan menepuk nepuk bahu Ali.


Ali langsung mengibas ngibaskan tangannya di bahunya seolah sedang membersihkan debu. Kemudian pergi dari hadapan Brayen karena dia tidak kuasa menahan air matanya. Jika terus berhadapan dengan Brayen dapat di pastikan air mata akan meluncur dari matanya yang bulat dan tajam seperti elang.


"Kasihan sekali dia." Kemudian Brayen memasuki mobilnya kembali ke rumah Alena.


***

__ADS_1


"Abang kapan kita bisa pulang ke Jakarta?" Alena bertanya sambil mengunyah.


"Secepatnya." Jawab Brayen yang duduk di hadapan Alena sambil menyuapi Alena yang sedang merajuk setelah kepulangan para tetangga yang mengintrogasi penyakit Alena.


Alena berulang kali protes pada Brayen karena ulahnya yang kelewat batas hingga Alena mengalami masa masa yang memalukan.


"Bisa tidak kita balik sekarang ke Jakarta, aku malu sama Abah dan Umi kalau tiap ke kamar mandi harus di gendong sama Abang." Ucap Alena yang kesakitan tiap berjalan.


"Kamu sudah sembuh?..." Ucap Brayen yang menyeringai mesum menatap Alena.


"APA?... Jangan melihat ku seperti itu. Aku masih sakit. Berjalan saja aku tidak bisa, Jangan minta jatah lagi. Aku masih trauma." Ucap Alena yang langsung menutup tubuhnya hingga ke leher dengan selimut. Alena masih trauma dengan penyiksaan Brayen.


"Sampai kapan?..."


"Satu tahun."


"Tiga hari lagi. Sembuh nggak sembuh, aku tetap minta jatah."


"Abang jahat sekali sih. Aku itu sakit loh Bang."


"Ayo kita balik lagi ke rumah sakit biar kamu mendapatkan perawatan khusus bisa cepat sembuh."


"Heh Bang...Aku itu sakit apa? Iya kalo sakitnya batuk pilek... Lah ini, sakit yang memalukan."


"Ini sudah kewajiban seorang istri melayani suami. Sudah jangan ngebantah suami terus."


"Gimana nggak ngebantah kalo itu mu sebesar Ular Naga tak sekecil ular centong."


"Apa itu ular centong?..."


"Ular kobra."


"Hahahaha, ku pikir punya ku mirip centong nasi hahahha... Ada ada saja ular centong di samain dengan ular Kobra."


"Ini lagi bahas apa sih? Kok malah merembet ke centong."


"Bang..."


"Apa?..."


"Nggak bisa ya di kecilin."


"Nggak bisa, emang udah gede dari Sononya."


"Ya ampun, aku bisa tersiksa tiap malam."


"Bukan tiap malam. Tiap pagi dan tiap malam."


***


Alena berjalan bersisian dengan Brayen di kampus barunya.


"Waaahhh Kampusnya besar sekali Bang... Luasnya berlipat lipat di bandingkan dengan kampusku di kampung."


"Kamu suka?..."


"Suka sekali Abang."


"Ini tempat ku kuliah dulu."


"Pantas saja Abang hafal seluk beluk Kampus di sini."

__ADS_1


"Brayen. Kau kah itu?..." Saat Brayen dan Alena tengah Asyik mengobrol, Tiba-tiba muncul wanita cantik kulitnya putih bersih, tubuhnya tinggi dan berisi. Dia wanita berjilbab, sesuai dengan selera Brayen.


"Siapa?..." Ucap Brayen dengan wajah datarnya.


"Aku Anita..."


"Maaf saya tidak ingat."


"Aku Adik kelas mu."


"Maaf saya lupa."


"Kamu ingat gadis cupu yang dulu sering kamu tolong karena di bully teman temannya."


"Ouw...Itu kau. Maaf aku lupa karena penampilan mu berubah."


"Heemmm, aku tambah jelek ya..."


"Tidak... Sebaliknya."


"Oya gadis ini siapa?" Anita melihat Alena yang sedang merengut karena di kacangin oleh Brayen.


"Dia adalah is..." Alena langsung menyela ucapan Brayen.


"Aku adiknya." Serobot Alena.


"Bukannya adiknya Brayen adalah Arya."


"Aku adik ipar kak Arya."


"Ouw begitu."


Brayen langsung menarik tangan Alena menjauh dari Anita.


"Kenapa kamu berbohong?..."


"Aku tidak berbohong, emang bener kan aku adik ipar kak Arya, berarti aku juga adikmu."


"Tapi kau Istriku."


"Aku tahu."


"Apa kamu malu punya suami Om Om sepertiku?...."


"Bukan begitu Abang." Alena tidak menyangka jika Brayen akan setersinggung itu dengan ucapannya.


"Lalu..."


"Lalu...Lalu apa ya...! Ayo mikir, kenapa kamu berbohong, ntar salah jawab Abang galak marah lagi." Alena membantin.


"Apa kata temen-temen baruku nanti, masak masih muda udah nikah."


"Bukan hanya menikah. Aku akan membuat mu hamil setelah ini. Bagaimana jika mereka menganggap mu hamil di luar nikah karena kebohonganmu. Bisa jadi di dalam perutmu sudah ada anakku."


"Tapi Bang aku masih muda, masih belum siap punya anak."


"Tapi usiaku sudah cukup umur untuk memiliki anak. Itu adalah resiko mu menikah dengan Pria dewasa. Suka atau tidak kau harus melahirkan anak untukku."


Kemudian Brayen pergi dengan langkah cepat meninggalkan Alena.


"Hey, adiknya bidadari." Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Alena.

__ADS_1


***


Maaf ya kemaren tidak update karena sibuk ada acara.


__ADS_2