
Setelah Ba'da magrib acara Aqiqah untuk Baby twins di selenggarakan. Setelah membaca doa dan sholawat para tamu undangan berdiri, Pak Ustadz mencukur rambut Hafsah yang di gendong Arya dan Raffasa yang di gendong Abah Fajar. Kemudian satu persatu tamu undangan mentoel pipi Baby twins dengan bedak sedangkan Brayen yang berdiri di belakang Abah Fajar menyemprotkan parfum pada tiap tamu undangan yang berdiri membaca sholawat nabi.
Alena berjalan gontay setelah acara selesai, dia kelelahan setelah membantu menyiapkan segala sesuatunya untuk acara Aqiqah yang tadi di selenggarakan.
Setiap kamar penuh dengan kerabat Arya, banyak sanak saudara yang menginap. Alena melihat kamar yang pintunya terbuka lebar, ia memasuki kamar kosong tanpa penghuni itu, dia yang kelelahan tidak peduli kamar siapa itu. Dia mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya yang terasa amat lelah.
Beberapa saat kemudian Brayen keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada.
"Siapa yang mematikan lampu? Perasaan tadi lampunya menyala! Aaaahhh Aku tidak peduli...Aku sangat lelah."
Brayen kemudian langsung berjalan ke arah ranjang, walau dalam keadaan gelap dia tahu betul dimana letak tempat tidurnya. Sebab sebelum Arya menikah, sesekali dia menginap disini, di kamar ini.
Setelah semua keluarga melakukan ibadah sholat subuh, Umi Naya kebingungan mencari keberadaan Alena karena Umi baru menyadari dia tidak melihat batang hidung Alena sejak semalam.
Umi Naya di bantu Umi Kulsum mencari keberadaan Alena di setiap tempat. Tinggal satu kamar yang belum mereka periksa, yaitu kamar yang biasa di tempati Brayen.
Umi Kulsum masuk dan menyalakan lampu kamar.
"BRAYEN...." Umi Kulsum berteriak, teriakannya mengundang sanak saudara yang penasaran. Mereka semua di kejutkan dengan Brayen yang tidur bertelanjang dada saling berpelukan dengan Alena di atas ranjang. Semua orang yang melihat pun terkejut...
Umi Naya yang melihat anaknya seperti itu merosot di atas lantai, syok dan malu pada semua kerabat yang melihatnya. Dia malu merasa gagal mendidik anak.
__ADS_1
Umi Kulsum keluar dari kamar mandi membawa satu ember air dan menyiram kedua sejoli itu yang saling bertukar kehangatan di bawah selimut.
Brayen dan Alena terperanjat dan bangun. Mereka berdua bingung kenapa banyak orang yang menontonnya.
"Aaaaaaakkkkkhhhhhhh...."Alena berteriak melihat Brayen bertelanjang dada bergelung di bawah selimut yang sama dengannya. Brayen yang mulai menyadari situasinya menarik selimutnya hingga menutupi dada.
"Apa yang kau lakukan disini?" Suara tinggi Alena menggema di dalam kamar.
"Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kau tidur di atas ranjang ku?..." Ucap Brayen tak kalah kesal.
"Diam kalian semua." Suara Umi Kulsum tidak kalah tinggi dari Alena. Ia sakit hati, merasa hina, rumah ini di gunakan sebagai tempat perzinahan. Umi Kulsum merasa gagal tidak bisa mendidik Brayen dengan benar, padahal sejak kecil beliau sudah mengajarkan anak anaknya dengan norma norma agama.
Arya dan Alyn menerobos masuk. Arya menatap nanar Brayen. Alyn tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Padahal adik kesayangannya itu selalu jual mahal pada setiap laki laki dan ini dengan Brayen yang hanya bertemu beberapa kali. Alyn memeluk Umi Naya berusaha menenangkan Uminya.
"Diam lah Alena." Teriak Umi Naya. Bagaimana bisa Alena mengatakan tidak melakukan apapun sedangkan dia berpelukan dengan Brayen yang bertelanjang dada di dalam satu selimut.
Umi Naya begitu malu dan merasa terhina dengan ulah anaknya.
***
Di ruang keluarga hanya ada Umi Kulsum, Abi Nizam, Brayen, Arya, Alyn, Alena, Abah Fajar dan Umi Naya. Mereka duduk lesehan tepat di depan TV melakukan musyawarah...
__ADS_1
Alyn dan Alena sangat sedih melihat Umi Naya, tidak biasanya beliau diam. Jika Alena melakukan kesalahan Umi Naya biasa selalu ngomel panjang lebar.
"Umi, percaya sama Alena... Alena tidak melakukan apapun." Ujar Alena. Umi Naya malah membuang muka tak mau lagi bertatapan dengan Alena, Umi Naya sangat lelah menghadapi sikap Alena.
Semua mata fokus pada Alena yang mengiba menggenggam tangan Umi Naya.
"Umi, Abi, dan Arya. Kalian semua sangat mengenalku. Aku tidak pernah tertarik dengan cinta dan perempuan. Lalu bagaimana bisa kalian semua menyangka aku dan gadis itu melakukan perzinahan?" Ujar Brayen.
Sejak kecil Brayen sangat tidak suka dengan cinta dan perempuan. Di buangnya dia di panti asuhan membuat dia enggan menjalin hubungan dengan perempuan. Bukannya benci dengan perempuan, dia hanya trauma dengan nasibnya sebagai anak yang tidak di inginkan.
"Bisa jelaskan kronologi sebenarnya?" Ujar Arya menatap intens Brayen. Kemudian Alena dan Brayen menceritakan kejadian sebelum mereka tidur.
Gurat wajah Umi Naya sama sekali tidak berubah, raut sedih masih melekat di wajahnya.
"Apapun yang kalian katakan, terlepas itu benar atau salah. Itu tidak akan mengubah keadaan, nama baik keluarga ku sudah tercoreng. Kesucian putriku akan di ragukan." Ujar Umi Naya bangkit dan berdiri namun tangannya di tahan.
"Umiiiiiiii..." Pertahanan Alena akhirnya pecah, air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah ruah menetes di punggung tangan Umi yang Alena cium. Alyn pun ikut menangis di pelukan Arya.
Hal yang paling tak di sukai Brayen akhirnya terlihat yaitu air mata Umi Kulsum saat ini. Umi Kulsum sudah pasti merasakan apa yang di rasakan Umi Naya, Nama baik Keluarga di pertaruhkan. Brayen menghela nafas.
"Demi menjaga hati dan nama baik keluarga, Saya bersedia menikahi Alena."
__ADS_1
***
SELAMAT MENIKMATI