
"Mas bawa aku ke Rani." Pinta Alyn dengan menyentuh tangan Arya. Arya menuruti permintaan Alyn.
"Ran. Apa kamu tidak mau memperjuangkan cinta mu untuk Mas Iqbal?..." Tanya Alyn yang sudah ada di hadapan Rani.
"Apa kamu sudah tidak punya perasaan untuk Iqbal." Rani balik bertanya pada Alyn.
"Ehem." Arya berdehem. Alyn langsung mendongak menatap Arya yang berada di belakang kursi roda. Rani hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah nggak." Alyn menjawab pertanyaan Rani mantap. Kemudian Arya langsung membalik kursi roda Alyn untuk menghadapnya.
"Apa kamu yakin?" Tanya Arya. Mengharapkan jawaban yang sesuai dengan hatinya inginkan. Alyn hanya mengangguk.
"Katakan lah sesuatu?..." Tanya Arya.
"Aku yakin mas." Jawab Alyn mantap.
"Apa kamu sudah mencintai ku?" Tanya Arya.
"Aku tidak tahu." Jawab Alyn bingung. Arya tersenyum mendengar jawaban Alyn.
"Tidak apa-apa... Yang penting kamu sudah tidak mencintai Iqbal lagi." Ujar Arya yang kini membelai rambut Alyn. Mengecup keningnya kemudian memeluk Alyn.
"Kasihanilah para jomblo." Ujar Rani. Lalu Alyn mendorong dada Arya.
"Aku juga jomblo." Jawab Bryen.
Alyn tersenyum kikuk di hadapan Rani. Sedangkan Arya tetap santai dan bersahaja.
"Bagaimana Ran Apa kamu mau memperjuangkan cintamu pada Mas Iqbal?..." Tanya Alyn pada Rani karena Alyn sangat setuju jika Iqbal dan Rani bisa bersatu.
Mereka berdua sangat cocok untuk dipasangkan karakter Iqbal yang kaku, tegas dan pendiam sangat cocok untuk Rani yang kocak tapi baik hati. Jika Iqbal yang kaku dengan wajah tanpa ekspresi dipasangkan dengan Alyn yang karakternya pendiam namun tegas rasanya sangatlah tidak cocok.
"Kamu tidak dengar tadi Iqbal mengatakan tidak tertarik denganku. Meminta ku jadi pacarnya saja semata-mata hanya untuk di jadikan sebagai pelarian. Aku sudah lelah, aku sudah tidak tertarik dengan cintanya Iqbal. Dia jahat." Jawab Rani dengan menggelengkan kepala namun tatapannya kosong.
"Jangan mengatakan Iqbal jahat. Dia sudah menyelamatkan hidup mu dulu. Jika Iqbal terlambat sedikit saja, aku tidak bisa membayangkan seperti apa hancurnya hidupmu." Ucap Alyn. Rani menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Alyn.
"Yah kamu benar dan sejak saat itulah aku mulai mencintainya. Kenapa kamu bisa tahu?Padahal dia sudah berjanji tidak akan pernah menceritakannya pada orang lain." Ujar Rani yang wajahnya terlihat sendu.
"Sayang... Aku tinggal ke luar dulu ya." Ujar Arya berpamitan pada istrinya, memberi kesempatan pada dua sahabat itu untuk saling bercerita.
Kemudian Arya memberikan kode pada Zain dan Bryen agar pergi mengikutinya.
__ADS_1
"Iya" Jawab Alyn singkat sambil mengangguk kan kepala.
"Aku bukan orang lain bagi Iqbal. Iqbal selalu terbuka padaku tapi sejak dulu aku merasa bahwa Iqbal juga menyukaimu. Dia sering mengatakan bahwa dia hanya merasa nyaman bersama dengan kita tidak dengan perempuan lain." Ujar Alyn.
"Aku merasa mas Iqbal hanya merasa tertantang dengan tantangan Abahku, mengingat ego mas Iqbal yang tinggi." Lanjut Alyn.
"Aku hanya ingin move on." Jawab Rani.
*****
Keesokan harinya di kediaman Arya Wiguna.
Alyn yang baru pulang dari rumah sakit, tidur di atas ranjang di kamar lamanya. Karena pelayan sedang membersihkan kamar Arya.
Arya memeluk dan menciumi ceruk leher Alyn. Tapi istri tercintanya itu menolak.
"Jangan mas." Ucap Alyn mendorong dada Arya hingga mundur.
"Kenapa?..." Tanya Arya.
"Aku bau kecut. Sudah lama aku tidak mandi." Ujar Alyn.
"Aku mandi dulu mas." Ujar Alyn berlari memasuki kamar mandi, meninggalkan Arya yang tersenyum ke arahnya.
"Dasar Istriku. Mandi tidak membawa handuk." Ujar Arya. Kemudian Arya bangkit dari ranjang berjalan ke ruang ganti. Arya membuka lemari dan mencari keberadaan handuk.
"Ini dia yang di cari cari." Ujar Arya menarik handuk itu dari dalam lemari yang posisinya berada paling bawah. Ketika Arya menarik handuk itu, ada barang kecil bentuknya pipih terjatuh.
Arya begitu emosi melihat itu. Namun Arya berusaha menenangkan diri, mengingat hubungannya dengan Alyn baru membaik.
Kemudian Arya pergi ke kamar mandi dan mengetuk pintu.
"Alyn ini handuknya." Panggil Arya. Alyn hanya membuka pintu kamar mandi itu sedikit. Kemudian Arya bergegas pergi meninggalkan kamar setelah memberi Alyn handuk.
Setelah selesai mandi dan berpakaian. Alyn memutuskan keluar dari kamar. Dia mencari Arya tapi tak kunjung di temukan.
"Bi...Mas Arya kemana?" Tanya Alyn pada Bi Ijah, asisten rumah tangga yang sedang memasak di dapur. Bi Ijah adalah Pembantu rumah tangga yang di bawa Arya saat Alyn pertama kali masuk rumah sakit , bi Ijah berasal dari rumah besar Abi Nizam dan Umi Kulsum, orang tua Arya.
"Tuan Arya tadi keluar nyonya." Jawab asisten rumah tangga itu.
"Apakah bibi tahu Mas Arya keluar ke mana?" Tanya Alyn lagi pada Bi Ijah yang sedang sibuk mengupas bawang.
__ADS_1
"Maaf nyonya, Saya kurang tahu." Jawab bi Ijah.
Alyn memutuskan menunggu Arya di ruang tamu. Sudah berjam-jam menunggu tapi Arya belum juga pulang. Pikiran Alyn mulai melayang kemana-mana, membayangkan hal yang tidak tidak tentang Arya.
"Apakah Mas Arya sedang menemui wanita itu lagi?" Alyn bergumam lirih.
Sore hari Arya baru pulang menenteng tas plastik kecil berwarna putih. Melihat kedatangan Arya Alynm bangkit dari tempat duduknya. Dia berdiri berhadapan dengan Arya.
"Mas dari mana saja kok baru pulang. Dari tadi aku menunggumu." Tanya Alyn dengan wajah sedikit merengut khawatir Arya akan menemui Suci lagi.
Sejak tadi rasanya Arya ingin marah. Tapi melihat wajah Alyn yang imut sudah menunggunya sejak tadi sedikit mengurangi emosi Arya.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Ujar Arya.
"Apa mas?..." Tanya Alyn.
Arya memberikan bingkisan yang ia pegang kepada Alyn.
"Apa ini mas?..." Tanya Alyn.
"Bukalah jika penasaran dengan isinya." Jawab Arya.
Kemudian Alyn membuka tas plastik itu yang isinya ternyata adalah handphone keluaran terbaru.
"Kenapa Mas memberiku handphone baru? HP ku yang lama mana mas." Tanya Alyn.
"Hp-mu Yang lama sudah rusak, pecah dan tak bisa dipakai. Mungkin terjatuh saat kamu pingsan waktu itu." Jawab Arya.
"Sini duduklah." Ucap Arya merangkul bahu Alyn dan membawanya duduk di sofa.
Arya menyodorkan pil KB pada Alyn, di letakkannya pil KB itu di atas meja tepat di hadapan Alyn. Alyn terkejut melihat pil itu. Terlihat dari kemasan itu, sepertinya Alyn sudah meminumnya beberapa kali.
"Tadi Aku menemukan pil KB itu di dalam lemari." Ujar Arya dengan tenang namun tatapannya tegas.
"Kenapa kamu meminum pil KB itu tanpa seizinku ? Apa kamu tidak ingin memiliki anak dariku?" Tanya Arya dengan wajah sendu.
"Kenapa Mas gak tanya pada dirimu sendiri. Masih ingat nggak gimana sikapmu waktu kita baru menikah?..." Ujar Alyn.
****
JANGAN LUPA LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT
__ADS_1