
"Alon Bang, ngertiyo sikilku iki loro, keceklo'. (Pelan Bang, mengertilah kakiku ini sakit, keseleo)." Keluh Alena saat Brayen memapahnya menuju kursi meja makan.
"Ngomong opo to yoooo...." Jawab Brayen.
Brayen mendudukkan Alena di kursi. Brayen memangku kaki Alena yang terkilir lalu memijat kakinya. Kemudian Alena mengambil hp dan merekam Brayen dengan video.
"Saya sangat bersyukur guys memiliki suami yang baik dan perhatian, lihatlah kaki saya terkilir dan suami saya yang baik hati, ramah tamah dan tidak sombong memijat kaki saya, inilah ciri-ciri suami idaman para istri."
"Alena Apa yang kau lakukan?"
"Bikin story di sosmed..."
"Hapus hapus hapus."
"Lah aku mau pamer suami, Abang."
"Jangan, aku malu." Ucap Brayen. Kemudian Brayen mengambil hp Alena. Saat Brayen hendak menghapusnya, Brayen melihat ke arah Alena yang mencebikkan bibirnya.
"Tidak jadi ku hapus, asal jangan kau upload di sosmed." Ucap Brayen. Alena pun langsung tersenyum. Brayen mengembalikan HP Alena, kemudian kembali memijit kaki Alena yang terkilir.
"Adu duh...Sakit Bang..." Alena mengaduh kesakitan saat Brayen memijit kakinya.
"Makanya jangan kebanyakan gaya. Kalau mau banyak gaya di atas ranjang saja." Cetus Brayen.
"Ah males... Abang sukanya jurus kuda kuda."
"Hahahahahaha, memang kamu sukanya jurus apa?" Brayen bertanya.
"Aku suka jurus kalajengking." Jawab Alena.
"Ini bahas apa sih? Kok menjurus ke hewan. Lama lama aku juga ikut gila."
"Aku memang sudah gila, tergila-gila sama Abang."
"Berarti kita sama sama gilanya." Ucap Brayen.
***
Alena berpose, dia memotret dirinya sendiri yang sedang duduk di kursi. Dengan gaya tangan yang memangku dagunya sementara Sikunya bertumpu di atas meja makan, memperlihatkan Senyum manisnya dan gelang yang ia pakai.
Kemudian Alena memposting hasil jepretan fotonya ke akun sosial medianya.
"Abang foto bareng yuk." Alena menghampiri Brayen yang sedang memakan cemilan.
"Abang berhenti nyemilnya, ayo foto dulu."
Alena menyandarkan kepalanya di bahu Brayen. Alena juga berpose mencium pipi Brayen.
"Abang cium aku."
Kemudian Brayen mencium bibir Alena, auto Alena melotot."Yang ini jangan di posting." Ucap Brayen.
__ADS_1
***
Arya memasuki rumahnya setelah jogging keliling taman. Dia memasuki kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Dia mencari keberadaan Alyn dan anak-anaknya di halaman rumah. Dia melihat putra-putrinya yang sedang disuapi oleh Alyn.
"Aduh ini anak anak Papa udah jam segini kok masih cemong cemong." Arya mengambil Putrinya Hafsah dari kereta dorong kemudian mencium pipinya.
"Heeemmm baunya sedap..." Ucap Arya.
"Mereka belum mandi mas... Bangun tidur langsung nangis, lapar."
"Mereka udah selesai belum makannya."
"Nih tinggal sesuap."
"Kubantu mandiin Hafsah dulu ya." Ucap Arya.
"Emang bisa?"
"Bisa dong..."
"Heemmm entar kayak kemarin, mandiin anak, bapaknya ikut basah kuyup semua." Alyn tersenyum mengingat Arya yang memandikan Raffasa kemarin tapi Raffasa yang menepuk nepuk air dalam bak mandinya membuat baju kantor Arya basah kuyup.
"Tidak apa-apa, Papanya mandi dua kali." Arya menciumi pipi Hafsah bertubi-tubi.
"Sayang, itu Alena sama Kak Brayen." Ucap Alyn. Arya pun menoleh ke belakang, dia melihat senyum ceria Alena dan wajah datar Brayen.
Sebelumnya Alena sudah memberitahu Arya bahwa dia akan berkunjung ke rumahnya untuk membahas masalah ini.
"Assalamualaikum." Ucap Alena dan Brayen bersamaan.
"Waalaikumsalam." Jawab Arya dan Alyn serempak serempak.
"Wah wah wah keponakanku jam segini belum pada mandi."
"Iya dek mereka baru bangun tidur Terus makan."
"Aku tinggal dulu, Aku Mau mandiin Hafsah dulu ya." Ucap Arya.
"Iya." Jawab Alena. Brayen berjalan sejajar dengan Arya, mereka memasuki rumah.
"Dek gimana sikap kak Brayen sama kamu sekarang?..."
"Abang Brayen semakin lama semakin Uwu Uwu..."
"Apa itu Uwu Uwu ?..."
"Ngegemesin mbak..."
"kamu itu ada-ada saja... Apa dia masih bersikap kasar sama kamu?"
__ADS_1
"Enggak, semakin lama Abang semakin baik. Nih aku dikasih hadiah liontin ini. Cantik kan Mbak?" Alena menunjukkan liontin yang diberikan oleh Brayen. Penglihatan mata Alyn pun tak luput dari gelang yang dikenakan Alena.
"Gelangmu juga bagus dek. Dari suamimu juga ya?"
"IYA." Ucap Alena sambil mengangguk.
***
Alena menunjukkan lukisan wajah Brayen dan lukisan wanita bercadar itu pada Arya.
Arya memperhatikan dengan seksama wajah wanita bercadar itu. Kemudian Alena kembali membubuhi cat berwarna hitam sebagai hijab di lukisan wajah Brayen dan menutup wajah Brayen dengan cadar di hadapan Arya.
Arya memperhatikan kedua foto itu dengan seksama. Mata lukisan itu sama persis.
"Waktu itu aku bertemu dengan perempuan bercadar, semua tubuhnya tertutup. Hanya matanya saja yang terlihat. Dan matanya itu Sama persis dengan Abang Brayen, rasanya mustahil jika kebetulan dan warna matanya sama sama biru." Ucap Alena.
"Abang Brayen bilang gelang ini ditemukan bersama dirinya saat terbuang di panti asuhan."
"Apa kamu yakin Alena, mata wanita itu Sama persis dengan lukisan ini?"
"Aku yakin Kak, yakin seyakin-yakinnya. Aku memang bodoh dan telmi. Tapi untuk mengingat bentuk fisik aku ahlinya, itu adalah salah satu kelebihan ku sebagai seniman. Hanya dengan menutup saja aku bisa mengingat keseluruhan bentuk secara detail."
"Bukan hanya itu, wanita itu juga memperingatkan aku untuk tidak memakai dan memamerkan gelang ini."
"Mana berikan padaku gelangnya." Ucap Arya. Alena melepaskankan gelangnya lalu memberikannya pada Arya. Arya membolak-balik gelang itu, dia memperhatikannya dengan seksama. Gelang yang sangat unik dengan ukiran yang detail terdapat batu Rubi berwarna merah yang mengelilingi emas itu.
"Tadi aku bongkar bongkar lemari, aku juga menemukan ini Kak, mungkin ada hubungannya." Alena memberikan cincin emas putih yang bertahtakan batu zamrud berwarna hijau. Arya memperhatikan Cincin itu.
"Ayo ikut Aku." Ucap Arya kemudian Alena mengikuti Arya.
***
Di sebuah ruangan khusus Arya memeriksa keaslian dari gelang dan cincin yang Alena diberikan. Arya melihat ukiran dan stempel yang tersembunyi di dalam cincin dan gelang itu dengan kaca pembesar.
"Kak Arya jualan perhiasan ya." Ucap Alena. Arya tersenyum.
"Selain memiliki pabrik emas, aku juga seorang kolektor batu permata."
"Ouw..."
"Terdapat gambar kura-kura di cincin ini yang hanya bisa dilihat dari kaca pembesar. Ada beberapa filosofi yang melekat pada kura kura. Masyarakat Tiongkok percaya bahwa kura-kura bisa membawa keberuntungan."
"Batu Zamrud sudah di gunakan sejak zaman Yunani kuno dan di Roma kuno. Cleopatra pun suka menjadikannya sebagai perhiasan."
"Penghasil zamrud kualitas tinggi adalah Kolombia, Siberia, Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Brasil. Saat ini tambang batu zamrud di Rusia (Siberia), Kolombia dan Afrika Selatan (Zambia) sudah di tutup. Batu zamrud asli semakin sedikit. Banyak yang palsu, sedangkan ini adalah batu Rubi dan batu Zamrud asli. Harga batu ini berkisar miliaran."
"Jika memang benar apa yang kau katakan, sepertinya ada misteri besar dalam masa lalu Brayen. Perhiasan ini menunjukkan bahwa Brayen bukan orang biasa, bisa jadi dia adalah keturunan darah biru atau bangsawan."
***
SELAMAT MENIKMATI JANGAN LUPA DUKUNGANNYA.
__ADS_1