
"Kau tau mas apa yang ku rasakan saat ini?" Tanyaku.
"APA?" Tanya mas Arya yang menatapku nyalang dengan nafas yang memburu.
"Sama halnya seperti dirimu yang menyesal menikahiku. Akupun juga menyesali keputusanku yang menolak mas Iqbal hanya untuk jadi istrimu."
Mas Arya melangkah mendekatiku. Di matanya hanya aku. Rasanya hanya ada kami berdua disini, di ruangan ini, tanpa Suci. Suci seperti patung yang menjadi saksi pilu di antara kami.
Wajah mas Arya yang tadinya murka kini berubah sendu.
"Apa aku pernah mengatakan aku menyesal pernah menikahimu?" Mas Arya berucap sambil melangkah.
"Deg." Jantungku kenapa?.
Tatapannya tak lepas dariku, begitupun aku.
Hati.....Jangan buat aku GR lagi.
Hati.....Apa kau belum puas menderita?
Hati.....Jangan biarkan dia membuatmu melambung tinggi kemudian di hempaskan begitu saja sampai menjadi serpihan.
Keputusanku sudah bulat ingin bercerai dari mas Arya. Untuk kesehatan Abah semoga Tuhan memberi jalan terbaik.
__ADS_1
"Selama ini kau hanya mengatakan panjang lebar tentang hatimu yang tersiksa. Apa kau tahu apa yang ku rasakan selama ini?..."
Kini Mas Arya sudah ada di hadapanku.
"Katakan???" Ucap mas Arya.
Aku memalingkan wajah. Tak mau berlama-lama menatap wajahnya. Hatiku menolaknya.
Mas Arya menarik daguku hingga membuat mata kami bertemu.
"Katakan Alyn kapan aku pernah mengatakan menyesal menikahimu?"
Ku tepis tangan mas Arya dan ku dorong dadanya dengan semua sisa tenagaku yang hanya membuat dia mundur satu langkah.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Ya kau memang tak pernah mengatakannya tapi sikapmu yang berbicara dan itu membuatku muak." Aku berteriak mengeluarkan semua gejolak derita yang aku alami selama menjadi istri mas Arya.
Aku senang melihat wajah murka mas Arya.
Wajahnya sudah merah dengan tangan mengepal. Di tinju pun aku siap. Aku hanya ingin melihatnya sakit hati.
Aku ingin mas Arya merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Setiap dia mengatakan hanya mencintai Suci hatiku terasa sakit bagai di tusuk belati. Aku juga ingin dia merasakan sakit yang sama. Aku juga ingin dia tahu bahwa masih ada orang yang mau mencintaiku.
"Cuma dia yang ada di hatiku bahkan kau pun takkan mampu menggesernya."
__ADS_1
"Aku....Heeemmmmmm." Aku tetaplah Alyn yang lemah, tak mampu melawan mas Arya. Lagi lagi dia membungkam ku seenaknya sendiri.
Aku terus memukul dadanya tapi tak berimbas apapun padanya. Tangannya begitu kuat merengkuh leherku. Satu tangannya lagi memegangi pipiku. Membuatku tak bisa berkutik.
Aku terus saja berontak walaupun sia sia.
Membuatku sulit bernafas. Air mataku pun meleleh tapi ia tak memberiku celah. Sudah sekian lama dia tidak mau berhenti. Meski sudah ku gigit , dia tetap tak mau melepasku. Nafasku mulai sesak mendapat perlakuan seperti ini.
"Oh .... Maaf saya tak sengaja."
Beruntung office boy itu datang membuat mas Arya membebaskan ku. Ku menghapus air mataku. Ku hirup oksigen banyak banyak. Dadaku masih naik turun. Aku marah aku emosi tapi tak mampu berbuat apa-apa.
Mas Arya saja masih merengkuhku dalam pelukannya.
"Lakukan tugasmu." Ujar mas Arya.
"Baik tuan." OB itu dengan cekatan membersihkan semua serpihan piring di lantai.
Sementara Suci Menangis dan berlari meninggalkan kami.
Mas Arya mendekatkan wajahnya ke telingaku. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya di telingaku. Dan membisikkan kata-kata yang mengerikan bagiku. Membuat bulu kudukku berdiri.
"Jika kau masih menyebut nama laki laki itu, aku bersumpah akan memperkosaku kala itu juga."
__ADS_1
***
Jangan lupa like tinggal tit doang kan.