
"AKU KAKAK IPAR ALENA. Dan untuk perceraian Alena yang memintanya. Dia tidak tahan punya suami diktator."
"Apa sebelum bicara kau tidak bercermin dulu Arya?... Kau bahkan lebih parah dariku dan kini malah menceramahi ku, bahkan menyuruhku untuk bercerai dari istriku. Jangan maling teriak maling."
"Kenapa malah bawa bawa masa laluku?... Aku sekarang sudah berubah."
"Jika kau memiliki kesempatan kedua, kenapa aku tidak bisa?..." Balas Brayen.
"Karena sejak awal aku sudah mencintai Alyn. Sedangkan kau menikah saja karena terpaksa."
"Itu dulu." Sanggah Brayen.
"Lalu sekarang apa?... Sama saja kan." Cerca Arya. Arya tersenyum dalam hati saat melihat Brayen tak memiliki jawaban. Arya menggelengkan kepala lalu tersenyum sinis pada Brayen.
"Alyn dan Alena adalah saudara dengan karakter yang jauh berbeda. Jika Alyn gadis yang lembut dan pemaaf, maka Alena sebaliknya." Lanjut Arya.
"Aku Suaminya, aku akan membujuknya untuk pulang. Jika kau mau mengurusi orang jangan tanggung tanggung, sekalian saja kau urus baju kotor ku di rumah."
"Sial kau."
"Jangan membuatku marah Arya. Dimana Istriku?..."
"Hahahaha kau itu lucu sekali kakak...Kalau di lihat dari CCTV kau sangat perhatian pada Suci. Bahkan demi dia kau hampir menampar adik ipar ku. Jika caramu seperti itu bukan tidak mungkin hati Suci tidak akan tertambat padamu. Bisa jadi dia kembali jadi pelakor di rumah tanggamu."
"Aku tidak sepertimu Arya."
"Bayi suci membutuhkan seorang ayah Kenapa tidak kau nikahi saja suci, biar Alena ku nikahkan dengan laki-laki lain yang tidak tempramen seperti dirimu."
"Brengsek kau Arya." Brayen mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke wajah Arya. Si Arya tidak tinggal diam, dia membalas Brayen hendak meninju wajahnya tapi Brayen menghindar. Akhirnya terjadi pergulatan antara kedua saudara itu.
***
"Mas Aryaaaa..." Alyn berteriak terkejut saat melihat Arya dan Brayen sedang bergelut di atas sofa di kamarnya. Mereka tidak terlihat seperti sedang berkelahi, melainkan seperti orang sedang main kuda-kudaan.
Arya melihat asal suara Alyn yang tercengang melihat Brayen menindih tubuh Arya dan mereka sama sama memegangi dada lawannya. Brayen dan Arya saling pandang.
"Sayang aku bisa jelasin..." Ujar Arya yang melihat Alyn melongo di ambang pintu.
"Ada apa mbak?..." Tiba tiba Alena datang menatap Alyn yang melongo lalu bertanya karena mendengar teriakan Alyn dari dapur, Kemudian Alena melihat arah mata Alyn. Wajah Alena kembali muram saat melihat Brayen, hatinya tidak siap untuk bertemu dengannya. Rasa kecewanya pada sang suami masih membuat hatinya sesak.
__ADS_1
"Alena..." Ucap Brayen tersenyum melihat wajah cantik istrinya, yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.
Alena langsung kabur saat melihat Brayen. Melihat Alena kabur, Brayen langsung bergegas turun dari tubuh Arya.
Brayen berlari mengejar Alena, Alena tidak menghiraukan panggilan Brayen. Alena berlari hendak ke luar rumah. Saat Alena berlari, kakinya tersandung karena baju syar'i nya membuat dirinya tidak leluasa berlari dan mengakibatkan dirinya terjatuh. Akhirnya Brayen bisa menghampiri Alena.
"Kau tidak apa-apa?...Apa kau terluka?..." Ucap Brayen lembut menyentuh lengan Alena tapi langsung di tepis.
"Jangan sentuh aku." Alena mulai bangkit, lalu menepuk nepuk tangannya dan bajunya yang kotor. Alena beranjak pergi tapi tangannya di cekal oleh Brayen.
"Alena kita harus bicara. Alena aku minta maaf, aku tahu aku salah. Aku menyesal."
"Anda tidak perlu minta maaf, yang salah saya. Dan yang harusnya minta maaf juga saya." Ucap Alena yang ingat bagaimana Brayen membentaknya dan menyuruh Alena meminta maaf pada wanita itu.
Kata anda yang di lafalkan oleh Alena membuat Brayen tak nyaman, jelas Alena sekarang sedang memberi jarak pada hubungannya dan Brayen.
"Alena... Jangan seperti ini."
"Kenapa?...Saya salah lagi...Ini..." Alena menyodorkan pipinya pada Brayen, Brayen tersenyum karena sudah di buat GR oleh Alena, saat wajah Brayen mulai maju. Ucapan Alena selanjutnya sungguh menusuk hati.
"Ini... Tampar...Di sini nggak ada wanita Anda yang nyegah Anda buat nampar aku... Silahkan."
"Deg..." Jantung Brayen berdenyut sakit mendengar penuturan Alena.
"Saya tidak perlu penjelasan dari Anda. Hubungan kita tidak sedalam itu. Anda tidak berhutang penjelasan apapun pada saya." Ucap Alena dengan wajah dingin.
"Kita hanya orang asing yang terjebak pernikahan." Ucap Alena dengan wajah datar dan helaan nafasnya yang terlihat berat.
"Alena..." Ujar Brayen lirih dengan dada yang sudah sesak.
"Mulai saat ini Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan marah lagi melihat Anda dekat dengan wanita manapun. Karena mulai detik ini saya akan menutup hati rapat rapat untuk Anda."
Brayen kehabisan kata-kata mendengar ucapan Alena yang menyakitkan, Brayen terlalu sibuk dengan kegalauannya hingga tak menyadari kepergian Alena.
Alena kembali memasuki rumah, dengan derai air mata. Sementara Brayen hanya melihat kepergian Alena yang sudah jauh.
***
"Kamu keterlaluan mas...Bisa bisanya berkelahi dengan saudara sendiri. Apalagi di dalam kamar. Bagaimana kalau kena anak anak yang tidur di box bayi." Ucap Alyn yang mengeluhkan kelakuan Arya.
__ADS_1
"Maaf sayang." Ucap Arya yang masih memeluk Alyn. Alyn mendorong dada Arya. Setelah pelukan Arya terlepas, Alyn melihat keadaan putra putrinya yang masih terlelap dan kembali duduk di samping Arya di atas sofa.
"Apa kamu terluka?..." Alyn bertanya.
"Kami tidak benar-benar berkelahi." Jawab Arya.
"Tapi main kuda-kudaan." Ucap Alyn tersenyum, Arya malah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alyn menggenggam tangan Arya.
"Mas usia Alena sudah 20 tahun, sudah waktunya dia belajar dewasa dan mandiri. Kita sebagai saudara yang lebih tua harusnya mengarahkan dia ke jalan yang lebih baik bukan malah mengomporinya."
"Tapi aku tidak terima..." Alyn menutup mulut Arya.
"Jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang. Biarkan mereka menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan caranya sendiri. Kita tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Apa yang aku alami dulu jauh lebih parah dari apa yang Alena alami saat ini. Biarkan mereka Belajar dari kesalahannya sendiri." Arya malu sendiri dengan ucapan Alyn mengingat kesalahannya dulu.
"Kita bicara baik baik dulu sama kak Brayen. Jika kak Brayen benar benar melakukan kekerasan dan fatal. Mari kita tindaklanjuti." Ucap Alyn menasehati Arya.
***
Setelah tak melihat Alena, Brayen melangkah masuk ke dalam rumah Arya. Dia akan mencoba bicara pada Alena lagi nanti.
Setelah memasuki rumah Arya, Brayen mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alena. Namun Alena tidak terlihat, Brayen hanya melihat Bi Ijah, dia menghampiri Bi Ijah yang sedang membersihkan meja.
"Bi Alena biasanya tidur di kamar mana?..."
"Di sebelah kamar Tuan Arya."
"Apa yang di lakukan Istriku selama berada di sini."
"Siang dan malam Nona Alena belajar memasak, setelah itu hasil masakannya di bagikan ke para pelayan di rumah ini."
"Nona lucu sekali tuan. Masakan pertama sulit sekali untuk di telan, karena rasanya asin. Tapi semua pelayan tetap memakannya demi untuk menghargai usaha Nona Alena."
"Tapi masakan ke dua mulai enak. Setiap selesai masak. Nona selalu membagikannya pada para pelayan. Nona akan bersorak Sorai saat orang orang mengatakan masakannya enak." Brayen tersenyum mendengar cerita dari Bi Ijah.
"Apa bibi tau alasan istri saya belajar memasak?..."
"Kata Nona Alena sih biar tidak di siksa. Tidak tahu di siksa oleh siapa..." Wajah Brayen mendadak pucat mendengar jawaban dari Bi Ijah.
__ADS_1
***
Selamat menikmati.