AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
BELAH DUREN


__ADS_3

POV Alyn.


"Deg." Jantungku terlonjak saat ada sepasang tangan membelit pinggangku. Dan menciumi ceruk leherku.


"Apa yang kau lakukan?" Suara parau membisik di telingaku.


"Apa yang harus kukatakan?" Batin ku.


Aku refleks berbalik dan memeluk mas Arya. Dan mas Arya pun membalas pelukanku. Dia membelai rambutku dan mengecup kepalaku.


"Aku tidak bisa tidur mas." Jawab ku.


"Apa kau ingin kabur dari ku?..." Tanya mas Arya.


Aku semakin mempererat pelukanku pada mas Arya. Aku menggeleng pelan. Dada mas Arya terasa hangat dan nyaman. Tapi saat ingat Suci kehangatan mas Arya begitu menyakitkan untukku.


"Lalu kenapa kau ada disini?" Tanya mas Arya lagi.


"Aku cari udara segar." Ucapku memberi alasan.


"Apa kau yakin?" Ujar mas Arya yang masih ragu denganku.


"Hemmmm." Jawab ku.


"Aku tidak percaya." Ucap mas Arya.


"Aku harus bisa meyakinkan mas Arya." Batin ku.


"Mas... Aku sudah merenungkan hubungan kita. Aku ingin memberi mas kesempatan untuk membuktikan ketulusan mas padaku. Asal mas bisa setia aku tidak akan menggugat ceraimu mas" Ujarku.


"Ini bukan akal akalanmu untuk melarikan diri dari ku kan Lyn." Ucap mas Arya. Aku menggelengkan kepala.


"Tidak mas." Ucapku.


"Kenapa mas Arya selalu tau isi kepalaku. Apa dia bisa membaca pikiranku." Batinku.


Mendengar perkataan ku mas Arya seketika melepaskan pelukan kami. Dia membelai wajahku. Seandainya sejak awal menikah mas Arya bersikap manis seperti ini, tentu rumah tangga kami takkan serumit ini. Mas Arya tersenyum padaku.

__ADS_1


"Kenapa mas Arya tersenyum begitu padaku." Perasaanku jadi tidak enak. Dia mengecup keningku dan dengan sekali hentakan dia sudah menggendongku.


Mas Arya menggendongku dan membawaku ke kamar lalu merebahkanku ke atas ranjang. Tanpa aba aba mas Arya Sudah membungkam bibirku. Membuat tubuhku terkesiap. Ku cegah tangan mas Arya saat hendak membuka kancing bajuku.


"Kamu mau apa mas?..."


"Mau belah duren." Jawab mas Arya.


"Deg. deg. deg. deg." Jantungku berdetak sangat kencang. Ini di luar dugaanku. Aku tidak kepikiran sampai disini.


"Aku tidak siap untuk ini. Aku harus membuat alasan." Batinku.


"Mas, aku. Aku....Aku...Aku..."Otakku buntu tak bisa berpikir. Aku beringsut tapi mas Arya menahan pinggangku.


"Mas, Aku.... Aku......Hemmmm...." Mas Arya membungkam bibirku. Membuat tubuhku meremang.


******


POV Rani.


"Hikz...Hizk...Hikzzzz.....Apa salahku Tuhan... Kenapa kau memberikanku cinta yang tak sesuai pada temannya."


"Ini tidak adil buat kami. Hikz....Hikz...Hikzzz... Bertahun-tahun aku pergi dari kampung Nelayan agar bisa move on dari Iqbal, nyatanya perasaanku tak berkurang sedikitpun."


"Hey diary... Kau itu jahat sekali. Aku mencurahkan semua isi hatiku padamu tapi kenapa kau malah memberi tahu semua isi hatiku pada Iqbal. Ini sangat memalukan, ini sungguh memalukan."


Rani menangis sambil merobek robek isi diary itu dan melemparkannya ke udara. Namun satu bab pertama malah menyusup di bawah ranjang.


"Iqbal kau jahat sekali. Kau sudah tahu isi hatiku tapi berpura pura bodoh saat aku menjadi obat nyamuk kalian. Ini sangat memalukan."


"Sekarang kau mau menjadikanku pelarianmu. Apa kau pikir aku tidak punya harga diri. Kenapa Nasib cintaku sangat menyedihkan. Hikzz...Hikzzz...Hikzzzz."


******


Di kamar Arya.


"Aaaaaakkhhhhhh......" Arya mengeram.

__ADS_1


"Mas!...."


"Sheeettttttttt."


"Mas kamu kenapa?..." Alyn bingung melihat Arya yang berada di atasnya memegangi kepalanya seperti sedang kesakitan.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau sedang datang bulan." Ujar Arya.


"Maaf mas aku nggak tahu." Jawab Alyn. Alyn lupa kalau Arya memiliki pobia pada darah.


Arya turun dari ranjang, dengan langkah gontay dia berjalan menuju lemari dan membongkar isi lemari hingga berjatuhan ke lantai. Arya menemukan obat lalu melahapnya. Kemudian Arya keluar kamar dan mengambil air minum ke dapur lalu meneguknya seperti orang yang sangat kehausan.


Alyn hanya tercengang melihat suaminya seperti itu. Alyn memakai kembali pakaiannya dan pergi menghampiri Arya yang sedang rebahan di atas sofa sambil memijat pelipisnya. Tubuh Arya yang hanya mengenakan boxer sudah di penuhi keringat.


"Mas kamu kenapa? Mananya yang sakit? " Tanya Alyn.


"Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat. Bantu aku ke kamar Alyn." Ucap Arya lirih. Alyn memapah Arya memasuki kamarnya.


"Sayang, peluk aku." Pinta Arya yang sudah ada di tempat tidur dan Alyn pun menuruti.


******


Rani sudah selesai bersiap siap untuk berangkat ke kantor. Dia berjalan menuju pintu. Saat pintu rumah sudah di buka, sudah ada Iqbal berdiri di depan pintu.


"Kau... Mau apa kau kemari?" Tanya Rani.


"Mau mengantar kekasihku kerja."


"Kau benar-benar sudah gila." Ucap Rani.


"Jaga ucapanmu Ran."


"Pergilah. Aku bisa berangkat kerja sendiri." Tolak Rani.


Rani mengunci pintu rumah dan pergi dengan langkah panjang. Seketika Iqbal langsung menggenggam tangan Rani dan menyeretnya. Mau tak mau Rani mengikuti langkah Iqbal sambil berusaha melepaskan tangan Iqbal yang menggenggam tangan Rani begitu kuat. Tapi usaha Rani sia sia. Tangan Iqbal tak kendur sedikitpun.


Iqbal memasukkan Rani ke dalam mobilnya kemudian menyusul Rani masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


******


Jangan lupa tinggalkan like komentar vote favorit ya gaes.


__ADS_2