AKU PATUNG BAGIMU

AKU PATUNG BAGIMU
APAKAH DIA TAHU?


__ADS_3

"Jika ada waktu, makan malam lah bersama ku, maka aku akan mengembalikan barang mu." Iqbal bernegosiasi dengan Rani.


"Tidak mau. Malas. Kau menyebalkan."Rani menolak ajakan makan malam dengan Iqbal.


"OH MY IQBAL." Ucap Iqbal membuat Rani seketika menganga dan menutup mulutnya dengan tangan. Iqbal tersenyum.


"Ya Tuhan, Apa maksud Iqbal?("OH MY IQBAL") Apa maksudnya." Batin Rani.


Rani sangat gugup, wajahnya pucat dan terlihat pias . Keringat mulai menganak di dahi dan lehernya. Tangannya yang grogi meremas tas yang berada di pangkuannya.


"Tidak mungkin. Tidak mungkin Iqbal tahu tentang perasaanku padanya, karena aku tidak pernah bercerita apapun tentang perasaanku kepada orang lain. Hanya aku dan Tuhan lah yang tahu. Ini sungguh memalukan."


Iqbal melirik Rani. Dia tahu situasi yang Rani alami.


"Kenapa diam?..." Tanya Iqbal datar.


"Tidak apa-apa." Jawab Rani singkat. Suasana yang tadinya penuh keceriaan kini menjadi canggung. Rani yang ceriwis mendadak diam.


"Aku tidak suka dengan ekspresi mu." Ujar Iqbal melihat Rani sekilas."Rani tenanglah." Lanjut Iqbal.


"Kau mau membawaku kemana Iqbal?..." Rani mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin makan gratis." Jawab Iqbal, berharap bisa mencairkan suasana. Bibir Rani sedikit tertarik dan Iqbal bisa melihat itu.


"Dasar pelit." Ucap Rani. Jawaban Rani di balas senyuman oleh Iqbal.


*****


Akhirnya mobil sampai di kisaran pantai.


"Kau tunggu disini." Ucap Iqbal pada Rani.


"Kenapa?..." Tanya Rani yang heran dengan sahabatnya yang satu ini. Iqbal turun dan memutari mobil membukakan pintu mobil untuk Rani. Rani semakin heran di buatnya.


"Biar romantis." Jawaban Iqbal di beri tatapan aneh oleh Rani.


"Dasar aneh." Ujar Rani.


"Hey obat nyamuk tadi kamu kan yang bilang ingin di perlakukan lembut selayaknya wanita."


"Iya tapi kamu yang kaku terlihat aneh jika sok romantis." Ujar Rani yang mulai santai. Dia berjalan beriringan dengan Iqbal.


"Berhenti menghinaku." Tegas Iqbal.

__ADS_1


"Ck...Dasar pemarah. Suka menjahili orang tapi nggak mau di jahili." Rani menggerutu, bergumam kecil.


"Aku masih bisa mendengar mu Ran." Ketus Iqbal.


"Biarin." Ketus Rani.


"Sudah jangan marah marah. cepat belikan aku minuman Biar emosiku mencair." Ujar Iqbal menunjuk restauran.


"Iiiliiiiiihhhh... Situ yang marah kok jadi ane...Dasar laki laki nggak modal." Celetuk Rani.


"Tok..."


"Aaawww...." Rani menendang kaki Iqbal karena sudah menyentil dahinya. "Iqbal kau itu sangat menyebalkan." Ketus Rani.


"Kelamaan." Iqbal menarik tangan Rani menuju restauran di area pantai.


Iqbal tidak menyadari bahwa perlakuannya ini membuat jantung Rani berdisko dug dag dug dag. Rani memperhatikan tangannya yang bertautan dengan tangan Iqbal.


Rani menghirup oksigen banyak banyak agar bisa bersikap biasa saja di hadapan Iqbal. Rani berusaha bersikap senetral mungkin agar Iqbal tidak akan pernah menyadari perasaan Rani.


Rani dan Iqbal sampai di restauran yang cukup mewah. Mereka duduk saling berhadapan. Iqbal terus saja menatap Rani. Membuat yang di tatap salah tingkah.


"Jangan menatapku seperti itu." Ujar Rani tapi Iqbal tidak bergeming sedikitpun.


"Dulu aku hanya melihat Alyn." Menjeda sebentar ucapannya sambil menerawang. "Ternyata jika di pandang pandang kau juga cantik Ran." Ucapan Iqbal kali ini membuat jantung Rani tak karuan. Tanpa olahraga, jantung Rani hari ini sudah sangat maksimal dalam bekerja. Nervous. Ya Rani sangat nervous, untuk bernafas saja Rani sangat kesulitan. Kenapa Iqbal jadi bersikap aneh begini.


"Aku permisi ke toilet dulu." Ujar Rani langsung undur diri untuk menetralkan hatinya. Iqbal menatap kepergian Rani.


Setelah mengisi perut, Rani dan Iqbal berjalan menyisiri pantai. Rani membeli Ice cream Cone, Rani makan Ice cream seperti anak kecil belepotan. Iqbal hanya geleng-geleng di buatnya. Rani sudah menawarkan ice cream pada Iqbal tapi Iqbal tidak mau karena menurutnya makan ice cream itu hanya untuk anak kecil.


Rani berjalan sambil menjilati Ice cream.


"Kau itu makan belepotan seperti anak kecil." Ujar Iqbal yang selalu terlihat tenang namun tegas.


"Yang penting happy." Jawab Rani santai.


"Pantas saja tidak ada lelaki yang mau menikahimu." Ucapan Iqbal menyinggung Rani.


"Kau tidak lihat aku cantik begini. Banyak yang antri mau jadi pacarku tapi aku sama sekali tidak tertarik pada mereka. Dasar bujang lapuk. Kita itu senasib cuma beda tipis saja. Kamu mati matian berjuang demi cinta, demi restu Abah Alyn ternyata cintamu di ambil orang. Kasian sekali nasibmu, gara gara nunggu restu cinta tak di restui, kamu jadi bujang lapuk." Rani mengomel panjang lebar membuat telinga Iqbal panas.


Perempuan mana sih yang tidak marah di bilang tidak laku. kalau laki laki dewasa tidak menikah itu masih di anggap wajar tapi jika perempuan dewasa tidak kunjung menikah, itu akan jadi gunjingan orang.


Buruknya masyarakat di muka bumi ini selalu merendahkan perempuan yang tidak menikah di usia dewasa. Dan menganggapnya hina.

__ADS_1


Mereka bukan tidak ingin menikah. Bagaimana jika takdir tidak memberi mereka jodoh. Lalu di mana letak kesalahan wanita dewasa lajang itu sampai mereka di pandang sebelah mata.


Mereka juga sama seperti wanita pada umumnya. Ingin menikah, ingin memiliki pasangan hidup dan anak, memiliki keluarga kecilnya sendiri.


Tanpa masyarakat sadari, wanita yang tidak menikah mengemban beban sendiri karena cara pandang orang orang sekitar.


"Aaaawwwww...." Iqbal yang tidak menyadari bahwa perkataannya sudah menyinggung hati Rani, menarik rambut Rani.


Dan Rani langsung membalasnya dengan melempar ice cream ke wajah Iqbal. Hingga membuat wajah Iqbal belepotan dengan ice cream.


"RANIIIIIII." Teriakan Iqbal menggema di area pantai. Membuat Rani ngicir kabur.


"Ampuuuunnnn." Triak Rani sambil berlari menjauhi Iqbal karena takut Iqbal akan membalasnya.


"Hahahaha. Syukurin." Rani tertawa jahat di sepanjang pantai. tawa penuh kemenangan.


Benar saja Iqbal berlari mengejar Rani dan sesekali mengambil batu pantai dan melempari Rani dengan batu kecil namun meleset, tak satupun mengenai Rani.


"Weeeeekkk nggak kena." Teriak Rani.


Iqbal menambah kecepatannya dan...


"Greb." Kena. Iqbal menyergap dan memeluk Rani dari belakang.


"Deg." Jantung Rani rasanya terlonjak ingin keluar mendapatkan perlakuan seperti ini dari Iqbal. Bagaimana caranya Rani move on kalau Iqbal bersikap seperti ini.


Iqbal membalik tubuh Rani. Mata mereka bertemu saling pandang untuk mengukur debaran apa ini. Apa karena berlarian di pantai, jantung mereka terpompa di luar batas. Untuk Rani, aku Rasa bukan. Tapi untuk Iqbal, entahlah.


Iqbal mengambil Ice cream yang ada di wajahnya dengan jari telunjuknya lalu mentoelkan ice cream itu ke hidung Rani.


"Apakah kau mau makan malam bersamaku besok?..." Tanya Iqbal di barengi dengan nafasnya yang memburu.


"Jika aku tidak mau?" Tanya Rani.


"Kau tau seperti apa aku." Jawab Iqbal.


"Jangan membuat kegaduhan di rumahku." Ujar Rani.


******


Jangan lupa dukung author pake like komentar vote favorit.


selamat menikmati.

__ADS_1


__ADS_2